Postingan

Pada Akhirnya, Aku Membawamu Pulang

Gambar
Pada akhirnya, aku membawamu pulang Setelah berbagai tempat kusinggahi Setelah berupa karakter kutemui Setelah beragam hikayat kucermati
Pada akhirnya, aku membawamu pulang Membawa rasa di antara kita Rasa bersaudara Rasa saling memiliki Rasa bangga, rindu, sedih, obsesi, mimpi
Ya, pada akhirnya, aku membawamu pulang Membawa pelajaran di antara kita Makna pertemuan Makna perpisahan Makna perjalanan panjang, bertahan, menjaga, merelakan

Tempat Transit

Gambar
Nyatanya, beberapa pertemuan harus  terjadi berulang kali agar membuatmu paham. Bahwa untuk mengikhlaskan perpisahan, yang kau butuhkan hanya rasa paham.
***
Pernahkah terpikir? Bahwa hidup seorang anak manusia layaknya tempat-tempat untuk transit saja. Seperti pelabuhannya kapal-kapal, stasiun deretan kereta api, bandara burung-burung besi, pun terminal bus-bus berAC dingin. Tempat transit menghadapkanmu dengan keadaan bahwa akan selalu ada orang-orang baru yang datang, kemudian pergi. Beragam manusia, berjuta karakter. Beberapa di antara mereka begitu baik dan menyenangkan. Pun beberapa lainnya bisa saja tak cocok  denganmu, walau begitu tetap saja kalian harus bertemu,  karena hidup tak melulu tentang rasa yang satu.
Selang waktu berjalan, akan ada orang-orang yang datang di tempat transit yang sama. Menjadikanmu dan dia kerap bertemu, walau tak lama. Di antara mereka, ada yang datang dan—katanya—ingin menemanimu dalam jangka waktu yang tak sebentar, ia memohon izin berdiam di tem…

Kepada Seorang Pria Berjiwa 64 Tahun di Luar Sana

Gambar
Kepada seorang pria berjiwa 64 tahun di luar sana Terimakasih telah mengajarkanku banyak hal Tentang betapa penting memiliki jiwa yang besar Tentang betapa menyenangkan dikelilingi orang-orang yang berharga
Kepada seorang pria berjiwa 64 tahun di luar sana Terimakasih untuk selalu mencoba mengerti Betapa berdiri di lingkarku begitu menguji keraguanmu Betapa menjadi orang di sisiku jadikanmu mengorbankan banyak waktu

Sebuah Cangkir

Gambar
Sebuah cangkir di etalase, telah lama kosong
Seratus hari terlewati, pun secangkir kopi belum lagi tersaji Seorang tuan yang kerap menyeruput di tepinya, telah lama menghilang Bersamanya, turut serta pahit manis kenangan terbawapergi
Sebuah cangkir di etalase, telah lama kosong Seratus hari ternyata begitu cepat, tidak pernah secepat ini Rasa-rasanya, baru kemarin kepulan uap mengambang di atas lingkarnya Rupa-rupanya, praduga secangkir setiap pagi akan untuk selamanya tidak pernah benar-benar selama ‘selamanya’

Enam Belas Tahun Silam

Gambar
Tonight, I try to recall my memories back.
Beberapa waktu yang lalu, seorang teman masa kecil menghubungiku. Bertanya tentang ‘hal konyol’ yang pernah menjadi lelucon kita di masa lampau. Ia percaya bahwa aku masih mengingat hal itu, karena memang benar hanya kami berdualah yang paham, pun sanggup dibuat terbahak tak henti walau orang lain tak akan pernah mengerti. Bahkan sampai sekarang.
Ia menanyakan memori yang terlewat selama… hum, kira-kira 16 tahun silam. Surprisingly, I’m still remember it. And the good news is, we both still laugh so loud when talked about it, again.

Ternyata

Gambar
Ternyata, aku tidak selemah itu. Tidak hanya bisa meratapi diri, ketika kata-kata orang bisa setajam belati. Tidak tersungkur dalam, ketika kaki memijak ranjau yang buram.
Ternyata, aku tidak selemah itu. Selemah yang kupikir, bisa robohkan sederet bangunan mimpi yang tinggi. Selemah yang kukira, mampu patahkan arang yang urung menjadi intan.
Dan, ternyata aku tidak selemah itu. Aku masih berjalan, belum berhenti, walau pelan namun pasti. Aku bisa obati goresan belati, lewati ranjau, menjaga mimpi, pun mengubah arang menjadi intan.
Iya, walau akhirnya aku tahu aku tidak selemah itu. Namun aku juga tahu pasti, tidak akan sekuat yang kumau.






Yogyakarta,

Zulfin Hariani 230720171208