Fospasterz Menjenguk Yuda :')


Usai ujian semester. Tepat, 12 Desember 2011. Kami bergegas menuju RSU Mataram. Merepotkan! Karena sebelumnya kami harus mengisi beberapa data mengenai Ujian Nasional mendatang. Ia menjadikan jadwal keberangkatan tertunda hingga usai Dzuhur.

Kami kompak menggunakan jaket kelas. Huhuhu.. tahu kah? Jaket itu telah lama kami idam-idamkan.. saat mengambilnya beberapa waktu lalu di rumah Ijek, kami riang gembira bukan kepalang. Gurararara

kami berjanji untuk tidak menggunakannya sebelum Class Meeting (CM) tiba. Walau rasa menahan itu sangatlah susah.. melihat kelas-kelas lain lebih awal memamerkan jaket kelasnya.. ah, toh jaket kelas terbaik ada pada kita.. lalalalala

Dan, Yuda adalah Desainer dibalik jaket yang kami banggakan itu. Ia bahkan tidak bisa menggunakannya ketika waktu yang telah kita tetapkan tiba. Namun setidaknya, kami akan datang.. kepadanya dengan jaket putih-hijau ini!

Ada 3 mobil yang kami gunakan. Satu diantaranya adalah mobil sekolah. Dan dua lainnya adalah mobil pribadi Bu Emi dan Ici. Pak Supargiono juga ikut. Namun Bu Yuli tak dapat ikut.. ia adalah guru BP/BK. Maaf, Bu.. udah penuh.. gurararararr
:D

Aku terbawa dengan mobil Ici. Bersama Ananda Ijek, Adinda Mira, Ici tentunya, Tante, Ika, Ena, dan Niar. Oh ya, di depan duduk sepasang suami istri yang super mesra.. kakaknya Ici beserta Istrinya. Wew, di depan kita manggilnya “sayaanggg…”

GURBAK!

yang di bawah 17 tahun harap turun mobil!
Bruakakakakk

Well, perjalanannya cukup seru.. tertawa adalah menu biasa. Nah, masalah lagu yang diputar, kami tidak bisa mengikuti.. lagunya terlalu bagus. Ngga ada yang kami tahu.. ==”
lalalalalala

Kabarnya, Ici sempat salah kostum. Sebelumnya ia mengaku cantik telah mengenakan gamis… wkwk
yaa, aku percaya siy, make upnya itu kan belum dihapus siy.. lalalala

Kami masih sempat-sempatnya esemesan sama Fospasterz yang di bawa hewan besi berkaki roda lain. Iin bertanya tentang buah tangan yang kami bawakan untuk Yuda. Apa?

Berhubung kami juga bingung, mengapa tidak Bu Emi dan Pak Espege naikkan saja nilainya Yuda di rapot? Sepertinya Yuda akan senang sekali! Wkwk

Kami menepi membeli rambutan, Ici ngoper uang hasil patungan itu ke diriku. Ga matching ama penampilan ntar kalo megangnya uang-uang lecek gitu.. huuuuuee ==”

2 kg rambutan untuk Yuda, 2 kg rambutan untuk kami, dan sejaring jeruk-jeruk mini yang seharga 20rb kutawar 19rb yang memacu tawa Ici untuk kami. Yaa.. aku juga bingung, kok waktu itu nawar buahnya cuman seribu yak?
==”
lalalalala

Eh, jatah buah kami lebih banyak daripada buat Yuda! bruakakakakakak
:P
tapi, ngga juga ding! Pasukan hewah besi berkaki roda yang lain juga membeli buah-buahan untuk Yuda kok..
J

Yuda.. ini kami.
Sahabat-sahabatmu..
datang..

Kamarnya berada di lantai dua. Kamar nomer 232 Kenanga. Seketika semua mata menuju pada kami. ‘pasuka jaket dari mana ini?’ begitu barangkali fikir mereka. Dan Adinda menyadari hal itu. Pabila ada orang yang melintas dekat kami, ia pasti berseru, “penelitian!”
bruakakakakak

Naik ke lantai dua. Ah, terlalu banyak anak tangga yang kami lewati! Ada lift siy, tapi khusus untuk pasien tulisannya.. kami kan bisa baca siy..
==”

Sampai juga di bangsal Kenanga. Ada papan putih yang menempel di belokan bawah lampu, terlihat nama Nurhuda Surya P, berada di kamar nomer 232. Aku ingat, itu nomer ujian sekaligus jumlah peserta UAS di SMPku dulu..
ehehe

Entahlah, auranya berbeda.. sendu..

terdapat dua pasien di ruangan itu, hanya berbataskan gorden. Kulihat Fospasterz yang lain tiba lebih awal. Wajah mereka suram.. ==”

“mana yang lain?” tanyaku pada Bubund Pipit.
“masih di bawah.. bu guru lagi beli sesuatuk” jawabnya.

Ada Rina, Vivit, Unik, Ika, dst dst disana, yang cowok masih di bawah.

“mau lihat Yuda?” Tanya Pak Jono, Bapaknya Yuda.
“iya, pak..” jawab kami.
“siapkan mentalnya yaa, dek. Jangan tampakkan ekspresi sedih.. ayoo, lima orang dulu..” kata beliau.

Firasatku mulai lain. Separah itu kah?

Aku tidak mendahului diri. Ku biarkan yang lain dulu untuk maju. Dan, air muka mereka seketika berubah.

Adinda Mira, Iin, dan ijek.. adalah trio sensitive di kelas. Maksudku, walau terlihat tegar, mereka cepat sekali menangis. Yaa.. mereka menangis!

Langsung saja mereka bertiga memisahkan diri. Menangis berpelukan dan saling mengusap air mata. Jangan sampai Yuda mendengar tangis..

Aku siap. Aku pasti kuat. Maka aku maju. Aku masuk ke tirai yang menutupi Yuda disana..
Ya Allah Tuhanku..
aku benar-benar terkejut. dia, temanku sedari TK.. Ini beneran Yuda??

Ia –maaf– ditelanjangi. Bagian pinggang kebawah direntangkan kain oleh petugas disana. Wajahnya yaa Allahku.. hitam-membiru-ungu, bengkak. Pipi kiri hingga leher tampak menyatu. Dadanya bertabur luka bakar merekah.. sungguh hati siapa yang tak bergetar melihatnya.. anak seceria itu!

Aku terpatung, mencoba tersenyum. Ia melihatku. Dan berujar,

“bagaimana filmmu?”

DEGH!
Rasanya seperti tersetrum juga mendengar pertanyaan itu. Dia sedang terbaring lemah! Dan masih memikirkan film kelas??

“ndak usah pikirin itu dulu.. adoo, kamu ini.. sehat dah dulu” jawabku menekan tangis.
“lek.. jangan pikirin itu terus.. wong kamu sehat dululah lek, biar ntar bisa kumpul sama temen-temenmu” seru Bapak Yuda. Lalu aku menyingkirkan diri.. yaa Tuhan..
T_T

Suasana saat itu benar-benar pilu. Ku coba alihkan pandangan pada kolam tampungan air yang dipompa di lantai dasar sana. Katanya Vivit, itu air daur ulang.

Fospasterz yang cowok berdatangan. Suasana semakin dingin. Lalu Bu guru datang pencair suasana, beliau duduk di samping Yuda. Kami turut berkerumun.

“Yuda, tuh lihat. Temen-temennya pada datang.. pake jaket” bu Emi membuka pembicaraan.
“Yuda yang disain jaket ini, bu.. ini dah pertama kali kita pakai bareng-bareng” seru kami.
“hahaha” suasana sedikit rileks.
“wah, gimana kita Class Meeting besok neh!” seru abang. Yaa, karena Yuda adalah salah seorang yang paling kami andalkan di CM. dia serba bisa. Basket, volley, futsal, dan lagi ada perlombaan baru: cepokkan. Sejenis permainan Badminton. Namun, raketnya menggunakan kayu, seperti bet pimpong. Yuda adalah atlet badminton juga. Hhuft
“untuk dua belas ipa satu, class meeting ditiadakan! Udah.. kalian ga usah ikut gituan..” seru bu guru.
“ah, ndak bisa bu!” seru kami serentak.
“kami pasti menang, bu. Pertahankan piala basket putra yang udah 2 tahun kami pegang. Ini untuk Yuda! Kami akan datang kesini bawakan dia piala!” seru Yogi. Kami seketika terbakar semangat..
“iya, ini demi Yuda! Kami pasti bisa menang! Tunggu kami Yud..” seru yang lain.

Aku terharu. Kami benar-benar merasa dekat satu sama yang lain. Kami yakin bisa! Fospast adalah tempat yang tepat untuk piala-piala itu..

Waktu dzuhur tiba. Kami pamit sholat. Di RSU Mataram itu terdapat kakaknya Bubund Pipit.. ia yang menuntun kami menemui Mushola.

Perjalanan ke Mushola, lagi-lagi ku dengar Adinda Mira berseru, “penelitian! penelitian!”
bruakakakakk
ternyata aku masih bisa tertawa
:D

Lagi-lagi dengan anak-anak tangga yang entah mana ibu-ibu tangganya kami lewati..
;p

menuju Mushola.. kami menenangkan diri. Lagi-lagi aku tertawa menengar dering hape Tante yang tak kenal waktu.. pun beberapa Fospasterz yang ternyata ngga lupa bawak bedak. Wuuiih.. persiapan banget rupanya!
bruakakakak

Eh.. malah sempat fotoan..
:D
biar kabur-kabur gitu gambarnya, yang penting eksis^^

masih sempat ajja potoan.. wkwk

ah, yang penting aksis..

dimana ajja bareng Fospasterz ajja :D

merekam jejak-jejak, kan?
:)

ahak hak hak

mantabs!


Kembali menuju bangsal Kenanga untuk berpamitan, sudah sangat sore.. ku dengar lagi, “penelitian! penelitian!”

bruakakakakakk

Well, kami berpamitan. Ada adik-adiknya Yuda disana, Tia dan Rahman, juga teman-teman dari kelas lain. 

Kabarnya, Yuda mencari adik-adiknya.. secara, tiap sore mereka selalu jalan-jalan bareng.

Kami pamit. Turun ke lantai dasar.
“penelitian! penelitian!”

Sembari menunggu mobil Ici, beli es buah dulu. Enak! Mangga, semangka, nangka, nanas, beluleq, cincaw, susu, mutiara, plus parutas es. Ga pake air.. huhu
:'D

Sebelum pulang, kami mampir ke mall dulu. Bukan belanja, tapi jemput istri kakaknya Ici yang emang mbaknya jugak. Ehehe

mereka ngobrolin celana dan baju.. sebagian tidak kumengerti, wew.. orang kaya!
:D

Sempatin makan jugak dulu.. eh, ku pikir harga bakso kita sama. Makanya kuambil yang tampilannya paling unik. Ternyata itu yang special. Harganya lebiy mahal..
lalalalala
==”

Perjalanan pulang terasa panjang. Karena hewan besi beroda itu mengajak kali berkeliling dahulu.. katanya mencari perlengkapan studio. Ena sampai mual. Haha

yang aku tertawai adalah ketika ia mual dan ditawari minum Sprite lalu menolak.

“itu virus HIV” serunya. Aku bingung. “kan sms Ken kemarin yang bilang, ga usah konsumsi minuman sejenis itu dulu.. Sprite lah, Coca-cola, Fanta.. tau ndak? Waktu aku baca sms Ken itu, aku lagi minum Marimas. Ngga tau deh, itu termasuk berbahaya atau ngga.. yaudah, langsung aku buang..” ujarnya
bruakakakakakakakak
aku tertawa terbahakbahakbahakbahak
:D

Kami sampai sekolah pukul setengah sepuluh malam. Kami yang kumaksud adalah aku, Niar, dan Adinda Mira. Motor Adinda masih di sekolah, kami harus mengambilnya. Sekolah sudah sangat sepi. Untung saja ibu penjaga sekolah masih mendengar gedoran kami. Ia membukakan pintu.

Niar harus memberikan data ke Pak Halim malam itu. Kami akan menemaninya. Kost-kostan Adinda Mira sudah tertutup. Ia berencana bermalam di rumah Niar. Dan.. adik Omenku belum juga tiba menjemput!
Ibu penjaga sekolah banyak kami tanyai tentang misteri sekolah ini. Apa benar ada penunggunya? Ia bilang, tidak ada. Ibu penjaga sudah 40 tahun bekerja sebagai penjaga sekolah sehari semalam. Hanya saja, dulu, ia pernah mendengar suara kambing tua. Suaranya berat. Bertepatan di kantin atas. Kejadiannya sebelum kantin itu direnovasi.

Satu yang mengejutkan kami, ketika ibu penjaga bilang,

“itu ada temannya sendirian di kelas, belajar”

Hah? Yang benar saja? Selarut ini?

“dimana, bu?” tanyaku.
“itu.. di ruangan kelas yang lampunya masih menyala” jawabnya. Itu adalah ruang kelas XII IPA 2. Tepat di sebelah ruang kelas kami. Benar saja, lampunya menyala. Kami bertiga mencoba mengintip. Dengan langkah menjinjit, kami saling dorong untuk meminta menjadi yang paling depan.

Tampak seorang cowok.

berjaket hitam.

di bangku paling depan pojok dekat pintu kelas.

Dia siapa?
o,O

Kami memberanikan diri untuk melihat lebih dekat.

cahaya dari LCD laptop di hadapan pemuda itu membantu kami mengenali wajahnya.

RIZKAN!

Astagaaa.. ngapain anak itu malam-malam begini di sekolah? Rumahnya jauh lho.. di Pademara.
dia adalah teman satu perguruan karateku. juga teman sedari SMP. yaa.. dia emang rada aneh siy..
=="

“wooy, Rizkan!” seruku. “ngapain kamu??” sambungku.
tenyata dia bilang “online”. Huuueeee ==”

Niar udah geleng-geleng kepala.

“ikut keh?” ajak Rizkan dengan wajah tanpa dosa.

gurbak!

“sakit lu, Kan! Sakit..” seruku. Kami meninggalkannya.
-__-‘

Ibu penjaga bilang, sudah sebulan dia selalu datang ke sekolah seperti itu. Dan pulang sampai jam 10.
ckckck

Niar mengesemes Pakde Irwan dan Kanikani menggunakan hapeku, agar mereka ke sekolah. Parahnya, mereka berdua mengira yang ngesemes itu aku. “ada apa jek, nek?” katanya. Huh
=="

Ternyata Omen nuggu di gerbang yang salah. Dia sudah datang sedari tadi, huh, salah sendiri ngga bawa hape! Kanikani juga datang. Maka, kami berlima pergi mengantar Niar menuju rumah Pak Halim setelahnya.

Sempat, Niar dan Adinda memaksaku untuk nginap bertiga di rumah Niar. Awalnya aku tak mau. Tapi.. ah, dasar trik menyebalkan itu.. aku terpancing. ==”

Well, kami bertiga pun menginap di rumah Niar. Ricuh.

Dan mulai merangkai mimpi.. untuk rajutan kemenangan di hari esok..


SEMANGAT FOSPAST!!

Komentar

  1. Aduh...... terharu bacanya,,, kalian memang kelas yang kompak, mengerti arti persahabatan.
    salam bwt yuda, moga cpet sembuh...
    SEMANGAT YA YUD...


    **Mbk ken sy ijin copas yea...**

    BalasHapus
  2. :)
    siipp, senpai-kun..
    :)

    domo arigatou yak..
    :D

    BalasHapus

Posting Komentar