Laporan Biologi: Respirasi Hewan


ü  KD                              : Mengetahui fungsi, struktur, gangguan/penyakit pada sistim  
                                    pernapasan manusia dan hewan tertentu.
ü  Landasan Teori           :
Insecta (serangga) bernafas dengan menggunakan tabung udara yang disebut trakea. Udara keluar masuk ke pembuluh trakea melalui lubang-lubang kecil pada eksoskeleton yang disebut stigma atau spirakel. Stigma dilengkapi dengan bulu-bulu untuk menyaring debu. Stigma dapat terbuka dan tertutup karena adanya katup-katup yang diatur oleh otot. Tabung trakea bercabang-cabang ke seluruh tubuh. Cabang terkecil berujung buntu dan berukuran ±0,1 nanometer. Cabang ini disebut trakeolus; beisi udara dan cairan. Oksigen larut dalam cairan ini kemudian berdifusi ke dalam sel-sel di dekatnya.
 Jadi, pada insect, oksigen tidak diedarkan melalui darah, tetapi melalui trakea.
 Mekanisme Pernapasan Insecta :
 Pada belalang misalnya, keluar masuknya udara ke dalam trakea diatur oleh kontraksi otot perut. Ketika otot kendur, volume perut normal dan udara masuk. Ketika otot berkontraksi sehingga udara keluar
Udara masuk melalui empat pasang sigma depan dan keluar melalui enam pasang stigma abdomen. Dengan demikian, udara yang miskin oksigen tidak akan bercampur dengan udara kaya karbon dioksida yang masuk.
Pada jentik-jentik nyamuk yang hidup dalam air, pernapasan dengan trakea berlangsung dengan menjulurkan sebuah tabung pernapasan yang dapat dibuka dan ditutup ke permukaan air.
ü  Tujuan                         :
o   Mengetahui volume O2 yang diperlukan oleh hewan dengan berat tertentu dan waktu tertentu.
o   Mempelajari pernapasan hewan.
o   Melihat faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah kebutuhan oksigen pada hewan pada saat bernapas.

ü  Alat dan bahan            :
o   Repirometer sederhana
Repirometer sederhana


o   Pipa kapiler
o   Pinset
o   Timbangan
o   Kapas
o   Sabun krim
o   Kristal NaOH


Kristal NaOH
o   Eosin
o   belalang
ü  Hari tanggal                : Rabu, 2 Februari 2011
ü  Tempat                       : Laboraturium Biologi SMAN 1 Selong
ü  Langkah kerja             :
o   Memasukkan kristal NaOH dan meletakkan kapas di atasnya ke dalam tabung respirometer sederhana.
o   Lalu memasukan belalang ke dalam botol respirometer.
o   Kemudian mengoleskan sabun krim pada celah penutup tabung
o   Menutup ujung pipa kapiler dengan tangan selama 2 menit
o   Memasukan eosin menggunakan suntikan diujung pipa berskala sebanyak 1 ml.
o   Lalu mengamati pergeseran eosin pada pipa berskala, dan mencatatnya setiap 5 menit sebanyak 4 kali.
ü  Hasil                :
o   Tabel data keseluruhan kelompok :

Kelompok
Berat belalang (gram)
Waktu 5 menit
Jumlah
1
2
3
4
1
0,6
0,52
0,69
0,81
0,9

2
0,2
0,49
0,66
0,77
-

3
0,2
0,52
0,64
0,87
0,91

4
0,2
0,88
-
-
-

5
0,3
0,19
0,25
0,35
0,42

6
0,2
0,71
0,98
-
-

7
0,2
0,3
0,34
-
-

8
0,3
0,72
1
-
-


ü  Pembahasan                      :
o   Faktor-faktor yang mempengaruhi kedudukan eosin/kebutuhan oksigen belalang antara lain :
§  Berat belalang. Berat badan yang berbeda sangat mempengaruhi kebutuhan oksigen yang dibututuhkan belalang untuk bernapas.
§  Kondisi lelah belalang. Faktor ini juga sangat mempengaruhi kedudukan eosin/kebutuhan oksigen belalang. Semakin lelah belalang objek, semakin sulit ia bernapas sehingga gerakan cairan eosinnya menjadi lambat. Lain halnya dengan kondisi lelah belalang yang sedang prima (fit), gerakan eosin akan menjadi lebih cepat.

o   Fungsi Kristal NaOH, yaitu  untuk mengikat Karbon Dioksida yang dihasilkan dalam respirasi Belalang, agar tidak dihirup lagi oleh belalang. Hal itu dibuktikan dengan mencairnya Kristal NaOH setelah praktikum.

Komentar