Kalian Harus Tetap Hidup

assalaamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh

J



Sekarang. Aku benar-benar jauh dari rumah. Segala yang ada di depanku terlihat berbeda. Segala yang harus ku jalani terasa lebih rumit. Tentu, karena aku benar-benar sedang jauh dari rumah, kan? Haha.. dan, tidak ada kedua orang tuaku disini.. huft~

Dimulai dengan pagi. Tak ada yang mengomel seperti yang selalu dilakukan Mamaku. Yang memaksaku bangun karena memang hari akan berganti siang. Tak ada aroma masakan. Tak ada suara televisi. Bahkan tak ada suara Bapakku yang tengah tertawa. Yaa, Tak ada lagi.

Pagiku kini dimulai lebih awal. Mungkin memang benar aku bunglon—cepat menyesuaikan diri dengan sekitar. Aku adalah tipe orang yang sangat patuh pada pemikiranku sendiri. Aku menyusun kegiatan pagi hariku sejak pukul 03.00. itu benar. Disini, aku bangun sepagi itu. Berusaha istikhomah dengan sholat malam dan sholat sunah lainnya. Membaca Al-Qur’an hingga subuh datang. Masjid tepat berada di sebelah kostku. Aku bahkan bisa mendengar tokek berbunyi dalam mimbarnya.

Ah, itu kalau aku sedang tidak berhalangan siy.. kalau halangan? Lolosss~
:D

Usai subuh, aku mulai mencuci—jika ada pakaian kotor. Lalu membersihkan kamar. Dan berjalan mencari sarapan.

Lately, kiriman makanan dari Lombok datang. Aku juga meminjam rice cooker dari Mbak Tami—teman kost sebelah kamar. Sekarang lebih mudah. Hanya membeli beras.

Kamar mandi di sini sempit. Aku tidak nyaman. Sangat berbeda dengan kamar mandi dalam kamar di rumahku. Aku bahkan mandi dengan shower disana. Disini? Aku harus antri.

Untuk sekadar membeli, mendaftar, pergi tes, dan beberapa hal lain. Aku harus berpikir keras dan berulang kali. Lain ceritanya bila di rumah. Membeli tinggal minta. Daftar dan pergi tes pun ada Si Vavaririyoyo (nama motorku), bahkan kurasa aku telah manja dengan segala kemudahan di rumah. Untuk membuat SIM, KTP, SKCK, dan Surat Tanda Sehat sekali pun, aku tak perlu keringat. Bukan sombong, tapi dengan nama Bapakku, itu semua dapat selesai sekejap.

Aku juga teringat Embah, Bibi, dan Adik-adikku (Nini, Omen, dan Khaylila—anak Bibi Ratna yang telah kuanggap adik kandung). Embahku adalah seorang yang luar biasa. Dia tidak akan pernah membiarkanku kelaparan dan menunggu. Begitu juga bibiku, dia tidak akan membiarkanku kebingungan, kami selalu berbagi cerita dan bertukar pikir. Adik-adikku? Mereka adalah monster!

Nini? Tak ada waktu yang kami gunakan untuk berdamai. Kami identik dengan perkelahian. Saling cela. Jambak rambut sampai menangis. Berebut motor. Saling menggunakan barang diam-diam. Dan itu semua berlangsung setiap hari. Anehnya, kami tak pernah menganggap semua itu hal yang serius. Andaikan hal-hal yang aku lakukan dengannya itu kulakukan dengan teman-temanku, kami pasti sudah menjadi musuh bebuyutan. Kabar baiknya, kami selalu terlihat kompak, terlebih di luar rumah. Dia ingin menjadi seorang dokter. Tapi otaknya itu pembisnis. Suka uang. Dia selalu ingin seperti aku. Sekolah di tempat aku sekolah. Dan tentunya keren seperti aku. haha

Omen? Dia adik laki-lakiku yang sama malasnya dengan adik Niniku. Hidupnya seperti tak ada gairah. Terutama jika disuruh belajar, dia pasti akan terlihat seperti udang yang sedang sakaratul maut. Haha. Kegiatan non akademiknya di atas rata-rata. Dia adalah tipe siswa yang lebih mementingkan organisasi ketimbang belajar. Aku pusing menasihatinya. Tapi tak dapat dielakkan, dia memang jago di bidang yang dia sukai. Tennis, ngedance, OSIS. Yayaya. Dia berbeda dengan Nini. Tidak ingin mengikuti jejakku. Selalu memilih sekolah yang berbeda denganku. Walau tak dapat dipungkiri, dia memang selalu berkiblat denganku. Dia lebih suka berbelanja denganku daripada bersama Mama. Selera kami sama. Haha. Untuk film pun selera kami sama. Terkadang dia terasa sebagai seorang kakak. Selalu menjagaku. Huh, tapi itu terkadang banget!

Khaylila? Dia lahir Senin 2 April 2012 yang lalu. Aku belajar banyak hal baru dari dia. Menjaga bayi di Neonatus. Menggendong bayi. Mengganti lampin. Dan segala hal yang seorang ibu lakukan pada bayinya—kecuali memberi ASI. Haha. Dia benar-benar bayi pertama yang aku rawat sedemikian rupa. Aku hapal kebiasaannya. Kesukaannya. Aku sangat menyayanginya.

Mama, Bapak, Bibi, dan Embahku? Adalah pahlawan super. Mereka adalah orang-orang yang sangat berjasa dalam hidupku. Mereka memudahkan hidupku. Mereka yang selalu pertama peduli dengan apapun yang menimpaku. Mereka yang pertama menitikkan air mata ketika aku sakit ataupun pergi ke tempat ini. Mereka selalu mendoakanku—aku tahu itu. Mereka banyak berharap padaku tentang masa depan. Walau kadang mereka berempat tak rukun, kasih mereka padaku tak pernah tersumbat.

Hhmm..

Aku juga teringat pada seseorang..

Dia yang menemukan segala yang ada padaku sekarang. Mungkin dia telah melupakanku. Atau jika tidak, ingatanku tentang dia pasti lebih kuat mengenai hal ini.

J

Namanya Mbak Wiwik. Aku memanggilnya Mbak Ewik. Dia guru les Bahasa Inggrisku sejak kelas 3 SD. Dia seorang wanita yang penuh rasa ikhlas. Suaranya serak basah. Wajahnya penuh kharisma.

Aku tak akan lupa, hari itu ketika tengah les. Ia berkata setelah memeriksa tugasku—mengenai surat pribadi,

“Fin, kamu punya bakat menulis! Mbak ewik sudah duga ini dari awal.. di antara yang lain, suratmu yang paling bagus”

Aku memang sering mendengarnya berkata demikian. Tapi.. Hellow? Aku masih kelas 3 SD saat itu. Kurasa terlalu berlebihan. Walau aku masih kelas 3 SD, aku tak sepolos teman-teman seusiaku. Aku tahu itu sanjungan penyemangat.

Tapi dia selalu berkata begitu. Menyuruhku menulis untuk mengisi waktu. Bahkan dia datang ke rumah untuk membicarakan hal itu pada Mamaku.

Pernah suatu sore, kami tak les seperti biasa. Dia membuat acara. Sejenis perlombaan kecil-kecilan. Peserta lombanya adalah seluruh murid les. Ada beberapa yang lebih tua dariku di sana.

Mbak Ewik meminta kami untuk menulis cerpen bebas. Yang menang akan mendapatkan hadiah. Hadiah yang sangat menarik. Berasal dari Negara Canada. Ada buku, taplak meja (gambarnya peta Canada), penghapus, pensil, pulpen, stiker, dll.

Mbak Ewik punya banyak kenalan dari Canada. Kadang mereka datang ke tempat les kami untuk memberikan oleh-oleh atau sekadar berfoto dengan kami. Kami berbicara sebisanya dengan mereka. Bahasa Inggris pas-pasan.

Hal itu terjadi. Aku menjadi juaranya. Teman-teman yang lain melihatku. Aku hanya diam. Aku mendapatkan hadiah buku—yang kini entah dimana, seingatku buku itu aku pinjamkan pada seorang kakak di SPK (Sekolah Perawatan Kesehatan). Mbak Ewik sempat mengajar di sana, dan kami murid-murid pilihannya diajak bernyanyi menggunakan bahasa inggris di depan mereka. Melatih mental katanya.

Setelahnya, aku sadar. Aku harus mencoba untuk menulis. Maka, aku membeli buku diary. Dan mulai menulis. Menulis apapun dimana pun.

Dan itu berlangsung hingga kini.

Mbak Ewik adalah sosok yang penuh inspirasi. Dia selalu membesarkan hatiku. Dia ramah pada semua orang. Lembut. Dan entah mengapa belum menikah hingga kini. Dia suka tulisanku, walau orang lain tidak menyukainya, dia benar-benar menemukanku.

SMP, aku mulai merancang novel. Ada beberapa dan ku print. Ternyata teman-temanku juga suka. Aku mulai menulis cerpen, hingga bertemu dengan Randy, si Anak Baru yang sangat pandai membuat komik waktu kelas 2 SMP, dan akhirnya menjadikan cerpenku komik.

Aku berhenti les di Mbak Ewik ketika SMA. Kesibukan SMA benar-benar menjadi jarak antara kita. Aku sempat beberapa kali bertemu dengannya, dia tetap ramah menyapaku. Aku juga pernah melewati rumahnya di sore hari, ku dengar banyak anak SD hingga SMP les di tempatnya. Gaduh—seperti kami dulu. Aku mendengar suara Mbak Ewik lagi.. Huft.. sudah lama sekali ternyata.. aku berpikir, mungkin ada satu di antara mereka nanti akan merasakan dan mengalami hal yang sama sepertiku.

 Hingga akhirnya aku tak pernah menulis lagi. Dan terciptanya Blog ini semata-mata karena mengingat dia.

“ada seorang yang tak di kenal, setiap malam ia menulis pada buku diarynya. Dia tidak pernah berpikir untuk menerbitkan tulisan itu. Tak pernah berharap orang lain menyukai tulisannya. Ia benar-benar menulis segala hal yang terjadi pada dirinya. Dan tahu kah? Diary orang itu menjadi harta yang sangat berharga dalam sejarah dunia pada suatu hari nanti”

“siapa dia, Mbak?”

“jika kau sudah dewasa nanti, kau akan mengetahui siapa dia.. sungguh. Karena setiap orang akan membicarakannya”

Percakapan itu tak akan ku lupa. Karena aku benar-benar ingin tahu siapa orang yang dimaksud Mbak Ewik saat itu. Ah, sampai-sampai hanya orang dewasa sajakah yang membicarakannya? Itu sebabnya aku harus menjadi dewasa dulu? Huft..

Dan, kalian..

Yang aku tuliskan..

Harus tetap hidup!

Hingga waktuku tiba untuk menunjukkan siapa aku sebenarnya nanti. Aku bisa menjadi seseorang yang hebat. Kalian adalah orang-orang yang beruntung karena aku merasa beruntung mengenal kalian dan olehnya aku sangat menyayangi kalian. Ini terdengar rumit. Singkatnya, teruslah hidup.. aku mau kalian melihatku menjadi seorang yang sukses suatu hari nanti. Dengan kalian menjadi bagian dari motivasiku, aku akan memperkenalkan kalian pada dunia. Jangan coba-coba pergi dulu.. kalian harus tetap hidup!

Tunggu aku.


wassalam


Komentar

Posting Komentar