SNMPTN Pertama dan (semoga) Terakhir dalam Hidupku


Assalamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh
J

Hai, lama tak bersua. Kangen?
Haha

Sudah dengar kabar aku membeli beras di Jogja Berhati Nyaman? Ya, sekarang aku menetap di sana. Eh, maksudku Insya Allah akan menetap di sini.
#abaikan

Tujuan utama aku ke Yogyakarta (yang entah mengapa menjadi ‘Jogja’ bukan ‘Yogya’) tak lain dan pasti bukan untuk sekadar ngerasain yang namanya naik pesawat. Haha. Aku ada SNMPTN Tulis (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri), tapi untuk alasan “buru-buru”nya, karena 4 hari lagi terhitung setelah keberangkatanku, registrasi di UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) berakhir. Sebelumnya, aku memang sudah pra-registrasi disana—melalui sekolah. Sebagai pegangan dan jaga-jaga kalau-kalau terjadi apa-apa yang bagaimana-mana nanti-nantinya.

Bruakakakak
:D

Aku ambil Ilmu komunikasi disana. Fakultas ISIPOL. Kata orang-orang, kebanyakan dari anak FISIPOL itu cantik-cantik (buat cewek) dan sangat menjaga penampilan. Karena point itu memang berpengaruh banyak untuk bidang mereka, secara, maenannya kamera dan layar-layar semua.. haduh.. nah, aku??

Ehem, my Mom said, “kalau jadi di UMY, Fin langganan saloon ajja yaa”. Nah lho, uda mulai meragukan..
=="

Gimana ya? Aku itu sebenernya, paling cuek sama yang namanya penampilan. Pakai bedak ajja sekali sehari, pas ke sekolah ajja. Itu juga pas masih sekolah. Kalau liburan kayak gini??

Lalalalalalalala

Yaa, mungkin aku memang seharusnya berubah. Menjadi lebih.. hmm.. memperhatikan penampilan? Menenpelkan banyak bahan kimia di epidermisku? Astaga.. jurusan macam apa itu!
==”

Lho, kok jadi malah cerita yang UMY?
#lirik judul

Well, langsung ke kisah 2 hari yang ‘keren’ itu yak?
:D
(seharusnya dari tadi! ==”)

Eh, dari H2-1 juga deh yayaya? :D
(haduuhh, pake nawar-nawar lagi! Orang keren macam apa aku ini?!)

Itu lho, hari dimana aku, Ria, dan kak Haris nyurvei ruang ujian. Lokasi ujianku berada di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, ruang 384. Itu ada di Jalan Flora nomor 01 Bulaksumur, Yogyakarta (nyontek di kartu ujian #ga hapal). Baru nyampai parkiran, dapat teman baru. Namanya Sigit. Anak Palembang, Sumatera. Kami bertiga, dia sendiri. Yang nyapa dia duluan siy, langsung PDKT sama kak Haris dia, sama-sama cowok ceritanya.

Ruanganku berada di lantai 3. Itu naiknya pake tangga. Jalannya pake kaki. Capek! Seandainya aku sarapan pake roti Abadi kayak yang dijual bibi kantin di SMAN 1 Selong tercinta, untuk sekedar naik-turun tangga ajja, energiku pasti udah habis! (halah).

Kemudian kami mencari ruangan si Sigit. Di lantai pertama ternyata. Dan untuk nyari ruangan itu ajja susahnya minta bakpao isi cokelat! Sampe tersesat di kamar mandi kita. Haha. Ini bercanda yang serius.

Lama muter-muter, akhirnya kami memutuskan untuk hengkang dari tampat itu, (ckckck, bahasa macam apa ini, Fin?). kami menuju tempat tes Ria kelak. Di Fakultas Kedokteran Gigi UGM. Sigit ikut.

Waktu keluar melewati satpam, kami ditahan. Karena saat masuk tadi tidak mengambil KIK (aKu lupa artI singKatan ini). Jadi, harus nunjukin STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan, #yess!! Masih ingat!). Nah lho, jadi gini.. kami membawa motor 2 dari kosan, rencana awal, aku dan Ria akan diantar oleh kak Haris dan Kak Yayan—teman kak Haris dan telah menjadi temanku juga. Namun dia sedang ada praktek gitu di kampusnya.

Ketimbang lama nunggu, kami putuskan untuk pergi bertiga. Kak Haris meminjam motor matic di teman kosnya—aku hanya bisa naik motor gituan. Tersebab juga aku punya SIM dan Ria tidak, maka aku yang jadi depan. Sialnya, STNK motor itu entah berantah tempat bersemayamnya.

“mana esteenkanya, dek?” Tanya pak Satpam padaku
“hhmm..” aku bingung mau bilang apa. Lantas melemparkan pandang pada Kak Haris. Maka, Kak Haris pun angkat bicara.
“maaf, Pak.. motor yang itu esteenkanya ketinggalan di rumah..” tukasnya. Aku dan Ria hanya tersenyum pahit. Sedang Sigit terlihat mengerutkan alisnya.
“lain kali dibawa yaa, dek.. yaudah” jawab pak Satpam. Wah, dia baik hati sekali. Kami doakan semoga gaji bapak naik deh.. huhu

#Percakapan tidak penting

Tak jauh dari tempatku, kami tiba di fakultas kedokteran UGM.

Ciri khasnya jalan lingkungan UGM itu, ga pake aspal. Beneran. Mereka menggunakan semacam balok-balok beton kecil yang disusun sedemikian rupa untuk menutupi jalan. Disini, aku kagum dengan kak Haris. Dia benar-benar hapal seluk-beluk jalan di Jogja—sejauh ini. Yaa, bahkan untuk melihat lokasi ujian di Fakultas Kedokteran Gigi itu saja, kami harus memarkir motor di dalam kosan gang sempit dan melewati kebun angker (lebay) yang ternyata berujung dengan jalan yang sedang direnovasi. Haduh, maafkan kami yaa bapak pengurus jalan. Ini salah kak Haris.

Dari kosan dalam gang sempit berimej angker itu, kami harus memfungsikan sendi engsel pada belakang lutut, sendi putar pada kaki, dan membakar banyak kalori dalam tubuh. Singkatnya: jalan kaki.

Lumayan jauh. Tapi tak terasa dengan guyonan nyaris garing kami. Astaga.. si Sigit itu ternyata suka debat juga. Aku paling berkobar kalo udah membahas gander deh.

“kamu kan cewek, kok sekolahnya jauh amat?” Tanya Sigit.
“kamu kan cowok, kok sekolahnya jauh amat?” jawabku santai.
“lha, aku kan cowok!” sergahnya.
“emangnya kenapa kalo aku cewek?!” sergahku.
“yaa, ngga biasa ajja. Apalagi disini kamu ngga ada sodara” tukasnya.
“biasa ajja kok. Aku punya banyak teman dan calon teman disini. Itu juga rasanya lebih dari sodara” jawabku.
“bener juga siy, kayaknya mending gitu. Gara-gara aku ada sodara disini dan ngga ngekos, aku jadi ga punya banyak teman” jawabnya. Aku manggut-manggut.
“yaa, kalo emang mau punya banyak teman kan.. tinggal ngobrol ajja. Haha” timpalku.
“kok kamu sekolahnya jauh? Aku nanya serius lho” tanyanya lagi.
“kamu juga, kok sekolahnya jauh? Di sumatera ga ada pe.te.en apa? Haha” gurauku, dia cemberut. Kulanjutkan, “emang uda niat dari dulu. Pengen jauh dari ortu. Pengen mandiri. Pengen tau dunia luar. Pengen punya pengalaman seabrek!”
“owh.. sama dong. Hehe” dia cengengesan.

GURBAK

Dan, tibalah kami di FKG UGM. Ada tamannya di depan. Ternyata, kami narsis juga. Sialnya, fotoannya bukan pake hapekuh!

Lagi-lagi harus menerapkan ajaran Pak Kamar dalam materi Kelincahan. Yaa, kami harus naik-turun tangga. Jadi keinget deh waktu di UMY. Aku, Senpai Vin, Senpai Ela (teman baru) naik lift. Aih, keren kan?
#ndeso

Lama berkeliling. Kami memutuskan untuk kembali—dan makan.

Kebanyakan warung makan yang aku singgahi, menerapkan system ‘agik sendiri’ (baca: ambil sesuai selera). Itu nasinya ambil sendiri. Lauknya juga, tapi sesuaikan dengan isi dompet lah. Semisal, telur dadar itu (menurut pengalaman) berkisar antara 1500,- sampai 2000,- rupiah. Ikan laut 2000,- sampai 3000,- rupiah. Jadi, aku ambil tumis kangkung saja. Ikan laut saja. Hati ayam saja. Minumnya es teh saja.
#aaa?

Kami makan. Ngobrol. Lalu kenyang.
==”

Aku bayarnya Rp 9.500,- kebetulan banyak receh di dompetku. Haha. Yaa, walau itu berimbas pada durasinya. Aku lama ngeluarin uang dari dompet.

Lalalalalalala

“udah dibayar sama mas yang itu, Mbak” jawab bibi dagang padaku ketika menyetor uang.
“mas yang mana?” tanyaku. Langsung menangkap senyum aneh si Sigit tepat di belakangku. Hadoh, apa-apaan ini? Baru beberapa jam kenalan udah dibayarin?
“gapapa, Fin.. biar sekalian” tukasnya.
“eh, ga usah! Beneran! Ini uang saia, Bi.. ambil ajja sisanya. Kembaliin uang mas ini yaa” serobotku. Lalu ngacir.
“sialan” umpat Sigit. Haha

Bibi itu aku kasi lima lembar duaribuan. Sok bilang ambil sisanya banget deh aku. Padahal cuman limaratus rupiah. Bruakakakak
:D

Sempat ada adegan helm tertukar di kosan tempat kami menitip parkir motor. Antara helm Sigit dan helm pinjamanku. Dia bilang, helm yang harum itu pasti punya dia. Hedeh. Padahal baunya sama ajja.
==”

Dan kami meluncur pulang..

~selesai~

#lirik judul lagi
#tepok jidat!

Astaga.. aku bahkan belum masuk pada cerita inti?
O,o

Oke..oke.. sabar pemirsa!

*krikkk kriiikk kriikkk kriikkk*

#cricket’s voice (pemirsanya dimana?)

Hari itu, tepat tanggal 12 bulan Juni tahun 2012. Malam sebelumnya, aku dan Ria menginap di kontrakan kak Lia—sepupu Ria. Karena jaraknya lebih dekat dengan lokasi ujian kami. Kontrakannya berisi cewek-cewek bidan UNRYO (Universitas Respati Yogyakarta) dan berasal dari Lombok juga. Mereka ramah. Ada kak Nis yang seksi, kak Yeyen yang gokil abis—aku sangat cepat akrab dengan yang satu ini, dia sampai cerita tentang cowok yang ternyata masih dirahasiakan dengan teman-temannya di kontrakan itu.

Kami juga sempat mencari makanan berdua dan bercerita ini-itu. Ah, aku sampai cerita tentang SEKEJAP! juga padanya. Haha.

Benar saja, pagi sebelum berangkat itu. Kami sarapan pakai roti. Bruakakak. Aku sudah membahasnya jauh di atas kan?

Hari pertama, Ria yang menjadi depan. Motornya ngga matic soalnya. Dia menggunakan SIM (Surat Izin Mengemudi) milik Kak Lia. Bisa? Bisa dong.. foto Kak Lia kan buram disana.. kak Lia yang hendak berangkat kuliah juga, menjadi penunjuk jalan bagi kami. Kami tinggal membuntuti dia saja.

Lalalala

Kami telat.
Keren, kan?
#aarghh!

Oh Jogja, sepagi itu kau sudah mengumpulkan massa pengagum lampu lalu lintas?!

Kami berangkat pukul setengah tujuh pagi. Tesnya pukul setengah delapan pagi itu juga. Dan kami kerapkali diperdaya oleh lampu bulat berwarna merah yang memunculkan angka puluhan di dekatnya, berganti..  menjadi hijau untuk beberapa saat. Kemudian merah lagi. WOW

Kabar buruknya, kami sempat kesasar. Tujuannya lokasi ujianku—FTP UGM. Bisa? Bisa banget! Kemarin nyurvei lokasinya kan bareng Kak Haris, bukan Kak Lia.

Setelah mewawancarai banyak orang tak dikenal—bahkan kami tidak menanyakan nama mereka ketika bertanya tempat. Akhirnya lokasi sakral itu kami temukan. Lantas, aku berlari! Hosh hosh hosh

Kabar baiknya, kami belum masuk. Hufh..

Beberapa waktu yang singkat itu, aku mendapatkan dua teman baru. Namanya Anne dari Tasikmalaya, dan Prisa dari Jogja. Bukan sekadar ngobol. Kami ngakak dan sampai tukeran nope. Ga peduli perut kruyukan.

Beberapa esemes penyemangat ku baca sebelum memasuki ruang ujian. Mak, Pak, Bik, Kak, batur-batur, I’ll do my best!
:D

TPA (Tes Potensial Akademik). Aku kehabisan waktu!

Argh! Padahal aku yakin bisa menjawab itu semua—entah jawabannya benar atau salah. Lagipula, tempat dudukku strategis. Di bawah AC (Air Conditioner), adem. (ada hubungannya? Ada! Kan enak..). aku duduk di sebelah kiri kedua dari belakang. Satu deret bangku berisi 3 nyawa. Kulirik nama makluk di sebelahku—pada kartu ujian yang menempel di atas mejanya. Hah? David? Aku ternganga.. alasan kecil diotakku meruntuhkan niat menyapanya. Dia sempat meminjam rautan pensil padaku sih. Aku kasi tanpa sepatah kata. Keren kan?

Lalalalala

Ada hal yang mengganggu konsentrasiku. Tentang cowok super PeDe. Yang duduk tepat di depanku. Gayanya staylist. Kulitnya putih. Tapi, bukan.. bukan karena gaya dan kulitnya. Itu lho.. pada kerah kemeja yang dia gunakan. Di bagian belakangnya menyangkut peniti super besar. Aku tau ukuran-ukuran peniti. Dari yang paling kecil hingga paling besar. Aku sering membelinya di kios dekat rumah di Lombok. Aku tau itu peniti dengan ukuran paling besar. Itu peniti yang sering digunakan embahku mengaitkan bawang putih di lempot Khaylila ketika kuajak jalan-jalan.

Apa itu trend terbaru? Ah, jika aku tegur, dia pasti malu setengah matang.
Bruakakakakak
:D

Ku putuskan tidak memberitahunya. Biarkan sajalah..  bruakakakak

Hari itu, tes kami adalah TPA dan pengetahuan dasar. Matematika dasar, Bahasa Indonesia Dasar, dan Bahasa Inggris Dasar. Yaah, dasarr!!

Aku pernah cerita tentang kopdar? Yaa kopi darat. Adalah istilah untuk ‘ketemuan’ dengan sahabat dunia maya. Aku ada teman di Jogja, namanya Sekar Asri Rarasati. Aku berhasil kopdar dengan memberikan alamat kost yang sukses membuatnya tersesat dan menungguku lama karena sedang berbelanja. Haha. Dia benar-benar gila! Kali pertama bertemu, kami langsung ngakak seperti di pesbuk dan esemes. Lanjut pada pertemuan berikutnya kami makan bakso bareng, ke kantor pos bareng, dan belajar bareng. Dia anak SMK dan ikut SNMPTN juga, ambil jurusan IPA, dan terus memaki Fisika, Matematika, juga Kimia.

Singkatnya, dia mengesemesku di sela istirahat. Itu tentang meminta doa, keterasingan, dan mental menghadapi MIPA. Haha

Bel berbunyi, kami masuk ruangan. 6 orang pengawas bergegas lagi dalam ruangan. Ada seorang pengawas yang selalu memantauku. Awalnya, kupikir itu hanya perasaanku saja. Tapi ternyata, dia memang benar-benar memantauku, hal itu berlanjut hingga tes hari kedua. Haduh, apa aku semenarik itu untuk diamati dan diajak bicara?

Tes hari pertama selesai. Aku tinggal menunggu jemputan. Lama dan—lapar juga. Kuamati banyak orang membagikan brosur mengenai PTN, PTS, dan tempat Bimbel di parkiran sana. Haduh

Aku lapar. Beneran. Aku berharap ada ibu kopsis sekolahku lewat menjajakan gorengannya yang selalu aku rindukan. Dan ternyata ada. Tapi rencana membelinya buyar ketika aku sadar tak ada pecahan selain limapuluh ribuan di dompetku, saranku untuk siapa saja, ketika kau pergi ke suatu tempat, bawalah recehan. Itu kelak bermanfaat saat memarkir motor ataupun ketika lapar mendadak.

Untungnya, aku dapat teman baru lagi. Namanya…ah, aku lupa! Dia anak Kebumen—kalau tidak salah. Aku ketemu di halte. Ngomong banyak dan berujung curhat kelaparanku. Ajaibnya, dia punya roti di dalam tasnya. Horeee!

Alhamdulillah.. terimakasih gadis roti cokelat. Walau aku lupa siapa namamu, tapi aku tidak akan melupakan lezatnya rotimu hari itu, eh.. melupakanmu.
:D

Jemputan datang-pulang-macet-sampai-belajar-makan-sholat-ngopy film & lagu dari laptop nonstop kak Yeyen-tidur-mandi-tes hari kedua.

Hari Rabu tanggal 13 Juni tahun 2012. Kami berangkat lebih awal. Ada motor matic, aku jadi depan. Dan tidak sarapan.

Kami datang sangat awal.
keren kan?

Benar-benar sepi. Aku adalah makluk keren pertama yang memasuki gedung itu. Hari itu, ujian dimulai 07.45 AM. Aku tiba sebelum jam 07.00 AM. WOW

Lama menunggu. Akhirnya dapat teman baru lagi. Namanya Hani. Aku curiga sejak awal dia memang ingin berkenalan denganku. Wajahnya tak asing, sedari kemarin memperhatikanku dan terus tersenyum. Dia pikir aku tidak tahu? Haha. Atau terbalik ya? Aku yang selalu memperhatikannya dan tersenyum, juga ingin berkenalan? Ah, pasti gagasan pertamaku yang paling benar.
Lalalalalala

Dia anak yang pintar. Asli Jogja. Bukunya tebal. Ambil jurusan Kedokteran dan Matematika. Horror banget dah.

Lama ngobrol, eh dia malah belajar.. aku ketemu Anne lagi. Yaa ngobrol lagi sampai bel bunyi. Lalu masuk ruangan.

Hani satu ruangan denganku. Anne di ruangan sebelah. Aku melihat cowok di depanku lagi. Membuatku ngikik sendiri karena peniti itu sekarang tak ada. Jadi, bukan trend kan? Dan gelagatnya aneh setiap melihatku. Bruakakakak.. dia pasti sadar bahwa mataku masih sehat untuk sekadar melihat peniti super besar kemarin pada kerah belakang kemejanya.

Tes hari kedua ini benar-benar menakjubkan. Aku menjawab semuanya. Tanpa mengosongkan satupun. Itu tes kemampuan IPA. Dan aku mengharap mukjizat dari Allah Subhanahuwata’alla. Semoga nilaiku tidak minus. Karena jika benar +4, salah -1, kosong 0. Sebenarnya, lebih baik dikosongkan.

aku di hari ke-2 tes, sebelum berangkat


Hari itu aku membawa motor. Jadi, dapat kartu parkiran. Nih:

dokumentasi

Namun, tetap saja tak tahu arah jalan pulanggg.. aku tanpamu butiran debuu.. huwoo wooo wooo hoo (Rumor-Butiran Debu)

Jadi, aku menunggu Kak Lia. Ria mengesemesku. Memberikan petunjuk menuju lokasi ujiannya.

“kluar ri prkiran blk knan, truz d’prtgaan blok knan, da age prtgaan blok kiri, nte da jln stu arah blk kiri, truz blk knan, trus dh blok kri, nte xebrang k’jln stu arah blk knan, truz dh stlh tow hdep knan_ ktmu dh_”

Tapi aku ngga ngerti dan ga mau ambil resiko. Haha

Kak Lia datang. Mengantarku bertemu Ria. Lalu ia kembali ke kampus.

Tibalah waktunya aku dan Ria bertualang mencari jalan pulang. Oh, aku benar-benar benci tersesat! Dan sialnya, itu terjadi..

Kami salah arah. Belok kiri lebih awal dari seharusnya.

“ini dimana??”

Pom bensin yang kujadikan tanda waktu belok kiri yang tepat, sekejap hilang.

“mana pom bensinnya??”

Ria ingat ada warnet di sekitar gang masuk kontrakan itu. Tapi itu akan ada setelah belok kiri dekat pom!

GURBAKK

Udah kayak terijo (nama ikan asin), akhirnya kami menemukan pom bensin itu. Entah siapa yang memindahkannya sebelum itu..

Well, kami sampai kontrakan dengan selamat—juga kering. Dan siap kembali ke kosan asal magrib itu bersama Kak Lia juga Kak Teguh—pacar Kak Lia yang super cuek dan aneh. Oops. Dia gengsian dan lucu juga sih sebenernya.

Sip. Sekian dulu cerita mengenai Jogja kali ini. Wah, lagi-lagi menjadi sepanjang ini.. maafkan aku!

Lalalalalalala

wassalam

Komentar

  1. seruuu ken ^^
    'keberuntungan' itu ternyata masiyh ada! :D

    BalasHapus
  2. haha, bukan eken keciLku itu kaLo ngga eskaesde ma orang baru, bruakakak :D

    bdw, jahat sekaLi Lupa nama orang yang ngasiy roti itu.. huuueeee

    BalasHapus
  3. aih, Perhatikan Disya berkunjung :D

    iyah, wah Dewi Fortuna betah sama saia..
    lalala

    eskaesde itu perlu.. :D

    ehh, saia malah lupa mukak-mukak mereka itu.. cuman inget mukaknya Anne, soalnya uda berteman jugak siy di pesbuk..
    o,O

    BalasHapus

Posting Komentar