Keyword: Aku. Sembilan Belas. Keren. Terimakasih!


Assalaamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh
J

Wah, sembilan belas tahun? Keren!
J

Cukup banyak angka. Rasanya malah masih tujuh belas saja. Haha

Dan lagi, jatuh pada bulan Ramadhan. Wow, berkah berturut-turut sejak tahun lalu. Aku patut bersyukur atas segalanya. Ah, tentu saja! Aku kan keren! :p

Seperti yang sudah ku duga. Suasananya pasti sangat berbeda. Entah karena seharusnya ataupun beberapa hal yang memang bukan kendaliku.

Dimulai dengan si bulan Juli, yang entah kapan selalu membuatku “menjadi aneh”. Beberapa orang menyebutnya galau. Aku menyebutnya galau-gulai-gulali. Itu mengenai beberapa ingatan di tahun-tahun sebelumnya—yang kok bisa? selalu jatuh pada bulan itu. Aku berusaha menikmatinya. Aku yakin Juli tahun ini galau-gulai-gulaliku yang terakhir. Tentu aku akan baik-baik saja. Ah, aku kan keren.

Itu berimbas hingga awal Agustus. Terlebih rasanya benar-benar sepi. Jika ada keramaian, aku rasa itu karena ulahku sendiri. Dan jika menjadi benar-benar sepi, aku bahkan malas menulis. Haha. Olehnya aku berpikir, jika hal itu berlanjut terus, kadar kekerenanku bisa saja menyurut. Dan aku tak akan membiarkannya. Kebodohan ini harus segera diakhiri.

Sebelumnya pada tujuh belasku lalu, aku berpikir bahwa perayaan yang kami sebut ‘buber’ alias Buka Bersama akan sampai disitu saja, kemungkinan pada tahun selanjutnya kecil. Dan tersebabnyalah aku sadar, terkadang, berpikir terlampau jauh itu tak baik. Haha. Apalagi sampai sedih-sedihan begitu sebelumnya. Aku merasa tak perlu mengatakan ‘terakhir’ pada suatu hal yang masih memiliki kemungkinan ‘berlanjut’ kapan saja. Itu artinya, buber bisa terjadi kapan saja. Iya tahun ini, dan sangat mungkin tahun-tahun selanjutnya. Insya Allah.

Dan memang ternyata benar-benar sepi. Haha. Beberapa esemes yang ku dapatkan meminta permakluman atas kealpaan mereka di hari H itu. Hari H yang ku maksud adalah Malam Ahad kemarin. Itu memang masih tanggal 11 Agustus. Walau kerap kutanyakan ulang pada kedua orang tuaku atas jadwal tersebut—yang seharusnya malam Senin, untuk dilaksanakan sesuai jadwal. Jawab mereka hanya, “Bapakmu tidak di rumah pada malam itu, Fin.. sedangkan ia ingin melihat senyummu bersama teman-teman dalam perayaan itu”. Dan pilihanku hanya patuh, aku yang harus menyesuaikan.

Dari alasan konyol “tidak kuat dingin”, “ga ada motor”, “ga ada tebengan”, hingga “ga dikasi izin ortu”, “ada training”, “ada buber di tempat lain”, “menghadiri buber PMR/Pramuka/kelas”, “mengurus registrasi perguruan tinggi” dan “sedang dalam luar daerah”. Mengisi penuh hapeku. Jika aku berhak memaksa, mungkin aku akan memaksa habis-habisan. Aku ingin mereka semua datang! Yaa, hanya sekadar datang. Tapi, yaa apa boleh buat?

Maka, aku sangat mengapresiasi dan bersyukur pada mereka yang begitu berjuang untuk datang pun mengingat hal kecil ini. Haha. Walau ‘keras’, sebenarnya aku itu mudah tersentuh. Hal yang paling menyebalkan adalah ketika orang lain dapat melihatku menangis. Haha. Lupakan!


Ada yang dari jauh-jauh hari mengingatkan semua orang tentang 12 Agustus itu. Ada juga malah yang sudah mengucapkan dari jauh-jauh hari—itu bahkan masih bulan Juli lho!. Ada yang memberikanku hadiah dari kreasi tangan mereka sendiri, ah.. itu sangat mengharukan, kreatif! Ada yang selalu ingat, dan menuliskan catatan untukku. Haduh, yang ini bener-bener bikin cengeng! (bisa lihat di sini dan di sini). Ada yang bela-belain datang walau habis sedari Mataram, ngebut dari tempat jauh, harus bolak-balik menempuh jarak sejauh itu. Datang walau terlambat. Dan ada juga yang tak ingat sama sekali tentang 12 Agustus itu, berulang minta maaf, lalu kembali lagi ke rumah sembari membawa sebuah jilbab paris kuning—yang harganya masih merekat jelas, dan terpisah dengan kertas kadonya. Mungkin ia memintaku untuk membungkus hadiahku sendiri. Ah, aku tertawa haru ;)

hitamputih kita, usai buka

hitamputih kita, juga

hitamputih kita, :)

hitamputih kita, makan

dari Mbak Ijeck. dengan penuh pengertian juga kisah :p

dari mbak Ika, rajutan! wow

dari Niar dan Rei-sebelum

pinguin dari Niar :D
dari Adinda Mira, disuruh bungkus sendiri :p

tas dari Rei :))
                         
Anak –anak Fospast, terimakasih untuk semuanya. Kalian selalu tahu cara terbaik membuatku tertawa. Dan tentu sangat tahu bagaimana caranya membuatku basah malam-malam begitu! Ckck. Untuk anak semp4t, walau yang datang hanya “segitu” banget. Haha. Aku sangat senang. Ternyata, masih ada.. J semoga persahabatan kita selalu terang dan menyenangkan seperti kembang api semalam. Untuk senior-senior yang sudah kuanggap kakak sendiri—maafkan aku seenaknya, terimakasih sudah mengucapkan penyesalan-penyesalan untuk tidak dapat hadir, dan terimakasih banyak untuk yang telah hadir juga. Hahaha. Untuk mereka yang bahkan belum sempat kulihat wujud aslinya dan tetap mengingatnya—atau karena tiba-tiba tahu, aku sangat menghargai itu. Domo arigato gozaimasu!

Pada Bapakku khususnya, yang pada malam 11 Agustus hingga menjelang 12 Agustus masih saja mengajakku berkeliaran di tempat praktek dokter gigi untuk menembel giginya. Haha, beliau orang pertama yang secara langsung mengucapkan ‘selamat’ di waktu yang tepat. Maaf, telah banyak merepotkan dan menyita pikiranmu atas mengurusiku. Aku tahu kau selalu berpikir keras untuk membahagiakanku. Kita bercanda, seperti teman. Dan itu berbeda.

Terimakasih juga untuk yang telah berlomba meneleponku (halah). Juga yang mengesemesku tentang ucapan. Untuk si pengirim yang sengaja mengirim esemes yang sama sebanyak umurku juga, walau sempat salah kaprah. Haha. untuk sahabat efbi, yang mengucapkan karena tahu ataupun karena ngga ada kerjaan, jadi mengecek daftar yang sedang ultah, lalu mengucapkan. Betapa pun itu, aku menangkap kesan yang keren, sekeren aku.

Lalalalala

Dan yang selalu, untuk orang-orang di balik layar. Mama dan Bapakku tersayang tentunya. Bibi dan Embahku tercinta. Adik-adik dan beberapa yang membantu juga. Aku ucapkan terimakasih tak terhingga. Kalian selalu setia dan menakjubkan. Aku menyayangi kalian lebih dari yang kalian inginkan.
J

Pada seseorang yang jauh disana. Terimakasih untuk segalanya. Aku hanya ingin menanamkan sebuah pengertian, padamu. Pada kita. Tidak usah terlalu memaksakan diri. Ah, maksudku, kau tahu aku, kan? Aku bahkan tak memberitahu siapa pun—bahkan yang datang untuk buber, bahwa itu tentang perayaan tanggal lahirku. Artinya, mengapa menjadi merasa bersalah? Toh aku tetap menerima. Aku tahu arti keadaan dan usaha. Aku senang. Sungguh. Ketika kau hanya mengingat. Itu cukup. Terlebih berusaha seperti itu: memberi. Jangan selalu berpikir, ‘memberi’ sesuatu yang berharga—menurutmu, adalah satu-satunya jalan membahagiakanku. Nanti bisa-bisa kau membuatku berpikir, kau tidak cukup lebih berharga dari apapun yang kau beri.

Juga, hentikan segala kealpaan yang telah lewat! aku tak butuh apapun. Jika perhatian saja tak bisa kau beri. Pintu selalu terbuka untuk pergi. Aku cukup tenang ketika kau berjanji pasti memperbaiki semuanya.

Well, ini kejadian terulangnya kembali tanggal dan bulanku ya.. Aku tentu (selalu) boleh berharap, kan?

Di bulan baik ini, aku ingin selalu diingat oleh kalian. Dekat, dengan Allahku juga segala kebaikan yang Dia cipta dan berikan padaku. Juga tentu berhasil, dalam segala hal yang aku usahakan. Tentang mimpi, ambisi, dan janji-janji pasti itu.. akan aku tepati. Insya Allah.
J

Wassalam

Komentar

Posting Komentar