Aku Ditilang!


Assalaamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh

Ada kabar menyebalin, pemirsah. Huh.

Pokoknya menyebalin! Banget-banget-banget menyebalin dehdeh! ==”




AKU DITILANG.




#hening
#KRIIKK KRIIKKK KRIIKKK



Kejadiannya 3 jam yang lalu. Jadi, ceritanya gini. Hari ini aku ada jadwal jam 07.00, Pendidikan Pancasila. Laila—temanku yang beda kelas namun (kebetulan) jadwal kami sama, akan memberikanku brownis, jadi kami berangkat bersama. Dia punya helm, tapi karena biasanya polisi jam segini belum keluar—dan kami berangkat pagiii, pun dia juga lupa ambil—kalo kembali ngambil musti naik tangga dan buka kunci. Jadi, kami putuskan untuk langsung berangkat saja. Ribet.

“ga bawa helm?” tanyaku.
“huaa, aku lupa. Ada di kamar. Ribet ntar ngambilnya, naik tangga, buka kunci. Emang ada polisi ya?” jawab Laila.
“hhmm... yaudahlah. Ayo!”

Melewati ringroad, ada 4 jalan yang harus dilalui. Dengan hijau ngejrengnya pak polisi berada di pinggir jalan.

“ada polisi, Fin! Belok masuk gang! Belokkkk” Laila heboh. Gang ada di sebelah kiri jalan jalur satu. Jalanan rame. Aku ada di sebelah kanan jalanan. Jarak antara kami dan manusia hijau itu tak perlu diukur, ga ada meteran soalnya.

“yaah, udah deh, La.. moga ga apa-apa” sergahku. Aku maju terus, apa keberuntunganku masih ada? Haha. Ceritanya, aku orang yang sangat beruntung gitu.

Kami melaju. Aku dengan helm Hiu hijauku. Laila dengan kerudungnya yang berwarna... eh, warna apa ya? Lufa. Parah. Haha

dan..
KAMI LOLOS.

Aku heran. Laila juga heran. Polisinya ga liat kita atau pura-pura ngga liat kita?
Agak tenang rasanya. Kami memasuki jalur tengah. Dan..

“menepi, mbak..”

seorang bapak-bapak tak dikenal—masih menunggang motornya, berbicara pada kami. Hah? Aku bingung. Lalu merentangkan pandangan ke depan.

Ada manusia hijau di sana. Di jalur empat, sebelah kiri. Kami benar-benar diminta menepi.

GURBAK

“selamat pagi, mbak. Bisa lihat surat-suratnya? SIM? STNK?”

Laila udah tepok jidat daritadi sambil baca mantra. Aku hanya bernafas.

“ini, Pak” kuserahkan SIM dan STNK dalam dompetku.
“ikuti saya” lanjutnya sambil membawa yang kuberikan tadi. “mbak kok ga pake helm? Lihat pengendara yang lain, semuanya pake helm” tambahnya.

Aku diam. Masa iya mau bilang kalau naik tangga dan buka kunci itu ribet. Laila mau ngomong apa gitu ke pak hijau, aku ga jelas dengernya. Huee..

Lalu dia menuliskan sesuatu di slip berwarna pink. “tanggal 3 esok, datang sidang ke kantor pusat yang di Bantul ya.. STNKnya saya tahan”

“hhmm, Pak. Kenapa ga nulis di slip biru? Saya uda baca sosialisasi POLRES, mending pake slip biru ajja, Pak” sergahku. Setahuku, slip merah jika kita melanggar dan membantah telah melanggar. Maka perlu disidang. Itu bayarnya bisa banyak banget, antri pun. Kalau yang biru, artinya kita ngaku salah, bayarnya lebih murah, ga sampe Rp 50.000. langsung transfer lewat ATM pula. Jadi aman. Ga sampe “kemakan” sana-sini.

Lalu pak hijau mengeluarkan selembaran. “kalau mau pake yang biru, mbak bayarnya segini (menggaris bawahi tulisan Rp 500.000), kalau sidang, bisa kurang. Ntar itu ditransfer langsung. Buktinya bawa ke kantor, STNK kembali. Kalau ga terima segini, akan lanjut disidang”

aku dan Laila saling pandang. Rasanya, saat itu. Kami bisa saling membaca pikiran, “buset, mahal amat! Pak hijau mau naik haji apah?!”

“mahal amat, Pak. Setahu saia ga sampe segitu deh. Itu bayar maksimalnya, kan?” sergahku.
“iya.. Kalo mbak mau pake yang biru, bayar langsung segini, ntar bukti pembayarannya bawa ke kantor. Kalo sidang, bisa kurang” terang Pak hijau.
“yang pink ajja, Pak! Yang pink ajja..” serobot Laila.

Aku mundur berbincang dengan Laila. Sedang pak hijau menulis pada slip pink.

“La, ga sampe limaratus ribu, kok! Yang biru ajja!”
“kamu ga denger? Itu mahal amat. Kata pak polisinya limaratus ribu! Buset, setengah juta! Sidang ajja!”
“huaaa, mahalnya kebangetan emang. Beli helm ajja ga sampe limaratus ribu!”
“iya nih, bapaknya ngeyel. Aku yang ga pake kok dia yang repot. Yang kenapa-kenapa kan aku ntar. Sok perhatian deh”

bruakakakak
==”

Dan, jam menunjukkan pukul tujuh lebih. Haduh, matilah. STNK ditahan. Kurang keren apa lagi aku ini?

Di kampus, ruang mini teater D uda berisi. Dosennya uda ada juga. Kami duduk nyelinap paling belakang. Yang lain pada bilang,

“kalian yang ditilang tadi ya?”
“eh, yang ditilang tadi itu kalian, kan?”
“huaa, tadi aku mau panggil kalian waktu ditilang, tapi ga jadi”

GURBAK

Pak hijau menjadikan kami artis dalam beberapa menit saja. Aku dan Laila langsung lemes.
Mata kuliah pendidikan pancasila ini, selalu ajaib. Efeknya bisa mengalahkan capuccino yang kuminum tiap pagi. Kami selalu ngantuk parah! Gila! Di matkul ini, kita bisa makan bekal, twitteran, facebookan, bahkan pura-pura tidak tidur. Ga ada yang denger dosen. Aku heran. Apalagi waktu beliau bertanya, “ada yang ditanyakan?” kami tidak bertanya. “kalau gitu, saya yang bertanya, bla bla bla bla?” tak ada yang menjawab. “yang tidak jelas atau tidak mengerti tolong tunjuk jari”. Kelas ga ada reaksi, “alhamdulillah, berarti semua mengerti.. iya, kan? Coba tunjuk jari siapa yang mengerti?”. Dan kelas masih tetap tak bereaksi.

GURBAK

Materi pagi tadi tentang negara. Aku nyimak. Semampuku. Tapi langsung terbakar waktu pak dosen ngebahas,

“jadi, pengertian negara hukum secara sempit adalah negara hukum yang menjalankan fungsinya sebagaimana tugas 'polisi lalu lintas' atau 'penjaga malam' atau 'nachtwacherstaat' yang menjaga agar jangan sampai terjadi pelanggaran hukum dan akan bertindak keras terhadap pelanggar hukum.. jadi, polisi itu sebenarnya, tugasnya yaa mencari-cari permasalahan

“bener, pak! Setuju! Mereka mencari-cari permasalahan!” aku langsung hidup. Aku senggol Laila.
“betul, Pak! Polisi emang gitu! Kerjaannya nyari permasalahan terus! Sok perhatian!” timpal Laila.

Mahasiswa yang lain ngeliatin kami, semua menghadap ke belakang mencari sumber suara. Beberapa tertawa karena mengerti—melihat, beberapa hanya bengong.

Dan kelas pun berakhir beberapa menit kemudian. Disambut dengan rumpian teman-teman yang lain.

“eh, kalo ga pake helm, bisa langsung bayar di tempat. Kayak aku kemaren. 36.000”
“ih, aku 20.000 malah”
“aku 60.000”
“ih, 60.000 kemahalan!”
“iyaaa.. kok kamu mau sih disuruh 60.000!”

Lalu mereka melihat kami.

“kamu tadi disuruh bayar berapa?”
“setengah juta..” Laila yang menjawab.
“HUAAAPPAAHHH???!” mereka histeris.
“gila! Mahal amat! Itu jatah makan sebulanku!”
“wahh, mungkin gara-gara plat motormu kalik, DR kan? Coba ganti jadi AB!”

Dan, apapun kata mereka, STNKku sudah ditahan. Aku harus menghadiri sidang. Tentunya, bersama Laila jugalah. Huft

Entah apa yang akan terjadi tanggal 3 esok..
T_T

yang harus kubawa waktu sidang nanti. LIHAT! menulis namaku pun dia salah! =="


Aku terancam gagal beli TV seharga Rp 300.000 (yang harganya udah murah banget). Aarghh!

Bapakku menelepon beberapa menit yang lalu. dia malah ngetawain aku. ckckck
Kalau di rumah, motor ditilang. Kita bisa nyantai, ntar tiba-tiba motor dianter ke rumah sendiri. Nah ini??

"itung-itung pengalaman.. huahaha" kata bapakku. hadoh. "ga bakal kayak Anggelina Sondakh kok, tenang aja, ga sendirian dipanggil ngomong pake microphone juga.. hahahaha" timpalnya.

Baiklah, rupanya dia tahu imajinasi liarku. haha. xD

just calm down..

Wish me, eh US luck yak!


wassalam

Komentar

  1. bruakakakakakakakakakakakakakakkk..
    dasar penuLis, xD
    iyaiya, seteLah dipikir-pikir, sok perhatian pak poLisi.. wkwkwkwkwk..
    LUCU..

    BalasHapus
  2. ada yang kurang: penulis keren!

    #eaaaaa

    wakakakakakak xD


    tuh, kan.. beneran sok perhatian dehdeh. minta bayar kos sama mereka ajja sekalian kalo gitu!
    xD

    BalasHapus
  3. buakakakakakaaa......
    mantap mantap... XD XD

    BalasHapus

Posting Komentar