Seberapa Kuat Aku (?)


Aku mulai muak dengan cinta.
Oke, aku sadar ini pengakuan yang tak sehat. Tapi, aku benar-benar muak!

Suatu waktu, seseorang akan jatuh cinta. Ia bahagia. Ini aneh, karena hanya dengan mendengar suara orang yang ia sukai, dia akan merasa dunia ikut dalam alur hidupnya, mengalir.

Kemudian, akan ada masa seseorang menjadi sangat cinta, ini adalah tahap yang menjadikan dua individu seperti dua orang konyol. Saling menanyakan kabar setiap waktu, saling melarang, dan banyak saling-saling berikutnya yang membuatku semakin merasa aneh, apa mereka memiliki hak penuh atas itu?

Dan betapapun itu, menurutku, tak akan bertahan baik selama 2 tahun. Sungguh. Perjalanan 2 tahun amatlah keramat.

Hingga pada akhirnya, mulailah tahap pengasingan. Dimana seseorang (ternyata) mulai tidak saling mengerti. Mulai merasa bodoh atas apa-apa yang pernah terjadi, mulai merasa sakit. Rasanya, benar-benar tidak nyaman. Dan itu sulit.

Saking sakit dan sulitnya, aku bahkan, rela tak merasa jatuh cinta sebelumnya. Aku tak sanggup perihnya. Dan rasa perih itu, pasti ada pada setiap mereka yang pernah memulai untuk jatuh cinta. Walupun niat awalnya tidak utuh serius! Walau sekadar main-main! akan ada rasa sakit hebat berkepanjangan sebagai mimpi buruk menanti di ujung sana.

Aku capai. Aku kapok! Aku tidak mau merasakan sakit sehebat itu lagi! Aku benar-benar tak berpikir sehat untuk jatuh cinta lagi.

Mungkin untuk sekadar mengagumi seseorang, itu lebih sehat, menurutku. Jadi, dia ataupun aku tak punya beban moral ataupun perasaan melakukan suatu keharusan. Cukup mengagumi. Dan tak perlu berharap.

Dan ketika aku seharusnya berbicara. Menjawab ataupun menceritakan pada seseorang tentang apa yang aku rasakan. Adalah hal yang benar-benar sulit.

Jangan tanyakan tentang kisah pribadiku! Kau tak akan benar-benar mendapatkannya. Sungguh. Entah apa yang terjadi padaku.

Dan kurasa itu akan menjadi lebih sulit setelah ini. Karena aku menjadi benar-benar takut memulai. Menjalin suatu kebahagiaan sesaat, yang mau tak mau nantinya akan menanamkan kesakitan panjang dalam hidup.

Melumpuhkanku seketika.

Dan jika aku berharap dapat menukar rasa bahagia ketika awal dengan sakit di akhir. Tak ada rasa sakit yang terbayar lunas. Sesungguhnya. Karena sebelumnya, rasa bahagia yang dahulu itu telah mengikis dalam perjalanan 2 tahun yang keramat: menguap.

Terdengar bodoh, tapi nyatanya, aku kini benar-benar takut memulai hubungan semacam itu lagi. Kebanyakan lelaki bertindak dan berpikir sama, sejauh yang aku temukan. Huh.

Aku akan bertahan menjalani hidupku dengan diriku sendiri terlebih dahulu. Lihat, seberapa kuat aku.

Komentar