Empat Serangkai


Assalaamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh
J


Aku pernah berhutang cerita mengenai kisah empat serangkai.

Oke, yang selama ini ada 'kan Tiga Serangkai tuh, kayak pahlawan-pahlawan gitu.. atau malah Lima Serangkai, kayak cerita persahabatan di novel keren yang pernah kubaca (itu Lima Sekawan, Fin! *eh). Tapiii, ini teh beda. Dan lagi, bukan karena belum ada yang namanya Empat Serangkai terus aku nyebutnya gitu juga, yaa walau emang kebetulan juga siy (apaan cobak? ._.)

Hum.. intinya, aku mau bayar hutang sekarang. Gitu deh cepatnya. Menyoal Empat Serangkai ini lhoo.. Oke, aku ceritain satu-satu dulu yak, mereka-mereka menurut pandanganku itu gimana. Ehem.
:D

Yang pertama..
(baca Quran dan maknanya.. #LaguOpick)


Adalah aku, Zulfin Hariani alias Fifin. Lho, kok malah nyeritain tentang aku sendiri? Pertama pun!

Gapapa dong yaa, terserah yang nulis. Sukasukanya gimana.
Lalalalala

#Serius, Fin!
#Nggih.. ==”

Nggalah yaa, aku 'kan mau nyeritain 3 makhluk bernama Lailatul Sahara, Fiqi Wakhid Ariyanto, dan Erwin Rasyid. Itu juga kalau aku ngga salah inget nama lho yaa.. :3


Lailatul Sahara

waktu makrab ikom di Kaliurang

Aku kenal dia lewat fb. Dalam salah satu group resmi yang dibuat oleh pihak FISIPOL UMY untuk menyebarkan informasi. Lalu mulai akrab dengan berkomenria—waktu itu bareng Ayum juga, yaa bisa dibilang kita bertiga (juga Ayum) adalah orang-orang yang aktif di fb saat itu. Kami bertukar nope. Kemudian beresemes ga jelas, hingga tiba pada satu moment yang paling aku ingat, saat dia sedang galau-galaunya di fb. Oke, aku menyensor kasus ini.*halah. Garis besarnya, itu ngebuat kita makin sering esemesan. Hingga aku tiba di Jogja pun, tetap esemesan sama dia. Waktu itu dia masih di Lampung. Dan katanya iri berat sama aku yang uda nyampe Jogja duluan. Hohoho.

Beberapa hari setelahnya, aku ketemuan sama Ayum—tepatnya aku yang nyamperin di Unires, disusul beberapa waktu kemudian aku, Ayum, dan Laila bertemu. Bantuin Ayum angkat-angkat barang, hingga akhirnya kita bertiga nginep di kos ku. Mereka adalah korban sambal yang kubawa dari Lombok. Sukses membuat toilet sebagai tempat terfavorit waktu itu. Ayum pulang, dan tinggallah aku bersama Laila. Laila masih dalam proses mengangkut barang juga ke kos barunya itu—dibantu Angga, pacarnya. Sesekali menginap di kosku, dan meninggalkan kasur merah hati lipat di sini—aih, uda kupulangin kok.

Bersama Laila pun aku mencari ember, setrikaan, kipas angin, dan beberapa kebutuhan lain. Laila identik dengan browniesnya. Beneran. Itu brownies enak banget. Dan ada ketentuan diharuskan ada di kamarnya itu brownies mahal. Huhu

Hum, menurutku, Laila itu orangnya baik. Dia suka menolong seseorang dan berkorban. Dia supel, dan cepat beradaptasi. Tapi, kalau uda ngga suka sama sesuatu ataupun seseorang, dia bakal ngomong langsung. JLEB, gitu. Yaa, walau dia jenis orang yang berhati-hati juga dalam menjaga perasaan orang lain, aku tetap sadar kok jika sewaktu-waktu ia mulai horror.

Dia punya alergi dingin. Dia pernah mendaki gunung Merapi. Dia jago bahasa Arab. Dan dia suka mencoba hal baru yang dia pikir menantang. Dia juga suka masakanku, walau pedas dan bikin ngos-ngosan. Aku beli tv di dia. Dia punya kamera canon baru dari hasil tabungannya. Dia jago menghapal. Dia seorang muslimah. Juga dia punya selera humor yang bagus.

Beberok kangkung+brubusan+terong tunuq+teri+cumik goreng (makanan khas Lombok)

TV beli di Laila

Dibanding Fiqi dan Erwin, aku lebih dulu akrab dengan Laila. Kami bertemu di depan masjid kampus. Aku bersama Ayum, dan dia bersama Angga. Aku sadar hari itu, kita akan menjadi sahabat. Melewati banyak hal bersama. Walau tak terlepas dari teman-teman baru yang lain—kelas kita berbeda dia B aku A, pun kesibukan dari organisasi-organisasi yang kami ikuti—tak ada satu pun organisasi yang kami ikuti bersama. Itu aneh. Juga unik.

Beberapa pengalaman ekstream juga pernah aku alamin bareng dia. Ditilang misalnya. Wahh.. absurd banget itu pengalaman. Wakakak

Lengkapnya bisa lihat di sini juga di mari
:D


Fiqi Wakhid Aryanto

Tak jauh beda dengan Laila, aku juga kenalnya lewat fb. Ini membuktikan bahwa jejaring sosial memang ampuh untuk mendapatkan teman. Berawal dengan komen dengan gaya membalikbalikkan tiap kata yang kami gunakan—sampai-sampai seorang teman menjulukiku Miss Pembolakbalik Kata, dan berlanjut dengan beresemesria.

Aku suka mengumpulkan informasi, lalu membaginya. Entah sedari kapan. Dan itu berpengaruh juga dalam beberapa topik beresemesria itu bersama Fiqi—terakhir aku tahu kalau si Lailalah yang bilang ke temen-temen kalau mau nanya info yaa esemes Fifin ajja.

Hari itu, kami bertemu di Loby FISIPOL. Aku bersama Laila, dia bersama Erwin.

Sebelumnya, kami ga pernah ketemu. Dan juga, aku lupa foto profilnya di fb. Apalagi Erwin, mukanya kan ketutup kamera waktu itu. Fiqi bertanya posisiku, ternyata kita sedang sama-sama dalam loby. Dia bertanya warna jilbabku. Ku katakan ungu, dan dia bilang di sana sedang banyak-banyaknya yang berjilbab ungu. Gurbak!

Aku dan Laila sudah berasa gimanaaa gituuu, merhatiin tiap orang yang lewat dan jikajika mereka berbalik  mengamati kami, kami patut curiga kalau itu adalah si Fiqi.

Hingga akhirnya Fiqi bertanya, “kamu di belakang mading?”

Ya, kami emang lagi di belakang mading. Tapi waktu itu, di sana ada 4 mading. hadoh!

Dan aku pun Laila semakin ganas memperhatikan tiap orang yang berlalu-lalang, kami berdiri. Tengok ke sana ke mari. Nihil.

Lalu segerombolan cowok datang.

“kamu Fifin ya?”

“Fiqi?”

Hahahahaha, akhirnya ketemu. Di sana ada Erwin, Leo, dan entah siapa-siapa lagi, maaf aku lupa.

Kesan pertama, Fiqi ini orangnya ngga tahu malu. #DilemparEmber. Dia axcited banget buat punya banyak teman. Dia nulis di kertas buat ngumpulin anak-anak ikom dan berlenggak-lenggok bak Miss Universe di loby. Mental yang bagus.

Waktu itu, ada 5 orang yang bertahan untuk berkumpul. Aku, Laila, Mala, Fiqi, dan Erwin. Kami sangat kelaparan. Erwin bilang, dia sering metik buah-buahan yang ditanam di wilayah kampus. Kami pun beberapa kali mencari dan tak dapat, kemudian berakhir di pohon ‘Lobe-Lobe’

Itu adalah pohon ‘anggur’ atau ‘simapur’ jika di Lombok. Buah kecil-wangi-manis, dan ternyata masih punya banyak nama lain terkait daerah kami masing-masing. Itu bikin ngakak abis-abisan. Yak ampuunnn! Uda jalan capek ke ujung kampus, ternyata Lobe-Lobe itu-------

==”

Tuh kan, aku kalau uda cerita jadi ke sana ke mari, ini mustinya cerita khusus tentang Fiqi. Haha

Oke, setelah perkuliahan dimulai. Bisa dibilang aku lebih sering mainnya sama Fiqi. Kosan kita ngga terlalu jauh juga soalnya. Dan dia juga sesekali meminjam buku juga meminta file. Fiqi merupakan announcer yang sedang vakum dari Tisaga Radio, tepat di depan kosku. Itu kenapa beberapa waktu yang lalu dia sering ke kos. Dari ngelamar , sampai proses vakum kita jalani bersama. Halah.

Dia rada risih sama ibu kosku. Suka diperhatiin soalnya. Yaa, wajar siy menurutku. Secara, dia kalau uda maen, bisa sampai mepet-mepet waktu kosan tutup. Itu bisa ngobrol ngalur-ngidul, sampai curhat tentang keluarga—ini bisa sampai harubirumejikuhibiniu, juga tentang Agnes Monica pun Sheila On 7. Ibunya Fiqi suka Sheila On 7, sedang bapakku suka Agnes Monica. Gimana ga habis-habis tuh obrolan?

Fiqi itu dari Pekalongan. Terkenal sama batiknya tuh daerah. Dia anak SMK Muhammadiyah yang ga suka IPS. Dia cowok yang sangat memperhatikan penampilan, pakai handbody pun! Aku kalah deh. Mudah bergaul dan mengaku masih muda. Dia seorang Agnezious dan baru-baru ini setelah kami nonton konser Sheila on 7, dia mengaku seorang Sheila Gank (SG) juga. Dia juga seorang Blogger, usahanya keras banget buat promosiin blognya. Diantara kami bertiga, followers twitnya yang paling sedikit. Muahahahaha. Yang komen di status fb pun ngelike dia bisa dibilang paling sering aku. Haduuh. Terlepas dari itu semua, dia punya perasaan yang lebih lembut dari cowok kebanyakan. Sepertinya.

Dia pernah ngejemput—paksa—aku malam-malam karena ngirain Agnes Monica datang ke Jogja. Tepatnya di Taman Pintar—yang ternyata di depan Bank Indonesia. Itu hebohnya bener-bener deh. Aku yang lagi flu pun sampe dibawain tissue sekotak dalam tasnya asal mau nemenin. Dan yang terjadi adalah?

Itu acara Dance Like Agnes!

GURBAK

Jelas ngga ada Agnesnyaa lah!

lengkapnya lihat di sini

Malam minggu di Jogja beneran rame banget. Fiqi ini ngaku punya Group Dance Like Agnes juga lho. Pokoknya dia cinta mati dengan apa-apa yang berhubungan dengan Agnes.

Dia bahagia banget dapat stiker DLA, yang sebenarnya kita dapatkan kalau udah main suatu game. Tapi malah asal kita ambil waktu itu dan pergi ngeloyor gitu ajja dari mbak-mbaknya. Dia main game juga, tanpa ekspresi. Buset. Kita nonton orang-orang bejibun ngedance like Agnes, ada yang (maaf) banci juga. Wow deh.

Pernah juga ke Communication Awards barengan. Kata Fiqi pake baju yang sama, sekalian pamer baju komunikasi. Eh, ternyata ketemu si Putri teman sekelasku yang bilang kalau dia pake baju itu berasa jadi anak-anak Panti. Gurbak. Gondok.

yang pake sepatu putih keren :p
sosis bakar yang harganya ga sesuai ama yg tertera

Yang anehnya, jalan berdua kayak gitu berasa horror juga sama teman-teman yang lain. Disangkanya kita ada apa-apa. Padahal kan apa-apa yang ada sama kita. #Eh. Habisnya, Laila pasti sama Angga, terus Erwin kan keikat peraturan di Unires. Hedeh. Ada juga yang menyebalin tuh, ketika Fiqi bilang foto bareng hantu-hantu kehapus! Huuuaa, jadi gini.. masih di sekitaran Monumen Umum 1 Maret itu, ada pengamen yang super kreatif deh menurutku. Mereka nyediain kotak tempat kita menaruh uang seikhlasnya, dan mereka menggunakan kostum hantu-hantuan gitu. Berasa helloween tiap hari deh. Ada yang jadi mumi, kunti, dan entah apa yang membawa pedang serupa bulan sabit dan mengenakan topeng seram, juga beberapa yang bajunya lusuh dengan muka seolah rusak berdarah-darah. Kita fotoan. Keren.

Oh iya, Fiqi pernah ngasi aku kripik tahu, katanya siy asli khas Pekalongan. Dan itu berhasil menyelamatkan menu sarapanku yang kian tak bervariasi.

kripik tahu khas Pekalongan

Fiqi juga bisa diandalkan sebagai peta Jogja lho, terbukti kami bisa menemukan kosan Saride ketiks hendak menonton so7. Baca kisahnya di sini. Dia orangnya setia kawan. Suka berbagi. Suka cerita. Dan belakangan ini jarang tersenyum lepas ragara giginya yang patah. Wakakakak. Walau kemarin dia ngesemes uda baikan siy giginya, dia mudik sekaligus merbaikin itu soalnya. Wow.

Erwin Rasyid

Kenalnya sama jugak, lewat fb. Di fb dia axis banget terlebih kalau udah mengenai SNSD. Dia cowok, tapi suka girl band korea. Itulah hal yang selalu bikin aku nyerngitin alis. Sebelum ketemu dia dan beresemesria, aku dan Laila penasaran banget sama yang namanya Erwin. Kenapa? Karena kalau baca komen-komennya yang membahas SNSD bisa bikin kita geleng-geleng kayak kipas angin.

Satu hal yang menyulitkan kami mengenali Erwin langsung pada hari itu adalah, PP dia di fb ngga jelas! Muahahaha, mukanya ketutup kamera. Yaa, walau sekarang udah ganti PP siy.

Dia adalah seorang Muhammadiyah yang taat. Kalau jumatan musti mandi dulu. Sholatnya juga berjamaah—udah ketentuan di Unires cowok juga siy. Dan kalau bersentuhan dengan wanita, dia bakal bilang, “bukan muhrim!” kalau ada info puasa sunah, dia bakal ngesemes, bahkan nawarin mau dibangunin sahur atau ngga.

Tapi tetap ajja aneh. Kok suka SNSD? Itu kan cewek-cewek sexi?

Gurbaakk!

“Biasku itu Seohyun, Fin..” katanya.

Kalau dia udah mulai bahas gituan, bakal panjang kali lebar kali tinggi sama dengan luas balok deh perbincangannya. Menyebalinnya, dia bawa-bawa Sheila On 7 cobak! Ish.. jangan disamakaannn! Dia condong cuek banget, tapi kalo uda lola yaa kayak modem kehabisan pulsa, dia ga segan ngejek so7 kalau lagi ngumpul berempat, padahalkan Fiqi dan Laila juga SG. Bener-bener dah..

==”

Kalau jalan berempat, si Erwin ini suka misahin diri. Belagak sok cool gimanaa gitu. Kayak ga kenal kita. Ntar giliran kita belok dan dia jalan lurus, baru deh dia putar arah lari-lari ngikutin kita. Bruakakak

Dia jago photography, dan apa-apa yang berhubungan dengan laptop. Saat Laila punya canon baru dan kita merayakannya dengan rujakan bareng dan itu musti manjat pohon mangga apel depan masjd usai UTS, dia sempat ngajarin aku pake canon Laila. Enak bisa tuker-tukeran gitu, Laila punya kamera, Erwin bisa nguasain, akunya belajar, ntar Fiqi dengan suka rela jadi model. Hulalala

dengan segala upaya, tak peduli sekitar
tragedi mangga apel
BERHASIL!


waktu rujakan





abis rujakan hunting foto
Laila dan Canon baru
Sewaktu kami nyiapin perlengkapan Mataf (Masa Ta’aruf) atau lebih sering disebut Ospek dahulu pun, Erwin yang bagian ngedit-ngedit name tag.

Wah, kalau ingat yang dulu-dulu itu, kita nyari bahan mataf ke sana ke mari, bagi tugas, begadang di kosanku, hingga bingung gimana cara ngegantiin duitnya yang berujung diikhlaskan saja. Seru dehdeh. Beli nasi tok di warung, dan makan pake laukku. Atau ditraktir Laila rujak, dan di traktir Erwin makan di kantin. Atau nyetop tukang kue Putu waktu lagi di kosanku. Huaaa. Kapan lagi??

kue putu
Erwin bisa dibilang yang paling jarang ngumpul bareng kita. Dia ga ada motor dan di Unires juga soalnya. Beda sama Fiqi, yang dulu sengaja banget tiap Selasa magrib dateng ke kosanku, dengan niat ngegangguin aku yang tengah memantau Sheila On 7 menyabotase Iradio. Itu dia sampe ikutan kuis di Iradio padahal belum jadi SG dan ga tahu apa-apa, yaa dengan cara mintak jawaban kuisnya di aku. Ntar kalau beruntung dapat kaos, aku yang dikasiin katanya. Huahaha

Dan beberapa hal yang aku salutin di Erwin ini selain ketaatan dia beribadah pun puasa Senin Kamis adalah, dia punya prinsip. Katanya, rugi banget kuliah kalau ngga ikut organisasi. Dia bener-bener manfaatin waktunya, itu termasuk nonton SNSD jugak siy. Hedeh.

Logat Makassar Erwin itu jelas banget. Hulalala. Kita juga sering saling mempromosikan daerah masing-masing. Dia ga mau kalah, ngotot bilang Makassar itu indah. Walau buktinya, anak-anak Unires cowok ada rencana liburan ke Lombok semester depan. Bukan ke Makassar. Hahaha

Dia sering ngeritik sesuatu. Benar-benar deh, kalau dia ngomong itu berasa keluar merica terus. Semua bakal dia kritik. Dia tanya apa konsentrasi yang akan aku ambil di semester 3 nanti waktu berkunjung ke Unires untuk menginstall Microsoft Office disuatu pagi, aku bilang Public Relation. Eh, dia mulai ngeritik abis-abisan! “Kenapa ngga ambil Hubungan Internasional ajja dulu kamu kalau gitu? Ngulang tahun depan deh! Haha” gitu katanya. Kurang acaarrr! Super menyebalin. Ah, tunggu saja, Win.. kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti di depan sana. Walau kamu ambil broadcast dan aku PR, belum temtu kita tak bisa saling bersaing, kan? Haha. Kita punya tujuan yang sama: ke Jepang. Dia mau jadi kameraman di sana. Entah kenapa tak ke Korea saja? Kan bisa ketemu SNSD!

:D

Dan bagaimana pun alur cerita persahabatan kami berempat dahulu, kini, dan yang akan datang. Ingin  tetap aku ingat. Mengapa? Karena mereka adalah sosok-sosok pertama yang aku temui saat membuka pintu dunia baru di waktu itu. Di tempat baru ini.

Kita bertiga bahkan beda kelas. Aku A, Laila B, Erwin C, dan Fiqi E. Kesibukan berbeda, dan banyak hal yang sebenarnya sangat bisa membuat kita tak seperti dulu.

Dan menurutku, itu mengapa ada istilah merindu di dunia ini. Terserah bagaimanapun sibuk dan menyenangkannya dunia kami masing-masing kini dan kelak nanti, pasti akan ada titik untuk kami saling merindukan. Empat serangkai walau dengan karakter berbeda. Empat perantau yang tentunya saling melengkapi. Empat orang yang akan mengubah dunia.


KAMI!


wassalam

Komentar