Selamat Ulang Tanggal dan Bulan, Bibiku Sayang :)


Assalaamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh
J

Hari ini, 20 November 2012

Akan kuceritakan tentang seseorang. Seseorang yang benar-benar mengerti arti cinta, hidup, dan pengorbanan yang sejati.

Dia bukanlah ibu biologisku, namun cinta dan kasihnya dapat melebihi beribu ibu di dunia ini.

Dia juga bukanlah ayah biologisku, namun cara ia menjaga dan mendidikku selama ini menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang benar-benar bisa diandalkan dalam keadaan apapun.

Dia adalah bibiku. Namanya Ratna Dewi. Dia bekerja pada sebuah stasiun televisi yang menurutku sangat mempengaruhi kehidupan banyak pihak di dalamnya.

Sedari kecil, ia mengajariku tentang banyak hal. Aku hidup bersama dia, memanjat pohon di halaman belakang, juga bermain debu di halaman depan-samping kiri-kanan. Dia mengajariku menyanyi, berdoa, bertahan atas puasa full, hingga menjawab soal-soal pelik yang diberikan guruku di sekolah. Dia lebih dari orang tuaku sendiri.

Kesabaran yang ia miliki sepertinya sungguh tidak terbatas. Meratapi kisah hidup yang dijalaninya selama ini membuatku sadar, keadilan sejati ada dalam keikhlasan. Kadang, ia terasa seperti sahabat karibku. Tempat aku bercerita dan menanyakan pendapat. Ia selalu ada dan tepat waktu dalam mengurusiku yang bahkan bukan anak biologisnya sendiri. Ia sangat menjaga perasaanku, memelihata semangatku, dan sangat percaya atas kemampuanku menjadi orang yang berhasil.

Bersama dia dan Embah, aku tumbuh menjadi gadis yang seperti kalian kenal selama ini. Kebijaksanaan aku pelajari dari mereka. Senyumanku juga aku dapatkan dari mereka. Sikap dan kepekaanku juga berakar dari mereka. Bahkan air mataku juga tak jarang dari mereka, aku tidak akan terima jika ada satupun di dunia ini yang membuat mereka sedih. Aku tak akan tega melihat air mata bibiku atas mereka yang begitu tak bernurani  sehingga menyakitinya. Aku percaya atas apapun yang dia pilih, itu pasti beralasan yang pantas. Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada di pihak mereka. Aku terlalu menyayangi pun mengenal mereka.

Hari ini, bibiku berulang tanggal dan bulan. Di hari ultah pertamanya dengan kehadiran seorang malaikat kecil bernama Khaylila Cahaya Nadia. Si mungil yang kerap datang di mimpiku. Proses pun kehadiran Khaylila telah menciptakan banyak warna baru dalam hidup kami. Terutama bibiku. Dia adalah generasi berikutnya yang harus bahagia karena memiliki kakak seperti aku. Aku tahu bibiku sangat mencintai Khaylila, karena aku pun demikian. Maka apapun yang kelak menodai cinta mereka, tak akan pernah pantas mengerti arti kemanusiaan.

Atas berbagai cobaan hidup yang dialami bibiku selama ini, aku selalu ingin menjadi satu-satunya yang dia percaya. Untuk berbagi kisah, meskipun terkadang aku tak bisa memberikan solusi dan hanya menjadi pendengar setia untuknya. Aku ingin dia tahu bahwa ada yang selalu peduli kepadanya. Dia tidak pernah benar-benar sendiri. Dia pasti sungguhlah kuat tersebab segala tempaan itu. Yang kian bertubi, yang datang dari dalam, yang benar-benar meremukkan.

Dia selalu mengajariku arti berbagi. Arti kesetiaan. Arti ketulusan. Dan tentu untuk terus tersenyum dan tertawa menghadapi hidup ini walau hati kian memar menahan duka.  Dia hanya butuh rasa nyaman dalam hidupnya. Tanpa pengusik. Tanpa pemeras harta. Dan tanpa kesalahpahaman.

Entah disuatu pagi kapan nanti, dengan wajah berbinar aku akan datang padanya. Menyampaikan bahwa anaknya yang keren ini telah sukses—seperti harapnya. Tumbuh dengan memesona. Dengan kebahagiaan selalu ada di antara kita. Aku benar-benar sadar sedari dulu bahwa dia merupakan sosok wanita yang perkasa, lebih dari seluruh wanita yang pernah ia liput dalam sebuah acaranya di program televisinya itu. Dia tumbuh cukup dengan kasih ibundanya saja selama ini, pun menjalani mengurus anaknya dengan demikian juga. Itu pasti sangat berat.

Terimakasih yaa, Bi. Telah mengizinkan aku menjadi salah satu bagian penting dalam hidup Bibi yang berharga. Terimakasih telah membangunkanku setiap terjatuh. Terimakasih juga karena telah sabar membantuku menghapal ayat-ayat suci Al-Quran waktu aku harus ulangan praktik agama dulu. Terimakasih telah menemani aku, Nini, dan Omen untuk belajar di TK. Membelikan kami makanan dan minuman, juga atas berjalan-jalan dengan motor biru itu ke tempat yang terkadang jauh sekali. Kaupasti sangat pegal ya? Terimakasih karena selalu mengingat kami di saat-saat menharukanmu ketika mereka membahas tentang anak dahulu, kaubahkan telah menjadi seorang ibu ketika masih SMA tersebab aku. Terimakasih telah meyakini mereka atas keputusanku, melindungiku, bahkan terakhir kaumenemaniku membeli bros kerang di Narmada.

Aku akan ingat itu semua, Bi.

Saat-saat kita bernyanyi  sambil tertawa di pagi hari yang menakjubkan sambil menyapu. Atau bahkan merekam suara ku dan kau membaca puisi untuk Embah dari majalah Annida yang dulu bertumpuk di kamarmu.

Kau tidak pernah tahu kan, seberapa luas ingatanku tentangmu?

Walau mungkin itu takkan pernah sebanding dengan segala hal yang telah kaupengaruhi dalam hidupku.
Tegarlah, Bi. Aku tahu kauselalu mampu. Kini usiamu kian bertambah. Semakin matang dan semoga tak merasa kesepian karena kita tak sedekat dahulu yang setiap minggunya bertemu. Maaf karena aku tak dapat datang menemuimu dengan sekadar kotak berisi sepotong baju ataupun buku lagi dan mengucapakn selamat, aku tahu jika itu kulakukan kaupasti mengajakku memakan soto kambing favorit kita di dekat tugu. Semoga tulisan ini dapat menyentuhmu..

Selalu ada Allah di saat tegar-tegarmu tak lagi kuat, Bi..

Aku sangat menyayangimu.





tertanda,
Keponakan terkerenmu



Zulfin Hariani


wassalam

Komentar