Sudah Saatnya


Aku tidak ingin tidak mengenal diriku sendiri. Aku ingin keluar dari lingkar labil yang kerap melabeli tindakku. Aku tak jarang menghentikan langkah secara tiba-tiba hanya karena orang lain. Hanya karena merasa tak sama. Hanya karena tak ingin mereka terusik.

Terkadang, aku sangat peduli untuk menjaga atau sekadar mengontrol emosi mereka. Di keadaan lain, aku benar-benar tak peduli. Di waktu yang tepat untuk khawatir terkadang aku lewati dengan perasaan hampa. Di saat yang lain berupaya menghindari luka, aku malah menjemput dan melahapnya.

Oke, ini tentang labil. Labil yang nyatanya tak seorang remajapun ingin disebut demikian. Dan aku pikir, sudah saatnya segala bentuk kelabilan itu kuhentikan. Ya, sudah saatnya.

Tak ada alasan lagi untuk labil. Tak ada yang membutuhkan orang labil. Tak ada yang menguntungkan dari seseorang yang labil.

Tenang. Dimulai dengan hal sesederhana yang terdengar itu. Berpkir positif, sabar, pemaaf, dan jangan sampai terbawa emosi. Ya, aku harus coba itu semua, menerapkannya secara kontinu di keseharianku.

Hhmm..

Mungkin dimulai dengan memaafkan diri sendiri. Aku memaafkan diri sendiri dengan mengakui kesalahanku. Oke, aku banyak salah. Aku tak pandai menjalin komunikasi yang baik pada banyak orang. Seharusnya, aku telah lama dapat mengendalikan hal itu, kan? Aku kan anak komunikasi.

Mengenai komunikasi, aku cenderung mengikuti. Memberikan Feed Back sesuai dengan yang mereka berikan. Dan sepertinya itu tidak sehat. Lalu, apa yang harus aku lakukan? Ini menyangkut kesempatan juga selebihnya. Ah, Insya Allah akan segera kuperbaiki. Ayolah, sesibuk apa siy aku itu?

Pasti ada celah.. pasti ada celah.. pasti ada celah..

Dan aku, sepertinya terlalu idealisme. Seseorang berkata padaku, ia peduli padaku. Dan aku tahu dia orang baik-baik, dia juga memiliki kemampuan untuk aku berikan kepercayaan penuh. Sayangnya, aku terkadang terlalu mempercayai pemikiranku sendiri. Tak peduli pendapat orang. Ketika sudah sangat yakin, aku hanya memegang teguh pendapatku. Aku tahu itu tak sehat juga, maka aku berpikir untuk segera mengubahnya. Ya, aku tak mau terperangkap pada diriku sendiri. Aku tak mau dijatuhkan idealismeku sendiri. Dan, hal inilah yang paling sulit. Sangat sulit. Tapi aku yakin bisa.

Banyak hal yang menurutku tak sehat, ingin kuperbaiki dalam diriku. Aku harus bisa melawan rasa takut. Aku harus menjadi seseorang yang penuh percaya diri pun berani. Karena setelah kupikir-pikir, banyak hal yang seharusnya kudapatkan sedari dulu dan menjadi urung, dan itu menyoal keberanian yang kurang. Seandainya aku lebih berani berbicara, bertanya, jujur, berterusterang, melangkah, bermimpi.. aku pasti jauh lebih baik dari sekarang. Karena sejatinya, apapun kesulitan di masa laluku itu hanya membutuhkan kunci keberanian.

Aku tak ingin menyiakan kesempatan lagi. Terlalu banyak kesempatan yang terlewatkan. Bila perlu, aku yang akan memburu kesempatan-kesempatan itu mulai sekarang. Aku tidak ingin ada yang sia-sia, terlalu berharga waktu yang kubuang percuma dibandingkan nilai pengharapan pada tiap alasan tetes keringat orang-orang yang mendukungku. Aku ingin menjadi lebih baik.





Yogyakarta
1:12/18/12/2012

Komentar

Posting Komentar