Aku


Aku tidak pernah bermimpi ingin menjadi seseorang yang jahat. Seseorang yang menghapus mimpi orang lain. Seseorang yang menyuramkan tiap hari orang lain. Seseorang yang memberikan harapan kosong untuk orang lain.

Aku ingin semuanya baik-baik saja. Itu mengenai apa yang pernah aku lakukan dulu bersama yang lain, dan apa yang aku lakukan kini dengan seseorang yang berbeda.

Aku tidak pernah lupa, tentang apa yang terjadi dahulu. Aku ingat, hanya tak dapat merasakan hal yang seperti dulu itu lagi.

Aku telah memilih. Untuk pergi dan tak memulai kembali dengan orang yang sama. Walau ia (alhamdulillah) kini berubah—mungkin. Walau dia tetap membahas hal yang itu-itu saja setiap waktu agar aku pulang. Walau dia selalu datang ketika aku sepi.

Aku tidak akan pulang. Dan seperti potongan lirik lagu Sheila On 7–Mantan Kekasih yang akhir-akhir ini sering kuputar, “di sini tak lagi jadi rumahmu..”

Aku ingin hubungan kita baik-baik saja. Tanpa paksaan untuk membalas budi. Tanpa rasa canggung untuk berbagi kisah sehari-hari.  Tanpa ragu menyapa. Tanpa rasa harap berlebih.

Aku ingin kau baik-baik saja. Aku tahu kau orang yang berpotensi untuk maju. Kau pandai berbicara. Kau gigih. Kau hanya perlu membuka mata lebih lebar untuk melihat tebaran bunga. Membuka pendengaran atas berbagai sapa yang mungkin saja bisa jatuh ke hati. Kau pasti bisa, tertawa bersama banyak sakura.

Aku baik-baik saja. Selalu baik-baik saja. Walau pernah seseorang berkata, bahwa baik-baik saja tak selalu berarti bahagia. Ya, aku baik-baik saja.

Aku tahu tentang apapun yang aku lakukan hari ini, akan datang balasannya dari Tuhan di suatu pagi nanti. Aku tak mengharap apapun dari yang kulakukan. Tidak imbalan dari orang. Tidak simpati dari siapapun. Aku tidak membalas atas hinaan dari orang.  Aku hanya tertawa. Kemudian terdiam.

Sekecil apapun itu, Tuhan tidak tidur. Dia yang akan membalas.

Aku menemukan seseorang yang baru. Hari ini, aku sadar bahwa ternyata dia memang telah hadir sedari lama. Aku masih hanya menatap. Menyelami dirinya.

Aku takut terjebak. Ya, beberapa jebakan sebelum ini terlalu menyakitkan. Aku tidak ingin terjebak lagi. Aku sungguh tidak ingin.

Dia jujur. Ya, sejauh ini dia jujur pada tempat-tempat yang seharusnya. Dia cukup berani sebagai seorang pemula. Aku tahu dia sedikit meragu. Yang aku tak habis pikir, mengapa ia terus coba yakinkan aku dalam posisi meragunya?

Dia baik. Juga polos. Ya, mungkin tak sepolos yang kupikir. Karena aku sendiri pun tak pernah sepolos yang orang lain pikir, walau ternyata aku jauh lebih polos dari yang aku tahu. Dia berusaha. Dia mencari. Dia mencoba. Dia berjuang.

Dia tak pernah memaksaku untuk percaya. Setiap hari ia nyatakan yang dia rasa, namun aku hanya tertawa. Setiap waktu ia coba yakinkan aku. Di sisi lain, dia sadar atas traumaku juga akan gengsiku.

Aku ingin menjaga kalian berdua. Menjadi orang-orang yang penting dalam hidupku.

Walau kau, Tuan.. tak bisa ku bukakan pintu lagi. Mengertilah. Kau tak perlu melakukan sesuatu yang kau sebut tanpa syarat itu lagi. Aku ingin kau tak terkekang oleh ketidaktahuanku. Banyak hal yang tak bisa aku jelaskan padamu. Karena memang benar, kadang kita tak bisa menentukan hidup kita sendirian. Ada orang-orang di balik layar yang harus lebih kita utamakan daripada diri kita sendiri. Aku bahkan belum memutuskan, tentang dengan siapa aku di kemudian nanti. Mungkin dia yang kini bersamaku, atau mungkin juga tidak. Aku serahkan semua pada Dia yang memang mengatur hidupku sedari awal dengan serupawan ini.

Aku tidak ingin menyakiti siapapun. Aku harap masing-masing kita menjadi lebih beriringan di suatu hari nanti.

Aku mencintai apa yang ada pada diriku.

Aku mencintai Tuhanku lebih dari apapun.

Aku mencintai hati yang tulus,

hati yang merindukan senyumku sepanjang hari.






Yogyakarta
17:11-13:01:2013

Komentar

Posting Komentar