Untuk Sahabat


Seorang sahabat berujar padaku di suatu sore dengan wajah berpaling, “baru pertama kali ya? Wah.. nampaknya kamu bahagia sekali. Kamu pernah merasakan sakit karena cinta tidak? Ah, palingan tidak sesakit yang pernah aku rasakan. Aku pernah berhubungan sangat lama dengan seseorang, merasa lemah karenanya, hingga kini membuatku memandang sama. Pada tiap pria”.

Aku terdiam. Tidak menentang sedikitpun tentang apa yang ia katakan. Namun bukan. Bukan karena dia benar sepenuhnya. Bukan seperti itu. Tapi karena aku tahu dari jawaban petanyaan mengapa. Ya, mengapa ia bisa sampai berujar seperti itu?

Aku tahu rasanya. Aku tahu itu tidak mudah. Aku pernah berpikir seperti dia. Pernah merasa muak dan malas untuk memikirkan kisah yang alurnya seperti itu-itu saja.  Pernah berharap kisah dahulu terulang, hanya tersebab merasa capai untuk memulai dengan yang baru. Karena sudah terlampau lama. Terlampau hapal. Terlampau kenal. Terlampau...

Aku tahu itu sesak melihat seseorang yang tertawa sambil menggenggam telepon. Ia terlihat seperti wayang yang siap dimainkan untuk sekenario yang sama, kan?. Jatuh cinta-bahagia-cemburu-bosan-marah-hilang.

Tapi, Sahabat..

Ada yang terlupa.

Hidup itu terus berjalan. Orang-orang baru akan terus berdatangan. Mereka yang kasat di zaman lampau, bisa saja datang membawa warna baru.

Aku tahu rasanya, Sahabat. Ketika kita merasa sendiri dan tak ada yang ingin berusaha mengerti dengan tulus. Ketika kita mengamati kisah teman kita yang lain, lalu dapat menebak kisah selanjutnya. Itu benar-benar hambar. Tak bergetar.

Tapi, Sahabat..

Ada yang terlupa.

Setiap orang memiliki hak untuk jatuh cinta pada siapa saja. Pada dia yang alay, pada dia yang murahan, pada dia yang cuek, pada dia yang pintar, pada dia yang pemalu. Dan tentu pada kita. Ya, kita.

Kita tidak dapat mencegah seseorang untuk menyukai kita. Kita tak dapat terusmenerus  menghindar dari hingarbingar kaum adam. Kita sebaiknya ikut mengalir, terkadang terbentur reranting yang ikut hanyut di sela batu hitam yang licin. Masih banyak kisah yang perlu kita coba jalani. Tentu, untuk menambah warna pun rasa dalam hidup kita yang sebelumnya cukup kuat mengukir tegar.

Jangan mau terperangkap, Sahabat. Pada kisah yang pernah kita buat secara sengaja. Pada masalalu kita. Biarkan sajalah.. biarkanlah.

Kau tidak pernah untuk tidak berhak bahagia lagi. Kau boleh untuk jatuh cinta kapan saja dan kepada siapa saja. Tentu saja itu boleh.

Ada yang mengamatimu. Menyalahartikan arti sahabat yang kaupunya pada kita. Membicarakanmu karena masih saja sendiri. Menuduhmu yang kutahu bukanlah dirimu.

Kita memang sedikit berbeda. Ya, itu sedikit. Dan tetap saja berbeda.

Kau ditinggalkan sedang aku meninggalkan. Ah, tidak sepenuhnya terdengar seperti itu sebenarnya. Aku meninggalkan? Lebih tepat lagi jika aku katakan meninggalkan karena dia yang ada telah terasa hilang. Hilang dari mimpiku. Hilang dari kepercayaanku.

Kau ditinggalkan. Aku meninggalkan. Dan kita merasa itu sudah tepat pada beberapa waktu setelahnya. Memang seharusnya. Dan efek tak dapat pergi begitu saja.

Tapi lihat aku, Sahabat. Kini aku tersenyum. Aku dapat tertawa dan melupa. Aku tak terjebak lagi. Walau aku tak pernah merasa akan ada kisah seperti dulu yang begitu menyentuh tiap moment dalam hidupku. Aku tahu ada kisah baru di depan sana. Dengan alur yang berbeda. Warna yang baru. Gaya yang berbeda.

Aku lulus, Sahabat. Dari tahap yang kini tengah kau hadapi. Aku tak lupa pada kisahku yang lampau. Aku mengerti dan selalu mengingatnya ketika ada kamu di sana. Berdiri memandangku dengan senyum sinis. Ada pandangan yang berbeda, kurang lebih aku tahu yang kaupikir tentangku, dan kau tak pernah tahu apa saja yang pernah aku alami sebelum ini.

Aku pernah merasakan jatuh cinta setiap hari pada orang yang sama. Hingga bertahan lama. Hingga terlalu percaya. Ya, aku pernah. Karena tak ada yang lebih indah selain jika cinta tulus kita berbalas cinta pula. Tak ada yang lebih melegakan ketika kita mengetahui seseorang yang kita cintai juga mencintai kita.

Menyoal yang pertama, tidak, Sahabat.. siapa yang kau tahu bersamaku kini bukanlah yang pertama. Bahkan bukan yang kedua dan ketiga. Tapi lihat? Dia bisa membuatmu berpikir bahwa dia yang pertama, kan? Entah siapa yang tertipu di sini...

Pesanku, kau tentu selalu pantas untuk lebih membuka diri, Sahabat. Itu tidak mengkhianati masa lalu. Tentu tidak. Lembar hidup kita masih banyak yang putih. Kau tidak bisa menulis kisah hidupmu sendirian di sana. Kau butuh seseorang yang membuatmu tersenyum setiap pagi. Membuatmu lebih optimis. Lebih percaya diri. Lebih semangat. Dan lebih menyadari arti hidup, tentang tujuan dan mimpi-mimpi.

Suatu hari nanti, kau pasti akan mengerti...


Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Ada bagian kalimat yang aku suka ^^

    KEREN!

    Izin rewrite mbak ;)

    BalasHapus
  3. ehehehe :D

    bagian yang mana yak? :3

    sippokeh, Mbak Iin :)

    BalasHapus

Posting Komentar