(CERPEN) MELODY NATHAN GENDHIS



“Kamu gak makan siang dulu, Dhis??”

“Udah nggak keburu, Ma! Ntar di Melody aja! Aku kebablasan tidur siangnyaaa, Mama sih nggak bangunin!”

“Lha, habisnya kamu nyenyak banget tidurnya! Yaudah hati-hati kalo gitu, Dhis.. pelan-pel..” Pletakk! Kakiku membentur kaki meja. Taplak hijau pupus di atasnya bergeser ke arah berlawanan. Nyeri.

“Aw.. aduuh! Aduuh! aku berangkat, Ma! Assalaamualaikum.” Sambil menyelempangkan tas kain berisi beberapa benda kesayanganku di sebelah kanan bahu, aku terus berlari. Agak terpincang. Tak hiraukan pintu utama yang ternganga menghadap taman kecil bebatuan dekat garasi. Seharusnya aku menutup pintu kayu jati itu. Mama pasti mengomel lama sekali karenanya.

Namaku Sukma Gendhis Trisleo. Benar, zodiakku adalah leo. Orang-orang memanggilku Gendhis. Itu terdengar bagus. Minggu lalu aku genap 19 tahun. Aku bekerja paruh waktu pada sebuah cafe yang cukup besar untuk memberikan kami seragam dan bandana ungu ketika bekerja.

Hari ini Ahad, tiap pagi di hari yang sama selalu aku manfaatkan dengan mengerjakan tugas kampus satu minggu ke depan. Tugas kali ini cukup padat. Cukup sukses membuat tidur siangku sepulas Putri Salju. Oke, itu amunisi yang kupikir cukup bagus juga sih, karena malam ini kebijakan baru tempat bekerjaku diberlakukan. Melody akan tutup hingga pukul 11:00 PM. Itu  artinya, aku harus bertahan 1 jam lebih lama dari hari-hari sibuk sebelumnya dengan mencatat tiap pesanan pengunjung.

“Taxi, taxi!” Kuangkat tanganku coba menghentikan salah satu dari mereka yang berlalu-lalang. Tak berhasil. Ada apa dengan taxi-taxi hari ini?? Mengapa begitu tak acuh? Sial.

Aku sudah terlambat. 17 menit yang lalu seharusnya aku sudah mengenakan seragam ungu berlogo ‘Melody’ di depannya dengan senyum termanis yang aku punya. Hari ini cerah, suasana yang cukup mendukung untuk pengunjung berkunjung mencoba jus jagung ala Melody. Dan, aku tidak boleh terlambat lebih jauh.

Kucoba menyetop mini bus. Dan masih tak dipedulikan. Ah, ini tak boleh dibiarkan! Bisa-bisa citra yang kucoba jaga selama dua minggu ini sirna sebagai pelayan terpuji. Tidak boleh! Tidak boleh!! Siapa saja, beri aku tumpangan!!

Sedan putih melaju lambat di seberangku. Kucoba mengejar, berteriak, meminta tumpangan pada si pengemudi. Namun ia tetap melaju. Ah, si sibuk itu..

Kemudian mobil kijang biru melintas di depanku. Aku langsung maju. Berdiri tegap di tengah jalan sejajar zebra cross. Mencoba menghadang. Kulihat seorang wanita tua duduk di bagian belakang. Oh, transportasi umum nampaknya. Aku selamat!

***

“Nathan, antarkan nenekmu pulang..” Pinta seorang laki-laki yang resmi menjadi ayah tiriku sebulan ini. Aku tak terlalu akrab dengannya. Aku merasa dia tak pernah memperhatikan aku. Ini sama saja, berayah namun tak berayah.

“Yaa..” Jawabku singkat. Nenek yang dimaksud adalah ibu dari Ayah tiriku ini. Beliau jarang berbicara. Sesekali datang ke rumah hanya untuk makan, tidur, kemudian pulang.

Kunyalakan kijang biru dalam garasi. Nenek duduk di belakang. Ini akan menjadi perjalanan yang membosankan lagi. Perjalanan 2 jam yang hanya diisi dengan diam.

***

Seorang gadis menghadang mobilku. Ia tampak sangat tergesa-gesa. Langsung masuk begitu saja. Duduk di samping nenek.

“Ke Resto Melody yaa, Mas.. kalo bisa ngebut. Aku sudah telat!” Serunya. Sepertinya ia salah paham. Dia pasti berpikir ini mobil angkutan umum. Oke, memang terlihat sama sih sekilas, tapi apa dia tak melihat plat kendaraanku berwarna hitam?? Bukan kuning!

Maka kuantar dia sampai Resto Melody. Aku pernah ke sana. Capuccino dan nasi goreng seafoodnya memang lezat. Jadi, dia bekerja di sini?

“Makasih, Mas.. ini bayarnya. Kembaliannya buat Mas aja..” Kemudian gadis itu menerobos keluar. Selembar Sultan Mahmud Badaruddin II ia berikan padaku. Aku hanya bisa melonggo. Gadis yang aneh.

***

“Bos mana, Ca?” Aku terburu mengenakan bandana ungu lalu mengikatnya ke belakang bawah kepangku. Bergegas depan meja kasir yang dalam kendali Uca.

“Bos belum datang, kamu selamat!” Jawabnya, pandangan lensa cokelat Uca tak lepas dari  monitor di depannya. Syukurlah, aku tahu Tuhan sangat menyayangiku.

Resto cukup ramai. Membuatku langsung bekerja tanpa jeda usai beribadah menjelang petang. Terimakasih, hari yang terik. Terobosan baru jus jagung gagasanku mendapat respon yang menyenangkan.

            “Dhis, di meja 12 tuh..” Uca memberikan isyarat mata. Aku mengerti. Ku bawa buku menu beserta notenya untuk mencatat pesanan pemuda berjaket hijau di meja bernomor 12 sana.

“Capuccino dan nasi goreng seafoodnya ada ngga, Mbak?” Ia mengajukan pertanyaan itu ketika buku menu kusodorkan. Bahkan ia tidak mencoba untuk membukanya.

“Eh, ada.. Ada kok, Mas.. pesan itu?” Kubalas dengan senyum manis, ya, kami dituntut untuk selalu tersenyum pada pelanggan.

“Iya” Jawabnya singkat.

“Ada lagi?” Tanyaku basa-basi. Ya, kami memang dituntut untuk bertanya demikian pula pada pelanggan, walau sebenarnya kami telah tahu bahwa yang ingin mereka pesan hanya itu.

“Itu saja, Mbak.. mungkin nanti aku akan memesan lagi. Aku lagi menunggu seseorang” Balasnya tenang.

“Baiklah, capuccino dan nasi goreng seafood akan segera datang. Permisi”

***

Kuputuskan langsung ke Resto Melody usai mengantar nenek. Aku duduk di meja nomor 12. Posisi yang strategis dekat pintu yang terdapat cermin mengelilingi pahatan rotan sebagai pembatasnya dengan dinding. Aku bisa melihat pantulan bayangan meja kasir dari sini. Ada nona yang salah paham padaku sore tadi di sana. Sedang berbincang. Tak lama kemudian, kudapati bayangannya mendekat dari cermin.

Ia membawa sebuah buku tebal, kurasa itu buku menu. Juga ia membawa note ungu kecil, pasti itu akan ia gunakan untuk mencatat pesananku. Aku pernah ke sini, dan setahuku makanan yang tersedia kebanyakan bercita rasa manis. Aku hanya tertarik pada capuccino dan nasi goreng seafoodnya.

“Capuccino dan nasi goreng seafoodnya ada ngga, Mbak?”  Basa-basi, walau aku tahu menu itu pasti ada. Nona itu tampak sedikit terkejut. Mungkin karena aku tak menyambut buku menu yang ia sodorkan. Atau mungkin juga karena melihat supir yang mengantarnya ke mari kini sebagai pembeli.

“Eh, ada.. Ada kok, Mas.. pesan itu?” Ia balas dengan senyum manis. Kupikir, para pelayan resto ini memang suka tersenyum pada tiap pelanggannya. Tidak buruk.

“Iya” Jawabku singkat. Masih memperhatikan dia.

“Ada lagi?” Tanyanya. Mungkin itu basa-basi. Karena ku pikir pesananku sudah cukup jelas.

 “Itu saja, Mbak.. mungkin nanti aku akan memesan lagi. Aku lagi menunggu seseorang” Balasku tenang. Aku berbohong. Tentu tak ada yang tengah aku tunggu. Aku malas di rumah, toh mereka tak akan mencariku.

“Baiklah, capuccino dan nasi goreng seafood akan segera datang. Permisi”

Dia tidak mengenaliku. Haha. Terlalu banyak wajah yang ia temukan setiap hari. Pasti begitu.

***

Hari ini nampaknya ada seorang pelanggan kami yang telah berulang tanggal dan bulan. Itu mengapa resto menjadi sangat ramai.  Menyenangkan karena aku merasa telah membayar keterlambatanku tadi dengan bekerja keras. Aku lega. Sedang kini, waktu telah menunjukkan pukul 10:30 PM. Setengah jam lagi resto kami akan tutup. Tersisa 5 orang pelanggan di dalam ruangan. 4 orang dengan gerombolannya, sedang pemuda berjaket hijau tadi masih sendiri di meja nomor 12 sana. Nampaknya, seseorang yang tengah ia tunggu belum kunjung datang. Meja pada nomor itu memang strategis untuk menunggu seseorang, tersebab letaknya tepat di dekat jendela besar yang langsung menghadap ke luar resto kami. Sesekali ia menatap ke jendela, ku temukan bayangan wajahnya memantul dari kaca tebal itu. Kemudian ia kembali memainkan sedotan pada segelas capuccinonya yang telah kosong.

“Dhis..” Uca menyenggol bahu kananku. Aku tahu, 10 menit lagi kami harus tutup. Namun pemuda berjaket hijau tadi masih saja tak beranjak dari kursi anyaman rotan cokelat di sana. Ku putuskan menghampirinya.

“Maaf, Mas.. kami tutup 10 menit lagi” Ujarku padanya. Semoga dia mengerti.

“Lha, kok cepat sekali? Seseorang yang kutunggu belum datang lho, Mbak. Tunggu sebentar lagi lah yaa” Sergahnya. Wajahnya memelas.

“Maaf, Mas.. tidak bisa. Itu sudah ketentuan di sini. Mas boleh nunggu di sini sampai jam 11 saja. Selanjutnya bisa di tempat lain..”

“Tunggu sebentar lagilah, Mbak. Kami janjinya bertemu di sini. Please..”

“Maaf, Mas.. tidak bisa. Mas bisa datang lagi besok jika memang ingin menunggu di sini”

Dia terdiam. Lalu bangkit dari kursinya. Melihatku sebentar. Kemudian menuju meja kasir.

“Baiklah, aku akan datang lagi besok” ujarnya padaku sebelum keluar.

“Terimakasih atas kunjungannya”

Eh, apa aku pernah bertemu dia sebelumnya?

***

Dia bekerja sangat lincah dan bersemangat. Hari itu cukup ramai. Ada segerombolan remaja berisik membawa kue tart dan bernyanyi tak jauh dari mejaku.

Kuseruput capuccino langsung dari bibir gelas. Aku suka sensasi busanya yang menyentuh bibirku. Lembut. Kemudian sesekali memainkan sedotannya. Resto ini terasa nyaman. Aku mulai suka melihat senyum nona berbando ungu itu.

Ia pulang pukul berapa ya? Apa ia selalu pulang malam? Aku ingin mengamati hingga ia selesai bekerja. Ingin melihatnya sekali lagi dengan kostum biasa tanpa embel-embel berwarna ungu. Aku masih mengamati dia. Mencatat pesanan pelanggan, tersenyum, dan melaporkan pada koki tentang pesanan tadi. Hingga mengantarnya sendiri ke meja pemesan ia lakukan sendiri. Sesekali ia berbincang pada seorang gadis—yang tampak sedikit jutek, lalu tertawa. Entah mengapa aku selalu tersenyum setiap kali ia tertawa. Manis sekali.

 “maaf, Mas.. kami tutup 10 menit lagi” ujarnya padaku kemudian setelah mengamati sedari tadi. Oh, rupanya resto ini tutup pukul 11 malam.

“lha, kok cepat sekali? Seseorang yang kutunggu belum datang lho, Mbak. Tunggu sebentar lagi lah yaa” sergahku dengan wajah yang kusetting dengan ekspresi memelas.

“maaf, Mas.. tidak bisa. Itu sudah ketentuan di sini. Mas boleh nunggu di sini sampai jam 11 saja. Selanjutnya bisa di tempat lain..” ia cukup tegas juga rupanya. Aku semakin tertarik.

“tunggu sebentar lagilah, Mbak. Kami janjinya bertemu di sini. Please..” aku ingin sekali berbincang walau hanya sekadar mengelak seperti ini dengannya. Kulirik jam tanganku, memang sebentar lagi pukul 11 malam.

“maaf, Mas.. tidak bisa. Mas bisa datang lagi besok jika memang ingin menunggu di sini” wajahnya itu. Aku tahu dia pasti lelah seharian ini. Baiklah, aku mengalah. Aku bangkit menuju meja kasir untuk membayar. Kemudian menghampirinya.

“baiklah, aku akan datang lagi besok”

“terimakasih atas kunjungannya” masih dengan wajah yang sangat menarik.

Ku putuskan menunggu di luar dalam kijang biru tua itu. Hingga akhirnya ia keluar dengan kostum biasa. Ku lihat ia memanggil taxi. Beberapa kali gagal. Terus kuamati. Hingga akhirnya ia pulang bersama nona jutek yang menjaga di belakang meja kasir tadi. Kubuntuti jejak mereka pulang. Rasanya ingin sekali mengetahui dimana ia tinggal. Kami melewati beberapa lampu merah, dan tempat dimana ia tepat menghadang mobilku waktu itu. Kemudian sampai di rumah bercat biru muda, dia turun. Sedikit berbincang dengan nona jutek. Lalu masuk rumah. Oh, jadi, di sini rumahnya?

                                                                        ***

“pelanggan pukul tujuh datang tuh, Dhis..” Uca lagi-lagi menyenggol lengan kananku. Dia selalu melakukan itu jika pemuda pukul tujuh itu datang. Sejak kedatangan pertamanya, ia selalu datang pukul 07:00 PM setelahnya. Ini kali keempat pemuda itu datang ke Melody dengan jaket yang sama dan nomor meja 12. Aku tak tahu ia punya berapa macam jaket seperti itu. Yang jelas, ketika ada seorang pemuda duduk di kursi meja nomor 12 dan berwarna hijau pukul 07:00 malam, itu pasti dia.

“capuccino dan nasi goreng seafood lagi, Mas?” kuhampiri ia dengan pertanyaan yang kupikir akan ia setujui. Ya, setiap ia datang ke Melody, ia selalu memesan menu yang sama. Tanpa menghiraukan buku menu.

“iya, Mbak..” jawabnya singkat. Aku kemudian menulis pesanannya pada note ungu yang kami gunakan memang untuk itu. Tujuannya agar tidak lupa. Namun entah mengapa, aku tetap melakukannya walau rasanya sudah terlalu hapal dengan pesanan itu.

“masih menunggu seseorang, Mas?” basa-basiku usai menulis pesanannya.

“iya, Mbak Gendhis.. semoga dia datang malam ini. Aku akan terus menunggu lho.. ehehe” rupanya dia memperhatikan name tag yang kukenakan. “aku Nathan”

“oh, begitu rupanya, Mas Nathan..”

“panggil Nathan saja” ia memotong kalimatku dengan cepat.

“oke, capuccino dan nasi goreng seafoodnya akan segera datang. Di tunggu yaa, Nath..”

***

Aku jadi sering mengunjungi Resto ungu itu usai dari aktivitas membosankanku seharian. Ini kali keempat. Aku selalu datang pukul 07:00 PM. Selalu dengan jaket hijau kesayanganku, ia kutaruh dalam mobil. Membantuku menyembunyikan seragam yang kugunakan seharian jika hendak menemui gadis yang masih saja menyita sebagian besar pikiranku. Hari ini, aku harus tahu siapa namanya.

“capuccino dan nasi goreng seafood lagi, Mas?” ia menghampiriku, dan dapat menebak pesananku kali ini. Aku sengaja memesan menu yang sama tiap kali datang ke sini. Semoga itu bisa membuat perhatiannya sedikit tersita padaku. Dan kurasa, itu berhasil.

“iya, mbak..” jawabku singkat. Kemudian ia menulis pesananku. Aku mengamati. Mencuri-curi pandang pada name tag yang ia gunakan. Ah, tak terlihat! Tertutup rambut hitam panjangnya.

“masih menunggu seseorang, Mas?” ia bertanya padaku, wow. Rasanya senang sekali. Ada harapan. Ia mulai memperhatikanku kah? Aku masih saja memperhatikan name tag yang ia gunakan. Aku tahu Tuhan memberikan mata yang cukup bagus untukku melihat dengan teliti.

“iya, Mbak Gendhis.. semoga dia datang malam ini. Aku akan terus menunggu lho.. ehehe” yup! Akhirnya aku berhasil melihatnya. Cukup panjang di sana. Tapi mataku menangkap satu kata itu, nampaknya tak meleset. Aku bisa melihat dari ekspresi gadis ini. “aku Nathan” sambungku cepat. Ini waktu yang kupikir tepat untuk memperkenalkan diri.

“oh, begitu rupanya, Mas Nathan..”

“panggil Nathan saja” aku memotong kalimatnya dengan cepat. Aku mau dipanggil Nathan saja. Tidak dengan kata ‘Mas’ di depannya. Agar terdengar akrab.

“oke, capuccino dan nasi goreng seafoodnya akan segera datang. Di tunggu yaa, Nath..” ucapnya kemudian dengan senyum yang menawan. Oh Tuhan! Aku suka senyum itu.

                                                                       ***

Entah sedari kapan, perhatianku tersita oleh pemuda jaket hijau yang selalu datang pukul 07:00 PM dan duduk di meja nomor 12 itu. Ia selalu memesan menu yang sama dan pulang beberapa menit sebelum resto tutup. Satu hal yang paling aku penasarani ialah, siapa yang ia tunggu? Sudah hampir satu bulan ia selalu datang lalu pulang setelah menunggu seharian seseorang yang tak menepati janji itu.

Seperti biasa, pukul 07:00 PM hari ini ia datang lagi. Ada yang berbeda. Pakaiannya lebih rapi. Tak mengenakan jaket hijau itu lagi. Setangkai mawar biru ia bawa dalam genggamannya.

“wah, hari ini rapi sekali, Nath.. jaket hijaunya kemana?” sapaku. Rasanya mulai tak canggung menyapanya begitu.

“iya, Dhis.. hari ini bakal spesial banget lho. Itu kenapa penampilanku harus berbeda. Aku pastikan dia akan datang malam ini. Mawar biru ini untuk dia” ku lihat wajahnya berseri. Akhirnya, penantian Nathan akan terjawab malam ini.

“bagus kalau begitu! Aku juga penasaran banget sebenarnya, siapa sih yang kamu tunggu-tunggu sebulan ini? Ehehe” aku jujur mengatakannya.

“ntar kamu juga bakal tahu kok, hhmm.. mana buku menunya, Dhis?” lagi-lagi ia melakukan hal yang berbeda, ini kali pertama ia meminta buku menu. Maka kusodorkan padanya.

Kuperhatikan ia memilih menu. Dia pasti terkejut, ternyata banyak sekali menu yang seharusnya bisa ia coba sebulan ini. Melody menyediakan menu yang sedikit berbeda dengan resto kebanyakan. Jika kaumencari resto dengan menu manis sebagai cita rasa utamanya, berkunjunglah ke Melody.

“capuccino dan nasi goreng seafoodnya yaa, Dhis..” Nathan membuka suara setelah beberapa menit membolakbalik buku menu.

“lho, masih sama toh?? Kamu ngga tertarik nyoba menu lain? Aku pikir ada banyak menu yang bisa kamu coba lho, Nath..”

“ngga kok, aku emang mau pesan itu aja. Capuccino dan nasi goreng seafood di Melody inilah yang paling aku suka” jawabnya mantap. Aku mengangguk paham. Lalu ku catat.

“oke, capuccino dan nasi goreng seafood akan segera datang. Permisi.”

***

Aku mengamatinya seharian ini. Dari berangkat ke kampus. Lalu pulang. Dan kemudian berangkat bekerja.

Aku berpikir untuk jujur padanya malam ini. Beberapa hari yang lalu, aku melihatnya melewati toko bunga dan tak henti menatap mawar biru di sana. Selera yang langka dan unik. Mungkin dengan membawa mawar biru dan berpenampilan berbeda malam ini dapat membuatnya terpesona padaku. Minimal memperhatikankulah!

“wah, hari ini rapi sekali, Nath.. jaket hijaunya kemana?” sapanya. Aku tersanjung. Ternyata ia memang memperhatikanku beberapa waktu ini. Rasanya bahagia sekali!

“iya, Dhis.. hari ini bakal spesial banget lho. Itu kenapa penampilanku harus berbeda. Aku pastikan dia akan datang malam ini. Mawar biru ini untuk dia” aku tak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku. Wajahku pasti menggambarkannya dengan sangat jelas sekarang.

“bagus kalau begitu! Aku juga penasaran banget sebenarnya, siapa sih yang kamu tunggu-tunggu sebulan ini? Ehehe” responnya. Aku berteriak-teriak dalam hati, ‘itu kamu, Dhis! Itu kamu! Kamu yang aku tunggu selama ini!’

“ntar kamu juga bakal tahu kok, hhmm.. mana buku menunya, Dhis?” rasanya aku ingin dekat lebih lama dengannya. Meminta buku menu berarti ia akan berdiri di sampingku lebih lama, kan? Aku coba memperhatikan menu yang tersedia. Ah, masih sama. Makanan manis semua. Ku coba perhatikan kaus kaki yang ia gunakan hari ini. Oh, kuning lagi. Mungkin dia suka warna kuning.

“capuccino dan nasi goreng seafoodnya yaa, Dhis..” akhirnya aku memesan yang itu lagi. Haha. Aku ingin melihat ekspresi terkejutnya lagi.

“lho, masih sama toh?? Kamu ngga tertarik nyoba menu lain? Aku pikir ada banyak menu yang bisa kamu coba lho, Nath..” dan berhasil. Matanya membulat. Air mukanya tak stabil. Dasar manis!

“ngga kok, aku emang mau pesan itu aja. Capuccino dan nasi goreng seafood di Melody inilah yang paling aku suka” jawabku mantap. Dia mengangguk, nampaknya merasa paham. Lalu ia mencatat pesananku. Aku memperhatikan.

“oke, capuccino dan nasi goreng seafood akan segera datang. Permisi.”

***

Sudah pukul 10:00 PM, seseorang yang ditunggu Nathan belum juga datang. Aku dan Uca semakin penasaran. Hari ini Melody tak seramai biasanya. Tinggallah Nathan sendiri yang masih menggenggam setangkai mawar birunya di deret meja pelanggan. Sesekali ia memandang ke luar jendela. Masih menunggu.

“kamu yakin yang dia tunggu bakal datang malam ini?” tanya Uca kepadaku. Aku berhasil mengelak, ancangan senggol bahu kirinya pada bahu kananku tak sukses kali ini.

“tadi sih katanya gitu, Ca”

“wah, sudah jam segini lho, Dhis.. aku khawatir dia ngga datang” benar kata Uca. Apa yang terjadi jika yang ditunggu oleh Nathan tak kunjung datang? Sedang Mang Dali sudah mulai mengelap meja pelanggan dari ujung belakang sana.

Setengah jam berlalu, Nathan masih saja sendiri.

Hingga 5 menit terakhir sebelum Melody harus ditutup pun, Nathan masih juga sendiri. Dengan langkah yang berat aku menghampirinya. Tak tega rasanya mengusir ia yang telah rapi menunggu sedari pukul  7 tadi.

“Nathan..” dia menoleh padaku. Wajahnya berseri. Masih berseri.”belum datang juga ya? Kamu tahu kan, sebentar lagi pukul 11 malam.. kami harus tutup” kuulaskan sebuah senyum untuknya.

“iya” jawabnya singkat. Lalu beranjak menuju meja kasir. Uca telah menunggu di sana. Aku mengikuti dari belakang.

Usai membayar. Satu hal yang tak pernah kupikirkan terjadi.

Nathan berlutut.

Tepat di depanku.

***

Sudah pukul 10:00 PM, aku semakin deg-degan. Itu artinya, sebentar lagi Gendhis akan menghampiriku untuk mengabarkan resto akan tutup. Dan di saat itulah, aku akan jujur padanya. Ku amati lagi ia melalui cermin dekat pintu, ku lihat ia mulai berbincang dengan nona jutek itu. Sebentar lagi, Nath.. kumpulkan keberanianmu!

5 menit lagi, namun ia belum juga menghampiriku. Ah, membuatku semakin deg-degan saja. Ayooo! Datang, Gendhis! Katakan padaku bahwa resto akan tutup! Sedang seseorang entah siapa di meja belakang sana sudah mulai mengelap membersihkan meja.

Beberapa menit kemudian, akhirnya bayangan Gendhis kudapati menghampiri melalui cermin yang biasanya kugunakan untuk memantaunya.

“Nathan..” ujarnya. Ku lemparkan pandanganku padanya. Akhirnya, dia datang. Rasanya bahagia sekali,”belum datang juga ya? Kamu tahu kan, sebentar lagi pukul 11 malam.. kami harus tutup” ia membuka pembicaraan. Mengingatkanku. Sesuai keinginanku. Masih dengan senyum manisnya.

“iya” jawabku singkat. Lalu beranjak menuju meja kasir. Nona jutek telah menungguku di sana. Gendhis mengikutiku dari belakang.

Usai membayar. Aku memberanikan diri untuk berlutut di depannya. Ku kumpulkan semua keberanianku.

Tepat di depan Gendhis.
***

            “Sukma Gendhis Trisleo, maukah menjadi kekasihku?”

Aku mematung. Uca kulihat berkedip cepat, ia memang selalu begitu jika terkejut. Aku benar-benar tak paham. Apa-apaan ini?

“Maaf, Dhis.. sebenarnya, tak seorangpun yang sedang aku tunggu sebulan ini. Aku butuh waktu sebulan untuk mengenal kamu. Memperhatikan kamu. Aku bahkan sering menemukan kamu di luar resto, mencari tahu dimana kamu tinggal hingga akhirnya memutuskan untuk selalu datang ke sini. Ini mungkin terlalu tiba-tiba untuk kamu, tapi aku sudah terlanjur bertekad untuk jujur padamu malam ini.”

Aku speachless. Jadi, sosok yang ditunggu Nathan dalam sebulan ini itu? Alasan ia berpenampilan berbeda malam ini? Astaga. Aku bisa merasakan wajahku semerah kepiting rebus sekarang.

“Nathan, kamu serius?” entah mengapa pertanyaan itu yang keluar. Pemuda ini memang banyak menyita pikiranku akhir-akhir ini. Misterius dan selalu membuat penasaran.

“apa aku terlihat tidak serius, Nona?” ia bangkit dari posisi berlutut tadi. Masih dengan setangkai mawar biru di genggamaan kanannya. Maju selangkah, lebih dekat depan wajahku. Baiklah, dia sukses membuatku grogi setengah mati sekarang!

***

 “Sukma Gendhis Trisleo, maukah menjadi kekasihku?”

Dia diam. Nampaknya sedikit bingung dan terkejut.

“Maaf, Dhis.. sebenarnya, tak seorangpun yang sedang aku tunggu sebulan ini. Aku butuh waktu sebulan untuk mengenal kamu. Memperhatikan kamu. Aku bahkan sering menemukan kamu di luar resto, mencari tahu dimana kamu tinggal hingga akhirnya memutuskan untuk selalu datang ke sini. Ini mungkin terlalu tiba-tiba untuk kamu, tapi aku sudah terlanjur bertekad untuk jujur padamu malam ini.”

Dia masih mematung. Ekspresinya membuatku gemas. Wajahnya memerah. Haha.

“Nathan, kamu serius?”  tanyanya. Itu terlihat bagai lampu hijau di mataku. Memupuk ekstra keberanianku seketika. Aku memang sangat menyukainya. Semoga mawar biru ini bisa membantuku.

“apa aku terlihat tidak serius, Nona?” aku bangkit dari posisi berlutut tadi. Masih dengan setangkai mawar biru di genggamaan kananku. Maju selangkah, lebih dekat depan ke wajahnya. Cantik sekali!

***

“eh..” aku mundur selangkah. Nathan mengacungkan mawar biru itu lagi. Aku tersenyum. Lalu kuambil tanpa ragu. Aku memang sangat menyukai mawar biru, juga dia.

***

“eh..” lalu ia mundur selangkah. Kuacungkan mawar biru itu lagi. Kemudian dia tersenyum. Itu benar-benar menyejukkan. Ia mengambil mawar biru itu. Oh Tuhan! Dia menerimaku!

***

“oh ya, Dhis.. aku ingn kembalikan sesuatu padamu” Nathan mengeluarkan lembaran Sultan Mahmud Badaruddin II yang dulu pernah diberikan Gendhis padanya.

Gendhis mengenali lembaran ungu kebiruan itu. Ada tanda tangan dan namanya di sisi belakang. Oke, ini bukan contoh yang baik ketika kaumengisi waktu bosan dengan mencorat-coret uang.

“jadi, yang waktu itu.. astaga..” wajah Gendhis bersemu merah. Entah apa yang ia pikirkan. Yang pasti, Nathan tengah terbahak sekarang. Kemudian ia menyalakan mesin hewan besi kesayangannya—yang masih berplat hitam, dan melaju menembus dingin malam.

Komentar

  1. wah, Keren beud! 2 sudut pandang!
    akhirnya penuLis favorite saya nuLis Lagi, :D

    "kepiting rebus" - digaris bawahi, :D

    #eaaa

    BalasHapus
  2. BLOG YANG BAGUSSS.., MANFAATKAN BLOG ANDA UNTUK MENGHASILKAN UANG...

    PELUANG KERJA SAMPINGAN DENGAN SYSTEM ONLINE

    CARI BANYAK KARYAWAN/TI GAJI 15JT/BLN
    http://www.facebook.com/peluangkerjaonline
    1. Penawaran Gaji pokok 2 jt/bln
    2. Segala Jurusan SMU, SMK, D1, S1 dll
    3. Kerja Secara Online
    4. Per Entry Anda dibayar 10 Rb Rupiah, Bila Sehari Anda Sanggup Meng’Entry 50 Data Maka Gaji Anda 10RbX50Data=500Rb Rupiah/Hari. Dalam 1 Bulan 500RbX30Hari=15Juta/Bulan.
    5. Tugas dpt dikerjakan melalui HP, Warnet, dll (yg trhubung dg internet)
    6. Cara Pendaftaran: Kirim Nama & Alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami dibawah iklan ini, kemudian klik menu "Join Now" & isi form pendaftaran anda, lalu cek email anda utk verifikasi keanggotaan.

    http://newkerjaonline2013.blogspot.com/

    BalasHapus

Posting Komentar