Surat Untuk Intan


Yogyakarta, 19 Maret 2013
Kepada,
Intan Wulandari Zaini

Assalaamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh

Hai, Intan. Apa kabarmu? Sehat? Sudah makan? Sudah minum usai makan?
Ini aku. Masih mengenaliku? Ya, ini aku. Aku: orang keren.

Apa aku pernah mengirimimu surat sebelumnya? Ah, aku lupa. Pernah tidak ya? Haha.

Okebaiklah, anggap saja ini surat pertamaku. Jikajika sebelumnya memang benar aku pernah mengirimkan surat. Tapi aku tetap ingin kauanggap ini surat pertamaku. Ah, yang pertama memang paling berkesan dan tak terlupakan, kan? *ambigu

Bagaimana kabar Ibu? Lama tak berkunjung ke sana. Untuk belajar fisika, kimia, makan bakso yang sengaja kita bungkus, atau sekadar menyalin pakaian usai olahraga di porda. Apa Ibu sehat-sehat saja? Semoga saja terus sehat, yaa.. aku tahu betapa ia sangat berharga bagimu. Sungguh sangat berharga. Bahkan orang sekeras kepalamu pun sanggup menekan beribu ego untuk menjaga perasaan wanita bersahaja itu. Aku mengerti. Dan aku tak bisa bayangkan jika orang sepertiku ada di posisimu, ah.. aku khawatir akan memberontak. Sampaikan salamku pada Ibu. Katakan agar ia lebih menjaga kesehatan, aku ingin makan pisang goreng buatannya sepulang nanti ketika berkunjung. Ah, apa dia masih menggunakan Ring Tone BCL itu? Haha

Bagaimana kabar Mbak Yayuk? Apa dia masih setia menjadi’tong sampah’ buatmu? Ingat kejadian tahun lalu di tanggal ini menyangkut dia? Betapa kausangat merindukan kehadirannya. Dia adalah salah satu sosok kakak yang aku ingini. Selalu mendengarkan dan memihak. Ah, apa dia sudah ‘agak’ gemuk sekarang? Aku teringat ketika dia selalu datang dengan baju kedodorannnya kepada kita. Membawa botol sirup isi air bening dari kulkas ke berugak samping rumahmu. Suara kalian nyaris sama. Haha. Perawakan kalian pun demikian. Hum.. apa dia masih suka tulisanku ya? Wkwk

Bagaimana kabar Mas Agus? Amnesia dadakannya tidak datang mendadak lagi, kan? Haha. Aku ingat ekspresimu menceritakanku ketika dia mengalami hal itu dulu. Berapi-api sekali! Aku memang tidak langsung percaya. Seperti di sinetron saja. Haha. Tapi, aku percaya padamu. Satu hal itu yang dapat mengalahkan pikiran anehku. Walau usia kalian terpaut jauh dan kautak sedekat dengan Mbak Yayuk dengannya, aku yakin suatu hari nanti salah satu—bahkan keduanya—dari kalian akan sangat saling membutuhkan. Dia kepala keluarga. Kautentu sangat mengandalkannya.

Hari ini kau berusia sembilan belas di tanggal sembilan belas. Ada apa dengan angka sembilan belas? Haha.

Sejujurnya. Aku khawatir tidak dapat memberikanmu apapun di hari ini, padahal kauselalu melakukannya. Tepatnya, berusaha melakukannya. Memberikan sesuatu kepada seseorang yang spesial menurutmu tentunya. Ah, aku termasuk, kan? Wkwk. Boneka beruang oranye itu masih utuh kok, aku ingat Mbak Yayuk memberikannya nama hasil dari gabungan nama kita: Kentan.

Ehem, maaf yaa.. akhir-akhir ini aku merasa tidak menjadi kakak yang baik. Yaa aku selalu memantau Timelinemu dan hanya bisa menerka, entah apa yang sedang terjadi. Haha. Ah, aku tahu kausuka melampiaskan pada hal-hal semacam itu kok, yaa.. jadilah dirimu sendiri, dengan caramu.

Terkadang kita lupa dengan buku pedoman. Bukan, yang kumaksud bukan buku DDS tempo doeloe khayalan kita. Buku pedoman yang kumaksudkan adalah mengenai tujuan utama. Yaa, aku kerap melupakan hal itu. Tentang semangat yang seharusnya konstan. Tentang halangan menggapai mimpi yang seharusnya tak berarti. Apa kaupernah mengalaminya? Haha. Perjalanan masih sangat panjang.

Rasanya ingin mengobrol denganmu. Sambil makan. Sambil naik Vava. Sambil duduk di bangku esemma. Haha. Banyak yang ingin kuceritakan. Yaa, walau tak penting-penting amat siy. Tentang mimpiku tiap malam misalnya, ah, itu nyaris tak pernah kulakukan lagi bersama orang sekarang. Atau tentang orang-orang aneh di sekitarku. Atau juga tentang prediksi ‘dia suka sama siapa’—yang dulu pernah kita lakukan. Hum..

Oh iya, tentang si Dewi Fortuna. Ia masih menjagaku nampaknya. Haha. Kaubilang aku selalu beruntung. Kau iri? Haha. Tidak kok. Kadang aku melalui hari-hari yang tidak menyenangkan. Hari-hari penuh rindu kampung halaman. Hari-hari yang membosankan. Hari-hari yang melelahkan. Yaa, aku sebenarnya tidak pernah seberuntung yang kaupikir. Aku hanya coba menganggap itu hal yang wajar dan menyenangkan. Selebihnya, bonus dari Tuhan.

Jika aku ingat-ingat lagi kisah perjalanan kita (halah), rasanya masih hangat-hangat saja. Seperti serabi dekat Lapnas yang baru diangkat. Belum dingin. Tidak banyak yang berubah.

Berawal dari bindermu. Kemudian komik. Novel yang disita. Kartu tarot buatanmu. Novbung. Nomor hape beda satu digit. Kucing-kucing. Teka-teki. Bakso. Rie-Fu. Yui Yoshioka. Sheila On 7. Lembaran-lembaran. Toko-toko. Jaket dan baju kembar. Jalan-jalan. Peluk dan tangis di ESQ. Lambaian tangan.

Aku tak bisa jabarkan satu per satu. Terlalu indah. Halah.

Makin hari, kulihat kau semakin alay. Wkwk. Saride kah pelaku utamanya? Apa yang dia lakukan padamu? Apa ia menelepon setiap malam karena kau kini pengguna eksel? Bruakakakak. Ah, kalian.. pasangan teraneh sepanjang zaman.

Eh, hampir lupa. Bagaimana teman-teman barumu? Menyenangkan? Sudah temukan sosok sepertiku yang keren ini tak? Wkwk. Sebenarnya, walau kaukerap katakan sulit berbaur, aku tahu kau punya daya tarik yang sanggup memancing mereka untuk membaurkan diri padamu. Percayalah. Kaukan temukan orang yang tepat untuk menggeser sementara posisiku yang keren ini.

Di usia 19 ini, semoga kau bertambah daging dan lemak. Semoga sehat selalu untukmu dan keluarga di sana. Dimurahkan rizky yang halal dan barokah. Kelak menjadi guru yang menyenangkan untuk murid-muridnya. Semakin tabah menjalani hidup. Semakin pandai mengontrol emosi dan hawa nafsu. Selalu dalam lindungan Allah SWT untuk menjadi pribadi yang mengingatkan sesamanya. Dimudahkan segala kesulitannya. Dijauhi dari marabahaya. Sukses dalam membanggakan orang-orang tersayang, dalam cinta, dalam hidup, dalam persahabatan, hingga segala hal menuju akhirat.

Aamiin allahumma aamiin

Terakhir, aku harap kita akan tetap baik-baik saja. Tetap saling memberikan kabar pun percaya pada satu sama lain, bahwa tak ada yang pernah berhak menjudge salah satu dari kita atas nama ketidaktahuan semata. Aku doakan kausemakin langgeng bersama Saride. Nampaknya, semakin hari dia semakin menggilaimu lho.. wkwk. Dan tentang berita apapun yang kaudengar menyangkut aku belakangan ini. Kuharap kautentu tahu, bagaimana caraku memutuskan sesuatu untuk aku jalani ke depannya. *Eh



wassalam








Salam keren dari sahabatmu yang tak pernah sejauh mata melihat,



Zulfin Hariani


Komentar

  1. kado yang manis sekaLi, kak kenz..
    entah dengan cara apa aku mengucapkan terima kasih atas tuLisan ini..
    aku akan jawab meLaLui bLogku :)

    BalasHapus
  2. wah, templete blog kita sama!! huaaaaaaa >_<

    --'

    BalasHapus
  3. hahaha

    liat kenz~ udah saya posting :)

    BalasHapus
  4. iyoo.. daku uda ke sana kok :)

    domo arigato :)

    BalasHapus

Posting Komentar