Tentang Aku dan Uang(s) :D


Assalaamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh
J

Hai!

Postingan kali ini aku mau berbagi cerita mengenai ‘uang’. Ya, uang. Tepatnya beberapa kejadian yang terjadi padaku di tanah rantau ini dan itu berhubungan dengan uang. Cukup miris sebenarnya. Yaa karena aku dirugikan. Tapi, kalau diingat-ingat lagi siy, yaa emang miris siy  ==”

Bruakakakakak

:D

Okray, cerita pertama. Tentang uang palsu.

Wkwkwk

Iyaaaa, BAYANGKAN! SEORANG AKU YANG KEREN INI!

Jadi, itu adalah hari di mana motorku si Vava berkunjung ke Jogja. Dikirim lewat pos.

Bukan, bukan Pak Pos pelakunya. Pak posnya mah baik :D

Aku ceritain dari awal ajja deh yaa :D

#AlurMajuMundurMajuMundur—ObsesiTukangParkir

Pagi itu aku terbangun dengan anggota tubuh yang masih lengkap. Alhamdulillah. Mata masih di tempatnya, hidung-mulut-telinga-rambut-kaki-tangan juga masih di posisi masing-masing. Kemudian, hapeku bergetar. Ya, cukup bergetar saja, tanpa nada. Itu adalah esemes dari kantor pos. Ia katakan bahwa Vava siap dijemput, dia kirimkan juga alamat yang harus aku tuju.

Pagi itu belum bisa kujemput, ada jadwal kuliah. Pun esoknya dan lusa masih belum bisa. Dan lagi, aku tak tahu bangunan yang di tujukan pada alamat itu berdiri di mana. Aku bertanya pada Sekar, dia katakan jauuuuh dari tempatnya, juga panas. Oke, aku tidak mau merepotkan dia. Aku tanya lagi pada beberapa teman, berharap ada yang sudi mengantar, tapi lagi-lagi mereka berkata, “waaahh, jauhnyaa.. kenapa ngga di kantor pos pusat ajja siy? Itu terselubung lho.”

Ya, aku pun tak tahu mengapa. Apa aku terlihat seperti seseorang yang tahu jawabannya? ==”

Kuputuskan tak meminta bantuan. Haha, masa iya siy aku tak bisa sendirian? Kan ada taxi..

Lalalalala

Ehem, sebenarnya untuk ke sana aku udah mempertimbangkan untuk memakai taxi. Tapi yang lebih aku khawatirkan sebenarnya adalah, “bagaimana aku tahu jalan pulangnya??”

Masa iya naik taxi bareng Vava?
==”

Yodah, aku putuskan untuk menghapal jalan selama berada di taxi.

Sialnya, supir taxi itu ramah. Sangat ramah. Aku tak kuasa untuk tidak mengobrol dengannya. Jalan yang berusaha kuhapalpun tak membuahkan hasil. Yaa, belum sampai tujuanpun, aku sudah lupa sedang berada di mana.

==”

Ada banyak jalur satu arah dan lampu merah. Jalan turunan dan gang-gang juga tidak sedikit kami lalui. Ah, pantas saja mereka katakan jauh dan terselubung. Sekarang aku mengerti.

Well, rasanya pasrah tak tahu jalan pulang di tanah orang itu...cukup...cukuuppp...cukuupp sudaahh kausakiti aku lagiiii...serpihan hati iiiniiii....akan kubawa matiiiii..huuuooo

Aku sampai tujuan. Tanda tangan sana-mari. Dan, tahukah kalian? *njiiiie njiiiiee

Motor kalau dikirimkan via kantor pos itu, bakal dikosongkan bensinnya lho.. aku merasa bersalah pada Vava. Maafkan aku Vava.. berhari-hari aku menelantarkanmu yang tengah penuh dahaga.

Spion Vava juga dicopot keduanya. Ah, dia tampak gundul. Namun setelahnya, dia gondrong kembali. (baca: dipasangi spion)

Bapak Pos membelikanku bensin satu liter. Yaa, cukup untuk Vava belajar merangkak. Selanjutnya, aku akan mencari Pom Bensin saja. Lebih hemat.

Usai basabasi dengan orang-orang di kantor Pos, aku bersama Vava memulai petualangan kami di tanah orang—tentu dengan buta arah.

Hal tak terduga pertama, luar gang lewat taxiku masuk tadi adalah jalur satu arah. Artinya, aku sudah benar-benar tak bisa mengikuti jejak datang tadi. Tidak mungkin aku melawan arus hanya karena ingin mengikuti arah darimana datangnya taxiku sebelumnya.

Okray, don’t be panic, Fin..

Aku ikuti alur jalur satu. Semakin jauh.. semakin jauh dari jalur sebelumnya yang kucoba hapalkan. Berasa horror. Aku malah baca asmaulhusna. Haduh.

Satu hal yang aku pikirkan adalah, aku harus ke Malioboro dulu. Mengapa? Karena tempat yang satu-satunya aku hapal kali pertama di Jogja adalah Malioboro. Letak kost pertamaku lumayan dari Malioboro, lumayan jauh maksudku. Ah, yang terpenting kan aku tahu jalurnya siy. Waktu Mama dan Bapakku di Jogja pun, kami ke Malioboro. Aku juga pernah ke Malioboro sama ibu kost pertamaku—diajak belanja, sendirian pun pernah ke sana.  Pokoknya harus ketemu Malioboro!

Dan yang terjadi adalah. Aku tak tahu jalan Malioboro ada di bagian mana jika dari kantor pos itu. Haha. Pom bensin pun selalu aku lewati, “ntar juga pasti ketemu pom lagi” selalu pikirku. Lambat laun aku berpikir, mending isi pakai yang eceran saja. Sekalian bisa nanya-nanya sama dagangnnya juga gitu maksudnya.

Aku menepi di suatu jalan beraspal. Beberapa trotoarnya retak dan menganga. Ada seorang bapak-bapak tua di sana. Beberapa botol bensin berjejer depan lapaknya. Aku memesan 2 botol. Beliau mengisikan.
“Pak, kalau ke Malioboro lewat jalan yang mana ya?” aku membuka pembicaraan. Namun sang bapak tampak ragu-ragu bicara. Astaga! Aku lupa, pernah ada kejadian dulu sewaktu aku tersesat menuju UMY pertama kali, aku bertanya pada ibu-ibu yang tak mengerti bahasa Indonesia. Waktu itu aku bicara bahasa Indonesia, dia menimpaliku dengan bahasa jawa. Haha. Ora konek.

Kemudian bapak itu meletakkan 2 botol tadi kembali pada rak bensin, namun ia letakkan pada deret terbawah. Aku membuka dompet. Hanya ada selembar seratus ribu rupiah. Gurbak! Semoga ada kembalian. Okray, aku titip pesan kepada siapa pun di luar sana yang membaca tulisan ini, jika kalian bepergian ke mana pun, bawalah uang receh atau setidaknya pecahan uang kecil yang berkisar dari seribu hingga dua puluh ribu rupiah. Mengapa? Karena selain berguna untuk membayar parkir atau membeli sesuatu yang bernominal setara gorengan dan bensin, ia akan sangat berfungsi untuk mengisi kotak amal. *Eh

Aku putuskan tidak memaksa bapak itu untuk kembali ke bangku SD untuk belajar bahasa Indonesia. Aku memberikan seratus ribu, dan menunggu dekat Vava. Si bapak masuk ke lapaknya.

Satu menit.. lima menit.. lima belas menit.. gila! Si bapak lama banget ngambil kembaliannya. Apa ngga ada juga kalik yak? Wah, aku mulai resah. Jadi, ku hampiri beliau.

“Pak..”

Ia seketika melihatku. Raut wajahnya panik. Astaga. Aku banyak salah dengan bapak ini, hidupnya tidak tenang sejak beberapa menit yang lalu bertemu denganku.

“Malioboro! Malioboro!” Ujarnya sembari menunjuk-nunjuk arah yang berlawanan dari arah kedatanganku. “perempata, luruus!” sambungnya sembari memberikanku kembalian beberapa lembar rupiah.

“Matur nuwun, Pak..” sambutku senang. Okray, kata ‘matur nuwun’ itu sendiri pun aku tahu beberapa hari yang lalu dari teman-teman di sini. Langsung praktek deh ceritanya. Wkwk

Uang langsung aku masukkan dalam dompet. Kemudian kembali bertualang.

Singkat cerita, aku ketemu Malioboro. Rasanya seperti ketemu buah manggis tanpa tulang dan kulit. BAHAGIA! Seketika aku tahu jalan pulang. Wah, gosong deh kalau tersesat di Jogja itu.

Nah, sekarang ke benang merah cerita..

Menyoal uang palsu.

Yaa, dia pelakunya. Si bapak-bapak yang ternyata mengerti pertannyaan, “Pak, kalau ke Malioboro lewat jalan yang mana ya?” tadi. Huft.

Rasanya?

Tak terasa..

Haha  ==”

Mau gimana lagi cobak?

Itu uang aneh banget. Lebih tebal, ukurannya juga lebih kecil setelah kuukur dengan uang yang setelahnya kuambil di ATM, gambarnya buram, permukaannya mulus. Ah, aku seharusnya memeriksa sedari awal. Lima puluh ribu melayang~

(uang palsu) ukurannya beda
(uang palsu) waktu diterawang
(uang palsu) waktu dibelah

Kini sisa di dompetku empat puluh ribu saja. Seharusnya seratus ribu bisa aku gunakan untuk beberapa minggu ke depan. Huft..

Aku amati si uang palsu, aku terawang. Wah.. pakai kertas majalah pun dia bikinnya.. ada tulisan apaa gitu khas majalah di terawanganku. Haha.

Tapi, setelah aku pikir-pikir.. selama di Jogja ini aku belum pernah sedekah hingga hari itu. Astagfirullah.. betapa baikknya Allah membantu aku bersedekah pada seorang yang tepat dan mungkin lebih membutuhkan. Dan notabenenya sedekah itu pun untuk kebaikan diriku sendiri pada akhirnya. Well, baiklah.. semoga Allah memaafkan aku, memaafkan bapak tua itu, dan memaafkan si pembuat uang palsu itu juga. Hitung-hitung pengalaman megang uang palsu dan tertipu uang palsu juga. Wkwk. Kapan lagi cobak? *Eh

Dan hingga kini, aku menyimpan uang itu. Tak berniat sedikitpun menggunakannya. Tak tega pada si penerima nanti jika-jika dagangannya malah jadi rugi gara-gara aku. Maka aku belah-belah itu uang palsu. Biar sekalian ga bisa dipakai. Ehehe

:D

Itulah.. cerita tentang uang palsu :3

Uda lama banget siy kejadiannya. Laamaaa banget malah. Waktu awal-awal masuk kuliah. Eh, sekarang udah semester dua ajja :p

Tapi yaa itu tadi, berasa gimanaa gitu yaa kalau belum cerita. Secara si palsu pun aku lihat tiap hari di kamar :D

Humm..

Ada satu lagi juga siy niy. Masih tentang uang. Kejadiannya bulan kemarin. Ragara inisiatif berhemat yang kian parah. Ketimbang beli celana baru karena celana yang lama udah kusam, aku memilih untuk menaptol celana-celanaku.

Naptol?

Itu lho, dicelup. Jadi, yang hitam dinaptol hitam jadi makin hitam pun terlihat baru, yang putih dinaptol cokelat. Pun rencana menaptol celana yang satu lagi pakai biru jadi gagal ragara persediaan warna birunya si bapak waktu itu udah habis. Ga enak mau ke tempat naptol lain. Huhu

Yang terjadi adalah?

Ya, salahku tak memeriksa saku celana-celana itu. Haha. Dan karena kejadian itu pun aku dapat menilai si bapak-bapak naptol. Dia seorang yang jujur  J

uang korban naptol

Tak serugi pada cerita sebelumnya. Yang ikut ternaptol adalah dua lembar uang dua ribu rupiah. Yaa, aku rugi empat ribu rupiah pada akhirnya. Tapi, aku malah tertawa.

Bruakakakakak :D

Yak ampun!

Aku malah ada niatan untuk menggunakannya belanja. Masih keliatan kok angka 2000 di pojoknya. Tapi kasus kali ini beda, kan? Tak mungkin bisa :D

masih terlihat 2000

So, yodah.. aku simpan saja lagi uang itu. Di tempat yang sama dengan lima puluh ribu yang telah termutilasi sebelumnya. Entah suatu hari nanti mereka menjadi apa jika semakin lama aku simpan. Hum.. hitung-hitung jadi saksi perjalananku menuju sukses nanti sajalah :D

Akan kuceritakan pada anak-anakku suatu hari nanti,

“Ini lho.. uang-uang yang menjadi saksi perjalan Mama sehingga bisa menjadi Mama hebat buat kalian..”

Bruakakakakakakak

:D

wassalam

Komentar

  1. Ngeri liat uang itu, hoho
    turut berduka cita, bawa pulang uang itu nanti! Aku kan ingin bertemu :D wkwkwk

    BalasHapus
  2. Yesy Ardianti14 Maret 2013 14.12

    mendebarkan.

    BalasHapus
  3. @ Mbak iin :: wkwk.. ah, iya deh. kalo inget :p

    @ Yesy :: untung ga sampe copot :p

    @ Senpai :: tumben mampir lagi :D wkwk
    ah.. >_<

    BalasHapus

Posting Komentar