Dua Kelopak Terbuka



Ketika aku tak lagi dapat menenangkanmu. Tak lagi jadi satu-satunya yang kautuju. Tak lagi jadi sesuatu yang berharga.

Kaupernah dengar?

Tentang batu dan embun. Tentang batu dan besi. Tentang api dan air.


Masing-masing kita bisa menjadi salah satu dari kesemuanya. Aku bisa menjadi batu, embun, besi, api, bahkan air. Pun kaudemikian.


Sekeras apapun batu, jika kauletakkan ia di bawah langit beratap embun setiap malam. Ia akan melapuk. Walau kaubutuh lumut untuk itu. Walau kaubutuh bakteri untuk itu. Sekeras apapun ia, jika embun tempai terusmenerus tiada henti, tak mustahil embun dapat hanyutkan ia suatu pagi nanti.


Namun ada yang terlupa. Batu tak selalu ada di luar pintu. Ada batu yang terlalu indah, disimpan dalam rumah. Ia indah, sungguh indah, tapi tidak pernah bertemu embun. Benar, dia keras dan indah.


Kemudian, tentu kautahu tentang besi. Banyak orang gunakan ia sebagai bahan bangunan. Tentu karena ia kokoh, kuat, keras, tak jauh berbeda dari batu. Tak peduli siapa yang lebih keras, lebih hebat, lebih tangguh.. namun ketika batu dan besi bertarung tiada henti, keduanya merugi. Minimal terluka, maksimal binasa. Mereka keras. Ya, mereka berdua sama-sama keras. Bahkan ketika salah satu dari mereka ingin mengalah, takkan ada yang dapat melunak. Tak ada yang bisa melunakkan.


Namun ada yang terlupa. Jika kauingin membangun rumah indah yang tak mudah goyah, batu dan besi adalah elemen terbaik menegakkannya. Tak peduli siapa yang paling hebat dan kuat. Segala hal yang mudah mencelakai sebaliknya paling mudah melengkapi, melindungi, berdiri sejajar. Suatu hal yang pandai meremukkan selayak batu dan besi kadang tak adil dalam pandangan. Ya, mereka dipandang sebelah kelopak terbuka saja. Kaupernah bayangkan ketika mereka ditakdirkan bersama? Bukan, bukan untuk saling menghancurkan. Tapi melindungi. Benar. Pernah? Sungguh pernah??  Samaratakan kekuatan, berpegangan tangan, berdiri, saling melindungi.


Juga apa kaupernah dengar tentang api dan air? Itu mengenai kobaran panas juga cairan penyejuk. Api dan air tidak dapat bersatu. Walau air mampu padamkan api, dan api takluk pada air. Mereka seimbang. Benar, namun air menang di atas ketiadaan.  Itu mengenai sepasang unsur selaras-serasi, dapat meredam, namun selalu sendirian. Kaupernah bayangkan? Bertemu dengan seseorang yang dapat kauredam pun meredam, namun kau dan dia tak bisa bersatu? Kau tahu air tangisan yang meredam itu?


Namun selalu ada yang terlupa. Dalam pandanganku, wujud bukanlah permasalahan utama. Tapi jumlah! Takaran! Intensitas! perbandingan banyak! Bahkan jenis!. Air tak selamanya menang dari api. Apa cukup dengan seember air kaupadamkan pabrik batu bara yang dimabuk lidah naga? Apa selamanya benda cair itu memadamkan? Tidak. Takaran itu penting. Seember air bahkan dapat lenyap sedetik jika kauguyur pada pabrik batu bara tadi. Menyoal jenis, tentu lebih menggelikan lagi. Bagaimana jika wujud cair itu adalah bensin? Spiritus?


Terlalu banyak hal yang tersaji di hadapan kita dengan porsi siap santap. Persepsi tiap kita pun tak pantas lagi tersebut persepsi jika kita—memang benar—seketika menyantap. Setiap orang punya sudut yang berbeda dalam memandang. Aku mungkin terlalu mengikuti egoku. Terlalu menganalisis. Terlalu idealis.. Menjadikanku terkesan mencari peluang di detik terakhir. Menjadikanku terlihat bodoh dan tak mengerti. Ya, aku tahu itu. Kabar baiknya aku sadar bahwa aku begitu. Ada beberapa hal yang selalu ingin aku pegang. Beberapa hal lainnya ingin kuubah jika bertemu orang yang tepat. Celakanya, kita tidak bisa memilih jatuh cinta pada orang yang tepat ataupun sebaliknya, kan? Beberapa hukum alam tentang embun-batu-air-api nyatanya terlalu melekat pada banyak orang.

Hanya kebijaksanaanlah, yang mampu ratakan mereka.

Yang mau menatap dengan dua kelopak terbuka.








Yogyakarta
26.04.13/12.40 AM

Komentar