Bukan Cerita Horror



Selalu ada alasan yang tidak dapat kupahami.
Ketika ternyata tanpa sadar aku mau untuk bertahan, lebih lama, menghadapi kemenyebalan seseorang.
Aku tidak menyangka, setahan itu.
Entah.
Karena dulu, aku pernah berpikir tanpa sepengetahuan dia.
Tentu.
Bahwa mungkin, tidak akan pernah ada seseorang yang tahan, atas kemenyebalannya.
Jika pun ada, seseorang itu pasti telah menebal hatinya, olehnya, tak ada alasan untuk dia tidak mempertahankannya.
Pernah, aku di titik jenuh.
Bosan.
Capai.
Sebal.
Karena dia sungguh (dalam pikiranku) tak pernah mau mengerti.
Terlalu egois.
Hanya ingin dia yang dipikirkan—diperhatikan—dijaga perasaannya.
Kemenyebalannya sudah menyerang ubun-ubunku.
Huh. Kesal.
Tapi, selalu.
Entah itu apa.
Dengan cara apa.
Dia (sejauh ini) selalu bisa.
Netralkan semua.
Aneh.
Dasar aneh!
Kadang aku meledak, sendirian.
Ya, aku meledak namun tertangkap bisu olehnya.
Tentu.
Karena untuk apa? Lebih baik diam.
Maka aku geram,
terasa kesal jika
kabut datang
suram dan dingin
sepi dan gelap.
Tak bersemangat.
Maka semoga aura segar pagi selalu menyelimuti, kita.
Menyenangkan dan terang.
Kaubahkan bisa amati kristalan embun yang bergelayut pada tiap jaring hewan berkaki banyak.
Sejuk.
Aku tak berharap lebih.
Tak menuntut.
Cukup begini dengan rasa nyaman dan ‘ada’
Biarkan saja ia turut terbawa arus, seperti daun yang gugur di pagi hari, terbawa riak sungai.
Kadang tersangkut.
Karena kita tidak pernah tahu rencana Tuhan, Kanda.
Kepada kau, hei, hentikan kemenyebalan itu yaa.
Apa sekali ini aku boleh meminta untuk seterusnya sama?
Aku tak selamanya berdiri di garis lurus dengan tegap.
Awas saja.
Dan,
Kauharus benar-benar bertanggung jawab sekarang.
Seperti yang pernah kuwanti-wanti dahulu, dan kautelah sepakati.
Bertanggung jawablah.
Atas apa yang terjadi pada kita
Padaku atasmu, Arka.





: Bukan Cerita Horror
:p


Yogyakarta
03:50 PM
040513

Komentar