STRATEGI MANAGEMENT PENYIARAN RADIO GERONIMO YOGYAKARTA DALAM MENARIK MINAT PENDENGAR

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Dewasa ini, perkembangan zaman yang kian canggih menghantarkan segala kemudahan bagi anak-anak bangsa. Mengakses informasi untuk kebutuhan sehari-hari semakin mudah dan cepat. Perkembangan teknologi yang semakin tak terkendali menumpulkan daya kreatifitas anak bangsa untuk lebih selektif menerima informasi.
Media yang mencerdaskan malah semakin ditinggalkan. Kaula muda kini beralih pada alat-alat elektronik (gadget) untuk diandalkan dalam mendapatkan informasi. Media informasi lama seperti radio misalnya, semakin hari semakin tidak dilirik keberadaannya.
Radio merupakan media massa paling luas di muka bumi. Tidak ada sejengkal tanah dan permukaan lautpun yang tidak terjamah oleh signal elektromagnetik yang dipancarkan oleh lebih dari 35.000 stasiun radio di seluruh dunia. Total jangkauan radio melebihi media televisi dan—apalagi—suratkabar atau media cetak. (Asep Syamsul M. Romli, 2004:7)
Padahal, manfaat dari radio itu tidak sedikit, dari penyampaiannya yang cenderung cepat karena tak melalui banyak proses serumit pertelevisian dan surat kabar Ia juga lebih hangat dengan gaya penyampaian yang dapat mendalami emosi pendengarnya, paduan kata-kata, musik, dan efek suara dalam radio seringkali membuat pendengar berpikir bahwa penyiar adalah seorang teman bagi mereka. Radio juga mampu menembus SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan) dari segala kelas sosial, hanya tunarugu yang tak mampu mengkonsumsi atau menikmati siaran radio. Radio juga lebih murah jika dibandingkan dengan berlangganan media cetak atau harga pesawat televisi, ia lebih fleksibel karena dapat dinikmati sambil mengerjakan hal lain tanpa mengganggu aktivitas yang lain, seperti memasak, mengemudi, belajar, dan membaca koran atau buku.
Di Indonesia sendiri, sejarah Radio Republik Indonesia bermula sejak pendiriannya secara resmi pada tanggal 11 September 1945, oleh para tokoh yang sebelumnya aktif mengoperasikan beberapa stasiun radio Jepang di 6 kota. Rapat utusan 6 radio di rumah Adang Kadarusman Jalan Menteng Dalam, Jakarta. Sehingga menghasilkan keputusan mendirikan Radio Republik Indonesia dengan memilih dr. Abdulrahman Saleh sebagai pemimpin umum RRI yang pertama.
Tokoh-tokoh yang berperan penting dalam membesarkan dan membuat radio dapat kita nikmati selama ini yaitu James C. Maxwell yang menemukan teori gelombang elektromagnetik pengantar sinyal radio, Hendric Hert yang membuktikan teori elektromagnetik itu benar-benar ada, kemudian Gaglieso Marconi yang menemukan metode transmisi suara tanpa bantuan kabel, dan Nikola Tesla yang bereksperimen tentang berbagai susunan transmisi tanpa kabel. Nama lain yang tidak kalah pentingnya adalah Lee De Forest, Ambrose Fleming, Reginald Fessenden, dan David Sarnoff.
Pentingnya komunikasi dalam kehidupan mengikuti zaman memang sangat berperan besar. Bahkan, seseorang yang dapat menguasai sumber media komunikasi berkemungkinan lebih besar untuk menguasai lingkungan sekitar jika dibandingkan dengan mereka yang tidak. Maka, seiring dengan berkembangnya zaman, banyak alternatif penyedia informasi yang ditawarkan kepada masyarakat untuk mengakses secara lebih mudah dan modern. Seperti yang paling sering kita temui pada kaula muda masa kini, bermacam jenis gadget yang memudahkan justru malah memanjakan hingga mampu menumpulkan jiwa kritis dan usaha mereka sendiri dalam mendapatkan info yang lebih terpercaya. Selain itu, pemikiran yang mengatakan bahwa radio sebagai akses jadul dalam pertelekomunikasian menjadikan peminat pendengar radio kian hari kian berkurang.  Kaula muda lebih memilih untuk mengakses informasi dari jejaring sosial yang sumber informasinya notabene adalah orang-orang dari kalangan mereka sendiri, tanpa filter dan batasan.
Apapun alasannya, yang jelas, siaran gelombang pendek sedikit demi sedikit terus berkurang. Salah satu contoh terbaru adalah pengurangan siaran sw dari Radio Exterior de Espana (Siaran Luar Negeri Radio Spanyol) yang sejak 27 November 2012 telah menghentikan sejumlah besar siaran sw mereka dalam berbagai bahasa dan wilayah sasaran siaran. Jika sw benar-benar harus hilang dari kiprah media penyiaran, maka sungguh banyak pendengar yang merasa kecewa dan menjadikan sejarah itu sebagai pengalaman masa lalu. Sementara anak cucu sebagai generasi berikutnya hanya kebagian ceritanya saja (http://mapem-club.org/2012/12/10/sedikit-demi-sedikit-dunia-meninggalkan-radio-gelombang-pendek/, akses Maret 2013).     
                Tergerusnya harta warisan melalui gelombang elektromagnetik ini layaknya dipertahankan. Karena membiarkannya terkubur zaman merupakan tindak tak sepantasnya oleh kita untuk generasi selanjutnya.
            Seperti sebuah pribahasa yang mengatakan, “habis manis sepah dibuang.” Memang terlihat saru pada kenyataan yang kini terjadi. Radio perlahan ditinggalkan, tanpa digali lebih dalam dan diresapi segala kebaikan yang terkandung di dalamnya. Radio menolak mati karena munculnya televisi dan diuntungkan oleh beberapa ciri-ciri penting. Persaingan dengan televisi membawa kepada derajat pembedaan yang hati-hati. Pengawasan yang ketat terhadap sistem radio nasional mulai mengendur setelah munculnya televisi dan fase-fase ‘pembajakan’. (McQuail Denis, 2011:39)
Pada penelitian ini, peneliti memfokuskan pada mahasiswa jurusan ilmu komunikasi yang seharusnya lebih peka terhadap media, namun malah ikut tergerus moderenitas yang berdampak pada penumpulan kepekaan. Radio sebagai media komunikasi yang mulai ditinggalkan seharusnya lebih dipertahankan eksistensinya, karena dengan mengamati perkembangan generasi bangsa yang semakin hari semakin pasif karena dimanjakan oleh segala kemudahan, secara perlahan hal itu akan melumpuhkan bangsa.
Dalam konteks internal, Geronimo FM dikelola dengan format tampilan top 40 dengan selalu memperluas wawasan broatcaster-nya yang berfungsi sebagai kawan berproses masyarakat Yogya muda usia, serta meningkatkan ketrampilan masing-masing SDM dan selalu inovatif dalam mengelola bisnis radio.
Sedangkan dalam konteks eksternal, Geronimo FM aktif mengelola komunitas anak muda Yogya termasuk mereka yang berjiwa muda dalam semangat kebersamaan, mengelola jaringan bisnis yang berkait dengan radio dalam konteks saling menguntungkan dan selalu menyuarakan keberadaan Geronimo FM baik dalam skala lokal, nasional, maupun global.
Rasa haus dari seseorang creator merupakan peluang besar untuk menghasilkan yang baru dan tentunya dapat bermanfaat bagi orang lain. (Miftahul Arzak dalam Joglo Semar edisi Sabtu 9 Februari 2013 halaman 21)                    
            Dari kutipan di atas dapat terlihat bahwa kreatifitas merupakan kebutuhan utama yang harus dimiliki oleh jiwa yang memimpikan perubahan. Untuk membangkitkan kembali kepekaan kaula muda atas eksistensi radio, tentu dibutuhkan suatu strategi dan management yang jitu.Radio Geronimo memiliki visi untuk menggagas kehidupan anak muda yang dinamis, santun dalam bertindak, mempunyai cita-cita tinggi, dan berpandangan luas ke depan tanpa kehilangan latar belakang. Sedangkan misinya yaitu untuk membantu kaula muda yang sedang mempersiapkan masa depan kehidupan selagi mereka masih muda, dengan selalu mengingatkan pada dasar pijakan budayanya dan untuk sadar pada dinamika perubahan dalam wujud program media radio siaran. (Sumber: Brosur Radio Geronimo).
            Geronimo FM yang memiliki jargon The Real Sound of Yogya ini sudah cukup popular di kalangan remaja. Hal itu berkaitan dengan target market Geronimo FM sendiri yaitu anak muda yang berusia 12-24 tahun.
“Secara umum sasaran kami adalah anak muda yang berpendidikan atau yang sedang menempuh studi. Namun tidak menutup diri pada eksekutif muda yang menyukai dan sangat loyal dengan program Geronimo FM.” [Adam: 2013 (43)].
Untuk mempertahankan keaksistensiaannya, Geronimo FM mengatur susunan on air program sedemikian rupa. Adapun prosentase siaran musiknya 45% Indonesia, 5% World, dan 50% International.
Radio Geronimo yang berlayar pada frekuensi 106.1 FM di atmosfer Yogyakarta merupakan salah satu pelopor untuk mempertahankan eksistensi dunia penyiaran melalui radio.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan suatu permasalahan yaitu:
1.      Bagaimana strategi management penyiaran Radio Geronimo sehingga dapat menarik perhatian pendengar?


C.     Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan permasalahan di atas dapat ditentukan tujuan dari penelitian, yaitu:
1.      Untuk mengetahui bagaimana strategi management  penyiaran Radio Geronimo sehingga dapat menarik perhatian pendengar.

D.     Manfaat Penelitian
Dengan diadakannya penelitian mengenai ‘Strategi Management Penyiar Radio Geronimo Yogyakarta dalam Menarik Minat Pendengar’, penulis  mengharapkan agar minat pendengar terhadap radio lebih meningkat.
a).  Manfaat bagi penulis dapat menambah khazanah atau pengetahuan tentang strategi management penyiar Radio Geronimo Yogyakarta dalam menarik minat pendengar.
b).  Manfaat Praktis bahwa penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi penelitian selanjutnya bagi peneliti yang ingin mengembangkan topik pembahasan mengenai strategi management penyiar Radio Geronimo Yogyakarta dalam menarik minat pendengar ini.
E.      Kajian Teori
1.      Management Penyiaran
Sejalan dengan perkembangan radio di ajang yang kompetitif, khususnya radio swasta nasional, menjadikan setiap pengelola radio siaran perlu membuat suatu pola atau bentuk dalam program-programnya yang mencerminkan kepribadian atau identitas dari suatu stasiun radio tersebut. Dalam penyajian radio, terdapat istilah management penyiaran. Management penyiaran dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mempengaruhi atau memanfaatkan kepandaian dan atau keterampilan orang lain, merencanakan, memproduksi dan menyiarkan siaran dalam usaha mencapai tujuan. Sedangkan management itu sendiri didefinisikan (Stoner: 1981): proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Few management position offers challanges equal to those of managing a commersial radio or television station. (Pringle, Star, McCavit, 1991).
Yang artinya,
Tidak banyak posisi management yang memberikan tantangan yang setara dengan mengelola suatu stasiun radio dan televisi.  (Pringle, Star, McCavit, 1991).
            Teori di atas menegaskan pengelolaan suatu media penyiaran bergantung pada bagaimana kualitas orang-orang yang bekerja pada ketiga bidang tersebut. Namun demikian, kualitas manusia saja tidak cukup jika tidak disertai dengan kemampuan pimpinan media penyiaran bersangkutan mengelola sumber daya manusia yang ada. Karena alasan inilah management yang baik mutlak diperlukan pada media penyiaran.
            Penyiaran mempunyai sifat-sifat khas, yaitu:
1.      Masa kerja yang relatif 24 jam sehari.
2.      Siaran merupakan hasil kerja dari team.
3.      Siaran merupakan perpaduan kreativitas manusia dan kemampuan sarana
atau alat.
4.      Memerlukan dana besar.
5.      Mampu mengubah sikap, pendapat, tingkah laku manusia lebih cepat.
6.      Memerlukan banyak tenaga profesi.
7.      Merupakan output medium.
8.      Pengelola harus dinamis.
9.      Perlu dikembangkan sikap 3 A.
Sikap 3 A meliputi:
a.       Auditori
b.      Attitud (rumah/akrab dan intim)
c.       Aktif.

Dari uraian pendapat dan pengertian di atas, peneliti menggunakan teori management penyiaran untuk mengetahui strategi management penyiaran radio Geronimo dalam menarik minat pendengar.



F.      Metode Penelitian
1.      Jenis Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah ditulis di atas maka metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan atau melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu secara faktual dan cermat (Rakhmat, 2001: 24)
2.      Obyek Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan “Strategi Management Penyiaran Radio Geronimo Yogyakarta dalam Menarik Minat pendengar”.

3.      Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Jalan Gayam 24 Yogyakarta 552255. Dengan layanan telepon (0274) 511058 dan fax (0274) 588978.
4.      Sumber Data
Sumber data yang digunakan oleh peneliti berupa buku-buku referensi yang berkaitan dengan pembahasan, surat kabar, internet, brosur Radio Geronimo, dan wawancara dengan pihak terkait.
5.      Teknik Pengumpulan data
Peneliti mengumpulkan data dengan teknik wawancara, dan menggali informasi pada internet, buku-buku referensi juga surat kabar dan brosur Radio Geronimo yang diberikan oleh narasumber.
a.       Wawancara
Wawancara adalah pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara langsung oleh pewawancara (pengumpul data) kepada responden, dan jawaban-jawaban responden dicatat atau direkam dengan alat perekam. Dalam melakukan wawancara, peneliti menggunakan interview guide  untuk mempermudah wawancara. Peneliti mewawancarai kordinator management dan music director Geronimo FM.
b.      Dokumentasi
Yaitu mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis terutama berupa arsip-arsip dan juga termasuk buku-buku tentang pendapat teori, dalil atau hukum-hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian (Nawari, 2005: 33). Dokumentasi tersebut berupa arsip-arsip perusahaan seperti daftar program acara dan struktur organisasi.
6.      Teknik Analisis Data
Analisis data, menurut Patton (Moleong, 1996: 103), adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikan ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Patton membedakannya dengan penafsiran yaitu memberikan arti yang signifikan terhadap analisis, menjelaskan pola uraian dan mencari hubungan di antara dimensi uraian sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.
Langkah-langkah dalam analisis data kualitatif yang penulis pakai terdiri dari tiga komponen, yaitu (Miles & Huberman, 1992: 15-21):
a.       Reduksi data
Reduksi data dapat diartikan sebagai proses pemilihan, pemutusan, perhatian, penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Data-data yang telah terkumpul dikelompokkan secara sistematis untuk mempermudah proses penelitian.
b.      Display data
Data-data yang telah dikelompokkan kemudian diolah dan disajikan. Penyajian tersebut diartikan sebagai sekumpulan  informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan melihat penyajian-penyajian maka akan dapat dipahami apa yang sedang terjadi dan apa yang diperoleh dari penyajian-penyajian tersebut.
c.       Verifikasi
Data-data yang disajikan kemudian dibuat suatu kesimpulan yang menyatukan semua data.

7.      Uji Validitas Data
Teknik pemeriksaan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah trigulasi, yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengocekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut. Dalam penelitian ini untuk menguji validitas data akan digunakan teknik trigulasi dengan menggunakan sumber. (Moleong, 1996: 178)
            Trigulasi sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Dalam hal ini peneliti tidak akan menggunakan keempat dari trigulasi tersebut karena sangat sulit bagi peneliti pemula untuk menggunakan semuanya.
            Sedangkan cara-cara yang ditempuh untuk jenis pengujian validitas seperti ini, adalah sebagai berikut (Maleong, 1996: 178):
a)      Membandingkan data dari hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
b)      Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.
c)      Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.
d)      Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang melalui latar belakang.
e)      Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
G.     Daftar Pustaka
Buku:
Agus Salim, Dr., Teori dan Paradigma—Penelitian Sosial, Tiara Wacana,
Edisi Kedua, cetakan ke-1, Agustus 2006.
Asep Syamsul M. Romli, Broadcast Journalism—Panduan Menjadi Penyiar,
Reporter & Script Writer, Nuansa, Cetakan I Mei: 2004.
_________________, Jurnalistik Praktis untuk Pemula, Rosdakarya,
Bandung, Cetakan IV, 2003.
Budhi Wuryanto dan Wanda Djatmiko, Awas, Informaso Sampah!—Matikan
Televisi, Tetaplah Membaca, dengan cerdas, de lokomotif, cetakan I, Juni: 2007.
Charles R. Wright, Sosiologi Komunikasi Massa, Remaja Rosdakarya, 1949.
Deddy Mulyana, Prof., M.A., Ph.D., Anwar Arifin, Prof., Dr., Hafied Cangara, Prof., M.St., Ilmu Komunikasi—Sekarang dan Tantangan Masa Depan, Kharisma Putra Utama, 2011.
Pawit M. Yusuf, Komunikasi Instruksional, Bumi Aksara, Jakarta, 2010.
Sanapiah Fausal, Format-format Penelitian Sosial—Dasar-dasar dan Aplikasi, Edisi I, Cetakan 3, PT RajaGrafindo Persanda Jakarta: 1995.
Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foss, Teori Komunikasi—Theories of Human Communication, penerjemah Mohammad Yusuf Hamdan, Salemba Humanika, 2012.
Wonohito, M. Berita, N. V B. P “Kedaulatan Rakyat” Jogjakarta, 1960.
            Situs web:
            Koran & Brosur:
Joglo Semar edisi Sabtu 9 Februari 2013
Brosur Geronimo FM

Komentar