Apa Saja yang Terjadi di Rumah?

Assalaamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh

Malam itu, aku dan Titin berpisah di Bandara Internasional Lombok (BIL). Titin pulang dijemput kakak sepupunya—namanya Reza kalau tidak salah, kalau salah yaa aku lupa. Sedangkan aku dijemput Mama.

Ah, betapapun tak semeriah sambutan biasanya, kami merasa senang. Kami pulang.

Sepanjang perjalanan menuju Mataram, mama banyak bercerita tentang perkembangan adik-adikku dan rutinitas mereka di rumah. Mama juga menceritakan tentang bapak yang masih saja suka tersesat, kemarin pun mereka tersesat saat menuju BIL. Haha, dasar deh bapakku itu.

Hari Ahad itu bapak tetap bekerja. Karena kendaraannya kami gunakan, pun ia berencana bermalam di rumah hari itu—padahal keesokan paginya ada rapat rutin kantor hari Senin pukul 07:00 pagi. Jika kemarin ia yang coba menjemputku, sekarang berganti aku yang menjemputnya.

Dan aku tak bisa melupakan cara bapak menatapku di hadapan teman-temannya, “Ini anakku.”

Entah karena apa, kurasa beberapa sikapku berbeda. Mungkin terbiasa di tanah rantau sebelumnya. Saat kami makan di Omah Cobek misalnya, aku benar-benar memperhatikan harga dan tak hentinya berdecak. Jika dibanding dengan tempat makan yang biasa aku datangi di Jogja, harga-harga di menu ini sangatlah jauh dari murah. Yasudah, aku pesan Nasi Jogang untuk kita berempat.

Mamaku terlihat semakin berisi. Rambutnya panjang dan lurus, belakangan aku tahu bahwa kali terakhir ia memotong rambut adalah sebelum aku ke Jogja tahun lalu. Bapakku? Tak banyak yang berubah. Namun belakangan aku ketahui bahwa ia telah kehilangan satu buah gigi geraham belakangan ini. Dokter gigi benar-benar melakukan tugasnya dengan baik.

Adik-adikku baru saja menerima rapot. Adek Nini meningkat. Nilainya semakin membaik. Ia mengikuti saranku untuk mengambil kelas IPS dan mencari tahu sebanyak mungkin mengenai jurusan manajemen di perkuliahan nanti. Berbeda dengan adik Omenku, nilainya turun. Peringkatnya naik 2 tingkat. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Hei, Dek..

Sesungguhnya betapa beruntungnya kalian jika kalian mau menyadarinya. Fasilitas apa yang tidak kalian punya? Nasihat dari orang-orang hebat mana yang tak pernah kalian terima?

Saat kalian menjadi anak kost kelak, kalian akan sadar. Betapa fasilitas kalian akan tertunjang ketika kalian mengerti arti berbagi pada sahabat. Pemikiran waras kalian adalah nasihat satu-satunya yang dapat diterima dan mendekati hati kalian sendiri. Betapa aku belakangan ini rindu dengan nasihat-nasihat seperti apa yang kita dengarkan dari mama dan bapak malam itu. Kalian dapat mendapatkannya setiap hari dengan cuma-cuma. Sedang kakak? Rasanya benar-benar haru dan tersentuh dengan tiap pengakuan, harap, dan dorongan mereka malam itu.

Lalu kami melakukan ritual kami. Itu bisa dibaca di sini.

Lagu Ingin Pulang empunya Sheila On 7 terdengar tak semenyayat sebelum-sebelumnya. Aku menikmati tiap momen. Makan dengan nasi yang mudah dikunyah di depan layar televisi yang lebar, kipas angin bergeleng-geleng, kasur empuk, lauk penuh, minum es sirup, buah berceceran, surga dunia..

Wifi di rumahku semakin menggila. Ia kini nonstop 24 jam dengan jarak jangkau hingga berugak depan rumah. Aku tak perlu lagi harus ke warnet, meminjam modem Yayuk, Mbak Fitri, Aflah, atau ke kampus seperti yang biasa aku lakukan di tanah rantau demi mengaskes internet sebebas ini.

Tapi, beda cerita siy kalau aku ke Ijobalit :D

Satu hal yang terlupa adalah, aku tak punya kendaraan penunjang untuk bepergian. Kami punya masing-masing motor, dan Vavaririyoyo tertinggal di Kos Mawar. Sedang adik-adikku mulai bersekolah dan ada kegiatan tiap sorenya. Nini dan Omen sekolah di SMA yang berbeda dan berjauhan, itu mengapa kemungkinan untuk mereka menggunakan satu motor untuk bersama sangat sulit. Terlebih Omen bersama pacarnya. Jadi, aku mengandalkan antar-jemput Bibi Ratna. Sekarang pun, ketika aku menulis catatan ini, aku terjebak di Ijobalit. Jikalau ingin ke Selong pun, harus ada yang mengantar. Minimal ojek. Haha.

Owh, mengenai Khaylila?

Subhanallah, hingga kini aku masih tidak percaya. Ia tumbuh menjadi sangat besar dan pintar!

Dulu saat aku tinggalkan, ia berusia 4 bulanan, belum bisa melakukan banyak hal. Sekarang? Umurnya sudah setahun lebih. Yaa, dia lupa padaku. Lupa segala tentangku. Haha

Yaa, wajar saja siy. Diakan masih sangat dini untuk memahami hal itu. Tapi kok rasanya sedih sekali yaa, dilupakan? Terlebih ketika kita sudah terlanjur sayang. Aku pernah membuatnya jatuh cinta padaku setahun lampau, yaa tepatnya, kita saling jatuh cinta. Hanya saja, sekarang ia tengah melupa. Jadi, kuputuskan untuk membuatnya jatuh cinta sekali lagi padaku. Aku pasti bisa. Haha. Dan aku sadar, siklus melupa dan jatuh cinta ini akan berlangsung setiap tahun kepulanganku. Ah, tak masalah. Jika harus, aku akan membuat Khaylila jatuh cinta padaku setiap tahunnya.

Tentu keterkejutanku ini sesuai dengan baju yang aku bawakan untuknya. Kekecilan! Aku bawa dua pasang, dan dua-duanya kekecilan! Huft.. padahal bapak yang dagang bajuu itu bilang kalau itu baju untuk ukuran bayi usia 1 sampai 2 tahun. Ah!

Bibi semakin kurus. Embah juga, rambutnya semakin putih. Kami berpelukan. Seperti teletubis. Bedanya, teletubis tidak pernah menangis ketika berpelukan.

Aku memiliki proker (halah), menggembleng adik-adikku belajar Bahasa Inggris selama aku di Lombok. Ah, betapa bahasa Inggris itu sangat penting, ternyata. Dan mereka harus bisa. Yaa, hitung-hitung aku belajar juga. Aku rasa bahasa Inggrisku memburuk tiap waktunya. So that, mengajari sembari belajar adalah simbiosis mutualisme yang kupilih untuk memecahkan persoalan ini. Hum..

Banyak hal yang ingin aku lakukan. Belajar menggunakan motor gigi (rugi banget rasanya cuman bisa pake motor matic!), menyetir (supaya kalau di Jogja mau nyewa mobil ga nyewa supir juga, hemat!), rehap blog (mumpung mudah akses internetnya), buat pasport, belajar pakai mesin jahit (pengen buat sesuatu dari tanganku sendiri untuk kubawa ke Jogja nanti. Hehe), belajar potong rambut (belajar dari mama, ntar siapa tahu bisa buka usaha potong rambut di kosan. Haha), mengunjungi rumah teman-teman (ini agak sangat berat tanpa Vava), ke pantai-pantai (mau poto-poto dan pamer ke anak-anak Jogja. Wakakakak), ke Rinjani (Lombok terkenal dengan Rinjani, Pigi—teman buleku, pernah ke Rinjani. Banyak juga teman-temanku yang malah ngga asli Lombok lebih banyak tahu tentang Rinjani ketimbang aku. Itu miris. Dan aku memang sedari dulu ingin berada di tempat indah yang setinggi itu), ke Sembalun metik stroberry dan semangka, buber Fospast (ini harus terealisasi! Semester awal masih sangat memungkinkan kita untuk berkumpul. Berbeda dengan semester-semester selanjutnya. Saat ini adalah moment yang paling bagus!).

Dan kesemua itu masih dalam proses. Haha.

Aku sadar kemampuan waktu. Ia dapat seolah, mempersingkat, mengulur, melukai, menyembuhkan, mendewasakan, menghapus, dan banyak lagi yang tentunya tak akan pernah habis. Aku curiga bukan waktulah yang melakukan itu semua. Entah siapa.

Dan Ramadhan kali ini masih aku jalankan dengan keluarga di tanah tercinta Lombok Island. Entah apa yang terjadi di kesempatan tahun mendatang. Apa yang ada sekarang, sangat pantas aku syukuri dan jalani sepenuh hati. Welcome Ramadhan. Nice to meet you again! Jeda waktu pertemuan kita yang lalu cukup mengajariku banyak hal tentang hidup. Semoga tahun ini menjadi lebih baik. Aamiin. Aku ingin benar-benar suci kembali. Tak ada dendam, tak ada rasa yang menyakitkan. 

Hello.. orang-orang yang pernah singgah di hidupku. Terimakasih banyak yaa. Aku tidak pernah menyesali satupun, kehadiran kalian di hidupku. Kalian adalah pembelajaran terhebat dari Tuhan untukku, agar aku dapat terus tumbuh menjadi lebih baik lagi. Sekali lagi, terimakasih.



wassalaam




Ijobalit
12/07/2013
12:04 PM

Komentar