Mudik Terkeren :D

Assalaamualaikum warrahmatullahi wabarrakaatuh
:)

Hai, sudah lama tak bersua untuk berbagi cerita. Maaf atas kealpaanku yaa. 

Entah. Tulisan kali ini sangat aku pertimbangkan waktu pemostingannya. Mengapa? Karena ingin menjaga seseorang^^. Halah. Terserah deh, mungkin sudah basi. Tapi tidak akan pernah salah untuk pelengkap dokumentasi perjalanan hidupku. Huhu. Well, sepertinya ini akan lumayan panjang. Yaa, sepertinya lho yaa. Dan masih, aku tidak peduli. Haha. Toh aku menulis untuk kepuasanku sendiri. Dan kamu, orang-orang yang membaca sampai akhir, adalah memang orang-orang pilihan Tuhan :p

Ini tentang pengalaman.

Yaa, Maha Baik Allah yang ingin aku merasakan banyak hal. Dia ingin aku mengalami banyak pembelajaran. Dia ingin menempatkan aku pada posisi yang bahkan tak pernah aku bayangkan. Dan cerita kali ini mengenai mudik Ramadhan pertamaku dari tanah rantau Yogyakarta.

Jauh sebelum bulan Juli datang, Bapak merekomendasikan untuk aku mudik di hari Sabtu awal bulan Juli. Itu adalah tepat tanggal 6 di minggu pertama. Kenapa? Karena hanya hari itulah beliau memiliki banyak waktu senggang dan dapat menjemputku di bandara. Ia tak izinkan aku dijemput orang lain, jika masih bisa ia yang lakukan, katanya, maka harus dia.

Jadilah aku memesan tiket pesawat untuk Sabtu 6 Juli 2013. Bapak dan Mama menyarankanku untuk menggunakan Garuda, maskapai yang paling mereka percayai. Namun pertimbanganku berhasil meyakinkan mereka, tak harus Garuda jika ada yang lebih terjangkau dan aman. Maka aku memilih Lion Air.

Pada awalnya, tiket yang kubooking sedari Jogja hingga Lombok. Namun, pada akhirnya aku memutuskan mengambil tiket dari Surabaya ke Lombok saja. Itu artinya, sedari Jogja aku tidak menggunakan pesawat seperti rencana semula dan saran orangtuaku. Aku memutuskan menggunakan Bus bersama Titin—temanku, untuk mencapai Surabaya. Niatan itu berulangkali menuai kecaman dari pihak orang-orang rumah. Terutama Bapak, Mama, dan Bibiku. Kemungkinannya adalah karena sebelumnya, aku tidak pernah menggunakan Bus. Yaa, aku memang tipikal orang yang tidak suka menggunakan kendaraan umum yang berpotensi menampung asap-asap. I hate smoke. So, setelah kujelaskan alasanku, mereka mau menerima. Yaa, itu hemat enamratus ribuan, sebanding dengan harga tiket pesawat menuju Surabaya.

Sudah aku perkirakan sedari jauh-jauh hari, untuk menabung dan menggunakan uang tabungan di momen-momen seperti ini. Aku ingin membeli tiket dengan sisihan jatah bulananku. Itu berhasil, uang untuk membeli tiket tak perlu dikirim. Pun karena ada beberapa rencana besar yang aku rancang di bulan-bulan mendatang, keuangan harus benar-benar aku rapikan.

Mamaku katakan tak perlu membeli oleh-oleh. Toh aku ke Jogja untuk menuntut ilmu, bahasa kasarnya mengeluarkan uang, bukan mencari uang. Mereka hanya meminta Bakpia. 

Dan aku sudah menduga itu. Kabar baiknya aku berhasil menabung, kan? Itu sekitar satu jutaan, so, I used that for buy some ‘oleh-oleh kejutan’ untuk mereka. Ah, aku suka wajah-wajah terkejut bahagia.

Memang tak seWOW pemberian mereka padaku selama ini, maka aku berjanji suatu hari nanti jika sudah bekerja, akan mudik dengan oleh-oleh yang berkali lipat lebih mengesankan daripada sepotong baju yang aku belikan hari itu.

Bunga pesanan mama

Singkat cerita, segala rencanaku berjalan mulus. Yaa, aku selalu penuh dengan rencana-rencana, terkadang sedikit gila. But, I enjoyed it. Segala urusan di Jogja aku bereskan secepatnya. Mulai dari kampus hingga kost. Dan itu lumayan menyita banyak tenaga juga waktu. Teman kostku yang bernama Aflah, membantuku beres-beres kamar, packing, dan berkeliaran di Jogja mencari alamat yang kudapat untuk Bakpia yang murah meriah.

Okray, so, special thank’s for Aflah. Sudah gulung karpet dan kasurku. Sudah menggunakan kemoceng secara maksimal pada tiap rak buku. Juga menyapu pada lantai kamarku yang padahal, ntar kalau aku uda dateng lagi bakalan berdebu juga. Haha. Dan, kenapa kauselipkan uang sepuluh ribu pada saku celanaku?? Huaa! Aku sadar ketika sudah di Lombok. Aku kan sudah bilang, makan siang yang itu aku gantian yang bayar! Huh! ==” but, over all, you are so kind person, good friends ever.

Barulah aku sadar, koperku kecil. Titipan barang beberapa teman cukup menjejal juga. Aku bahkan tak membawa sepatu atau alas kaki apapun kecuali yang kupakai. Kebutuhan orang rumah yang aku utamakan. Mukena untuk sholat Ied pun tak aku bawa, biar pakai punya mama saja. Baju hanya 3 potong, entah, rasa-rasanya aku akan membutuhkannya dalam perjalanan. Jaket kebanggan Fospast bahkan tak bisa aku paksakan masuk. Sial. Padahal aku sudah seterika dan lipat sekecil mungkin. Pokoknya, banyak hal berharga yang masih mendiami kost. 

Lalu, H-2 aku malah cuman tidur kurang dari 4 jam. Pas H-1 sampai di hari H, aku tidak tidur sama sekali, kecuali di rumah kontrakan pamannya Titin dan di dalam bus yang hanya hitungan menit saja.

Jadi begini..

Karena perjalanan normal dari Jogja ke Surabaya menggunakan Bus adalah 6-7 jam, kami memutuskan untuk menginap H-1 di rumah paman Titin yang letaknya lebih dekat dengan terminal. Sekalian menjalin silaturahmi dan dapat membantu kami banyak hal, dimulai makan, snack, hingga transportasi.

Bekal tahan sampai dua kali perjalanan
Yang dagang di bus tiap pemberhentian di terminal

Urusan di Jogja tepat kelar sebelum jam 02:00 siang di hari keberangkatan. Itu pun agak ngaret sebenarnya, hingga Titin harus menunggu di kostku ketika kita akan berangkat ke rumah paman Ari—nama pamannya Titin. Agak terburu-buru, hingga aku lupa novel ‘Raksasa dari Jogja’ yang aku letakkan di atas galon. Yaa, mungkin karena tiap ruang koper dan ransel yang kubawa telah penuh sesak juga, aku lupa membawa novel yang telah aku janjikan pada Kanikani itu.

Raksasa dari Jogja
Jadi, rencananya, Kanikani dan Niar akan menemuiku di Bungurasih—terminal di Surabaya. Mereka adalah dua warga istana hijau yang tak pernah bertemu walaupun sama-sama di Surabaya. Cukup aneh. Mungkin Tuhan mentakdirkan waktu tertepat pertemuan mereka di hari kedatanganku itu. Halah.

Rencana awal, berangkat dari tempat paman Ari pukul 01:00 dini hari. Karena setelah dipertimbangkan terlalu larut dan entah karena ada alasan lain yang mungkin aku kurang tahu, dibatalkan sehingga menjadi pukul 03:00 dini hari. Namun pada nyatanya, kami semua sangat kecapaian. Apalagi paman Ari yang pulang kerja hingga larut malam. Walhasil, kami bangun jam tiga. Kemudian memutuskan untuk sholat Subuh terlebih dahulu, lalu berangkat.

Special thank’s for Pamar Ari dan Bibi Dini. Untuk makan teratur—bahkan kami sarapan nasi goreng pukul 03:00an. Untuk tempat beristirahat, untuk bekal yang sangat banyak—sehingga kami memiliki pemikiran untuk meraup keuntungan dengan menjajakannya di dalam bus selama perjalanan, dan untuk segala-galanya. Both of you are so damn amazing couple ever!

Untuk Wawan juga—kekasih Titin tercintrong, untuk datang di pagi buta dan mengantarkan kami hingga terminal. Pesoklah motormu, Wan, udah koperku berat, akunya berat, ranselku juga berat. Hahaha.

Aku mencatatnya di hape, kami tiba di luar terminal pada waktu 05:15 AM. Kira-kira sudah 10 sampai 15 menit perjalanan sebelumnya. Maka perkiraan tiba di Surabaya paling lambat adalah pukul 12:00 siang. Aku berencana Sholat Dzuhur dulu di masjid sana sebelum melanjutkan perjalanan nantinya.

Special sorry for Kanikani. Pertama, aku lupa membawa novel. Permen Vicks yang ia pesan pun sangat kebetulah habis stocknya di toko langgananku. Dicari kemana-mana juga tetiba empty stock gitu. Aku jadi sampai ngoleksi nomor mbak-mbak penjaga toko. Dan, dia juga harus melawan ke-bad-mood-an-nya demi menepati janji yang justu aku sendiri tak tepati. Sudah kukatakan jangan memaksakan diri untuk datang, selain waktu pertemuan yang terbilang cukup singkat, dia harus mengeluarkan uang dan meluangkan waktu padahal akan UAS di hari Seninnya. Pun moodnya harus teruji lagi karena menunggu Niar yang ternyata punya urusan lain. Nah, kan?

Hal di luar rencana pertama yang fatal adalah, mengenai perut. Yaa, sepanjang perjalanan, perutku sakit. Huh. Itu sangat menyebalkan plus menyakitkan. Fresh Care tidak mempan lagi. Padahal aku sudah wanti-wanti sehingga meminum Promag sebelum berangkat juga. Kalau sudah sakit perut macam itu, pikiranku jadi pendek. Bawaannya mau tidur terus. Biar sakitnya hilang. Tapi, hapeku tak henti menerima pesan dan panggilan. Mereka adalah teman-teman dan keluarga tercinta. Belakangan aku ketahui, orang rumah sedari pukul 04:00an sore telah tiba di BIL (Bandara Internasional Lombok). Khaylila menggunakan baju baru. Semuanya beramai-ramai menungguku.

Di tengah perjalanan, bus kami beristirahat sejenak. Aku lupa nama tempatnya. Kami diturunkan untuk diberikan makan menggunakan kupon yang telah sepaket dengan harga tiket Bus.

Aku yang terbiasa makan maksimal 2 kali dalam sehari kini harus berulang kali mengejutkan perutku dengan makan super teratur. Aku tak biasa sarapan. Dan pada waktu istirahat itu, adalah sarapan keduaku hari itu.

Hasilnya?

Aku hanya makan entah satu atau dua suap. Lalu menyerah. Bus harus menungguku yang masih bertapa di kamar kecil belakang. Aku ingat tatapan wajah-wajah penumpang lainnya. Hahaha.

Hal yang di luar rencana selanjutnya adalah si Ashaku lowbet. Hal ini tak pernah terjadi pada perjalanan pulang sebelumnya. Untung saja Titin punya 2 hape. Aku pinjam satu. Ah, Titin juga tampak tak sehat, belakangan aku ketahui ketika ia ke kamar kecil, dia muntah sampai 2 kali. Yaa, kami memang kelelahan. Bukan pada hari keberangkatan, namun lebih pada hari-hari sebelumnya.

Fiuh~

Dan hal paling fatal yang terjadi adalah. MACET!

Yaa Tuhan..

Jadi, perjalanan dari Jogja hingga Janti masih lancar-lancar saja. Klaten dan Solo juga lumayan lancar. Sragen dan Kediri? Macet! Kami harus cari jalan memutar. Pun di Jombang juga maceettt! Di Semarang super macet! Paling parah di Mojekerto! Yaa Allah. Sampe galaugulali rasanya. Aku kepikiran orang-orang rumah. Mereka khawatir aku terlambat tiba di Juanda. Tiket pesawat kami menunjukkan pukul setengah enam sore lebih dua menit. Dan harus check in paling lambat 2 jam sebelum keberangkatan (hal itu tertera di amplop).

Bapakku menghibur, sejam sebelum keberangkatan masih bisa check in kok, katanya.

Kanikani dan Niar sudah tiba di Bungurasih katanya. Kami sempat saling menghubungi. Sedang waktu sudah menunjukkan pukul 02:00 siang lebih. Aku khawatir tak dapat bertemu dengan mereka yang telah lama menunggu. Orang rumah terus saja menelepon. Aku dan Titin mulai tak tenang. Supir Bus selalu katakan bahwa sebentar lagi kami akan sampai di terminal jika kami tanyakan. Namun hal itu seolah hanya suntikan penenang saja. Tak pernah benar-benar terjadi. Kami dipehapein!

Hingga tiba di Sidoarjo, kerusakan terjadi pada Bus Eka—nama bus kami. Angin pada bannya ditambahkan. Pun entah apa yang rusak, hingga terjadi proses mengelas yang menjadikan kami terlalu dini untuk menikmati pemandangan kembang api sebelum Idul Fitri.

Sedang waktu sudah menunjukkan pukul empat sore lebih!

Keluargaku semakin was-was! Seorang bapak-bapak dalam bus mengomel, nampaknya tiket pesawatnya sudah tak dapat diselamatkan. Itu sangat mengerikan.

Aku takut jika-jika hal itu yang akan terjadi pada kami. Terlebih, telah dengan susah payah aku yakinkan pada orangtuaku untuk mempercayakan menggunakan bus sampai Surabaya. Dan lagi, bapakku hanya bisa menjemput hari ini.

Okray, lupakan siapa yang menjemput. Ini sudah lebih serius. Aku dan Titin putuskan untuk tidak menggunakan Damri menuju Juanda. Kami berencana menggunakan Taxi. Walau lebih mahal, tak apalah.

Dan aku benar-benar tak sampai enak hati pada Niar dan Kanikani. Aku sudah katakan, aku sangat khawatir akan terlambat sampai Juanda. Kemungkinan terburuk adalah, jika kita tidak bertemu. Dan mereka katakan tak apa—seingatku, bahkan katanya jika kami belum tiba hingga pukul lima sore, merekalah yang akan pamit. Angkot beroperasi hingga pukul lima sore saja katanya.

Namun, yang lebih aku khawatirkan adalah KETINGGALAN PESAWAT!

Hellow? Ini sudah jam berapa?!

Pernah lihat aku panik? Haha

Ketika aku panik, dan ditambah lingkungan yang memanikkan. Kurasa takkan ada yang bisa menenangkanku (oke, ini agak lebay). Apalagi untuk menenangkan orang lain? Sulit. Aku coba bernyanyi, dan gagal. Aku coba diam dan tenang, toh takkan mengubah apapun, kan? Kendali ada di pak supir. Yaa, aku tak tahu harus melakukan apa. Menenangkan orang-orang rumah yang tak henti menelepon? Ah, berganti mereka yang menenangkanku. 

Lalalalalalalalalalalalalalalalala

Seingatku, saat itu jam lima kurang lima belas sore. Bus tiba di Bungurasih. Aku dan Titin menyerobot keluar. Meminta jok koper dibuka cepat. Seorang Bapak-bapak tua mengangkat koper kami. Kami berlari mencari taxi. Ransel yang begitu berat tak terasa, padahal energi kami sudah kedapkedip.

Aku benar-benar tak enak hati pada dua sahabatku ini, Niar dan Kanikani. Maka aku telepon mereka. Kabarkan jika aku sudah sampai terminal dan sedang mencari taxi. Aku mendengar pengumuman khas terminal yang sama di seberang telepon. Itu artinya kami sedang memijak tanah yang sama dalam jarak yang tak jauh. Aku ingin sekali bertemu. Untuk meminta maaf, untuk berbincang, mungkin sempat berfoto, atau entah apa-apalah. Tapi waktu benar-benar tak memungkinkan. Kabarnya, perjalanan menuju Juanda dari Bungurasih adalah 1 jam perjalanan. Sedang kami belum check in!

Pak supir taxi menghibur, tidak sampai sejam bisa sampai Juanda kok, In Shaa Allah, katanya.

Akhirnya, Titin dan aku masuk taxi. Alam tak mengizinkan Niar, aku, dan Kanikani bertemu di terminal. 

Mereka pasti sangat kecewa.

Dan aku kepikiran.

Tapi ada yang lebih penting. Kami harus tiba di Juanda dalam waktu kurang dari 15 menit!

Sangat tidak mungkin.

Kami menceritakan kronologi pada pak supir. Ia baik sekali. Mengerti dan kami melaju melewati jalan tol. Melewatinya harus membayar Rp 6.000. belakangan aku tahu nama pak supir taxi itu adalah Arif. Entah apa nama belakangnya. Ia melaju sangat kencang. Ada semacam bunyi peringatan yang berdenting sepanjang perjalanan. Tit tit tit tit tit. Dia pasti mengebut melebihi ketentuan yang telah ditentukan. Kulirik kecepatan 150 km / jam. Dan itu masih terus bertambah.

Aku ingat, ia memutar lagu Nidji. “Ku tak akan bisa.. ku tak akan bisa.. menjauh darimu sepanjang hidupku.. oo oo oo o o o o “

Orang rumah masih menelepon. Mereka pasrah. Dan malah memberikan kata-kata motivasi. Menghibur kami.

BIbiku menghibur, semoga 15 menit sebelum keberangkatan masih bisa check in yaa, ah, bisa kok, katanya.

Kami tiba di Juanda. Limabelas menit sebelum keberangkatan.

“Kita lari sekarang ini, Fin. Siap-siap.” Titin memberi aba-aba.

Maka benar. Kami berlari.

Sialnya, barang-barang harus diperiksa dulu. Itu lho, yang melewati trowongan –trowongan. Argh!

“Barang-barang biar aku yang urus, Tin! Ambil tiketnya, langsung check in!” Kuputuskan menghandle koper-koper itu. Sementara Titin berlari untuk check in. Berulang kali tas-tas itu terjatuh. Bodo’ amat, aku sudah tidak peduli pandangan sekitar. Serasa Juanda cuman punya aku dan Titin doang. Terserah mau ngapain.

Dengan susah payah aku menggeret barang-barang itu, lalu Titin menghampiri.

“Sudah ngga bisa, Fin.. pesawatnya sudah takeoff.”

Berasa disamber halilintar. Ini mimpi buruk.

Aku tak percaya, aku bertanya lagi membawa tiket itu ke sana ke mari. Dan hasilnya sama.

Kami terlambat.

Memohon seperti apapun, tetap tidak bisa.

Tiket kami dicoret R.T. entah apa artinya, yang jelas bukan reetwit, kan? ==”

Tiket yang ditolak

Terdapat 2 orang yang senasib dengan kami di sana. Parahnya, pesawat mereka terbang jam 05:00 sore pada seharusnya. Dan alasan kita sama. MACET!

Kami coba menanyakan penerbangan selanjutnya. Nihil. Untuk Lion Air sendiri tidak ada penerbangan ke Lombok sampai tanggal 8 atau 9, entah, aku mulai lupa. Aku cari ke semua maskapai. Hasilnya sama. Tidak ada penerbangan dengan tujuan Lombok hari itu.

Kami didekati calo tiket. Dia tawarkan tiket ke Lombok malam itu dengan harga nyaris 2 juta. Itu pun duduk bukan di kursi penumpang. Gila!

Orang rumah kukabarkan. Mereka menelepon.

“Yasudah.. tenang. Gak apa-apa jadi pengalaman. Sekarang cari penginapan terdekat dan cari tiket yang berangkat besok pagi. Sekali ini aja dengerin, ambil tiket berapapun harganya untuk besok pagi.” Bapakku sudah angkat suara.

Aku teringat Niar. Aku kabari dia juga Kanikani. Nampaknya, mereka masih di angkot. Ketika mereka menelepon, suaranya tidak jelas.

Lalu, kami putuskan bermalam di kost Niar, kupinta alamatnya dan ke sana menggunakan taxi bersama Titin.

Wow. Banyak sekali yang terjadi. Ada beberapa hal yang belum waktunya aku publish di sini, itu mengenai percakapan dan kejadian selama di bandara dan taxi. Ternyata, hal sesederhana (mungkin) ‘ketingggalan pesawat’, sangat bisa berefek pada kehidupan seseorang. Aku sungguh banyak belajar.

Betapa sesungguhnya aku tak pernah sadar, untuk segera menangkap setiap signal dari Allah. Tentang apa-apa yang ia tunjukkan. Aku sempat bertanya-tanya dalam hati,”Ke mana keberuntunganku yang selama ini??”.

Sekarang aku tahu, keberuntunganku tak pernah pergi ke mana-mana. Aku selalu beruntung. Itu benar.

Fiuh.. akhirnya aku ada keberanian untuk menulis ini semua. Ehehe. Walau percayalah, banyak yang tertinggal tersebab manything. Wkwk. Menulis ini berarti memberanikanku sendiri menyoal ‘menghadapi kembali’ apa yang pernah aku hadapi. Aku harus menulis, dan ini bukan tulisan seseorang yang pengecut. Ini jadikan aku melihat dari banyak sisi setelahnya, yang tentunya jadikanku lebih berpikir ‘seharusnya aku beginibegitublabla di waktu itu’. Hahaha. Hadapi sajalah, Fin :D

Dan, well.. cerita ini belum tuntas lho..

Lalalalalalalalalalalalalalalalalala

Titin dan Aku mendapatkan tiket Merpati untuk keberangkatan pukul 09:40 pagi. Itu harus transit di Ngurah Rai pada pukul 05:30 WIB, artinya 04:30 WITA.

Special thank’s for Niar. Atas kamarnya yang luas, dan petualangan kita mencari makanan dan jus di malamnya Surabaya. Niar yang mengetahui akan pulang bulan ini, hanya memiliki persediaan sabun batangan untuk mandi. Karena kedatangan kami, ia membeli sabun mandi cair. Haduh, jadi ngerepotin. Tenkyu untuk kenyamanannya, pokoknya tenkyu banyak-banyak deh! Kalau ngga ada Niar, mungkin aku dan Titin akan... hum... akan apa yaa? Yaa, akan ngga bermalam di kost Niar maksudnya. Wkwk

Gelang keren :D

Makan di kost Niar :D

Rasanya masih mimpi, bisa ketinggalan pesawat begitu.

Lihat apa yang terjadi, dengan semua rencanaku? <-- potongan lirik lagu Pasti ku Bisa by Sheila On 7

Tapi rencana Allah ‘kan emang yang paling rapi siy. Allah mengajarkan aku dan Titin untuk bersabar, bahkan lebih awal dari yang lainnya dalam menyambut Ramadhan. Allah juga mungkin telah rencanakan jauh-jauh sebelumnya untuk Niar melanjutkan di Unair, karena suatu hari nanti kostnya akan aku dan Titin tumpangi ketika ketinggalan pesawat kemarin. Wkwk. Bisa saja, kan?

Tak ingin melakukan kesalahan yang sama, aku dan Titin berangkat jam 07:00an pagi dari kost Niar. Taxi Blue Bird Surabaya dengan nomor 0313721234 kami telepon. Kemudian menunggunya di depan gang TK Dharmahusada.

Kami malah fotoan. Ada tukang roti yang lewat, eh, minta tolong dipotoinlah sama dia :D

Setelah say good bye and thank’s ke Niar. Kami melaju menuju Juanda.

Foto bareng Niar dan sebelum berangkat xD
Rekues lagu Sheila On 7 ke Oom taxinya. First song ‘Bila Kau Tak Di Sampingku’. Wow. Keren abis! Wkwk. Lanjut ‘Itu Aku’. Asyik~

Lewat tol Rumput Industri. Ga sampai sejam, sampai Juanda.

Kepake juga deh, baju yang aku taro dalem koper. Kan? Kan? Kan? :D

Pun, hikmahnya, dandanan kami menjadi lebih maksimal ketimbang kemarin. Hahaha. Eh, aku dan Titin kebetulan banget sama-sama pake oranye, iyuuuh.

Kalau sudah begini, menunggu berapa lama pun tak masalah. Yaa, selama sesuatu yang kita tunggu sudah pasti datang, menunggu adalah kegiatan yang tak menjemukan.

Walaupun.. Merpati delayed!

Tuh, kan. Untung ajja Allah sudah mengajari kami bersabar sehari sebelum hari itu. Haha.

Aku ditenangkan dengan mobil pengangkut bertuliskan Air Asia di kacanya, dan dikuti tulisan kecil-kecil di bawahnya, “Now everyone can fly” yang hilirmudik sedari tadi. Haha, yeah, that is right. now, we will fly!

Keberangkatan pukul 09:40 AM harus menjadi 10:25 AM. Aku mencatatnya lho. Yaa, aku sudah berniat untuk menjadikan perjalanan hari itu sebagai bahan blog. Ah, kami bersua dengan embahnya Titin juga di Bandara, pesawat kami kebetulan sama.

Sampai di Denpasar pukul 12:20 WITA.

Nunggu bus putaran kedua
Wah, Ngurah Rai tengah menjalani renovasi besar-besaran. Waiting roomnya jorok abis! Mushollanya bauk kaos kakik!

Kami kenalan sama bule yang duduk di kursi sebelah. Her name is Pigi, from Austria. Dia ramah banget. Aku malu karena ternyata ia lebih banyak mengunjungi tempat-tempat indah di Indonesia ketimbang kami.

Pesawat lagi-lagi delayed. Batre hapeku sudah habis.. mama yang menjemput bersama supir menghubungi melalui hape Titin. Yaa, kali ini yang menjemputku hanya mereka berdua. It is okay.

Hingga akhirnya kami terbang. Meninggalkan berjuta kisah di tanah orang, dan memulai kisah baru di tanah sendiri.

Hello, Lombok^^
Aku tahu sejauh apapun aku pergi, aku akan kembali padamu..
 
Sarapan perdana: Soto sate kambing :3



 wassalaam




Ijobalit
02:25 AM



Komentar