H-1, H, H+2 :D


Assalaamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh
J

Hola, I am in Jogja right now.

Aku tiba usai Dzuhur sehari sebelum hari kemerdekaan ke-68 RI yang lalu, 16 Agustus 2013. Perjalanan dari Lombok ke Jogja aku tempuh sendirian, dengan maskapai Lion Air. Eh, ngga sendiri-sendiri banget siy. Ada awak-awak pesawat (pramugari, pilot), seorang cowok Palembang di sampingku—dia terlalu ramah, ada bapak-bapak yang baru naik pesawat langsung merem—tidur—juga, ibu-ibu yang berjilbab punuk unta bersusun, dan okray-okray.. *cukup.

Owh, well.. Sekarang, ketika aku menulis (bagian awal) catatan ini, aku tengah menunggui Vava untuk di Tap Olinya.

Vava dalam tahap pemulihan
Hum..

Ada yang bertanya, mengapa aku balik ke Jogja terlalu cepat?

Yaa, aku pun merasa balik ke sini terlampau cepat. Aku belum puas berjalan-jalan, makan-makan, dan mengelilingin tanah kelahiranku itu kemarin. Tapi, memang harus ada peran yang aku mainkan di tempat lain—selain bersenang-senang di Lombok. Ada takdir yang harus aku jalani di sini.

Di waktu yang tepat nanti, aku akan ceritakan, mengenai ‘takdir’ yang harus aku jalani itu. Halah. Wkwk.

Sekarang, aku akan ceritakan mengenai hari ulang tanggal dan bulanku, pun mengenai #LiburanFospast. 

Yaa, aku belum sempat menulis tentang hal itu kemarin, tersebab waktu. Huhu.

Rasa-rasanya ingin menceritakan H-1 sebelum usia bebek bertelurku itu juga deh. Hum.. ceritain ngga yaa. Wkwk :p

Okray-okray, kita intermezo dari 11 Agustus 2013. Hum.. ada yang beda :p

Jadi, hari-hari sebelumnya, aku memang lagi doyan-doyannya jalan-jalan. Pokoknya jalan-jalan terus deh. Ga diem-diem di rumah. Nah, ternyata, di balik ke-doyan-doyanan-ku buat jalan-jalan itu, ada hati yang tengah diem-diem ajja. Alias ngga pernah keluar buat jalan-jalan selama mudik liburan. Who has that heart? Kanikani.

Ya, jadi, untuk jalan-jalan kali itu bisa dibilang ‘pertama’ selama mudik untuk dia *bayangkan!, yodah.. kita jalan-jalan. Berdua.

Kasus jalan berdua itu, status kita masih mantan. Yaa, bahasa bagusnya ‘sahabat’. Jadi, yaaa.. gitu deh.

Nah, itu sekalian buat keliling minta file BuBer Fospast sebelumnya. Rencana awal, kita mau jengukin Mbak Yayuk yang kabarnya telah melahirkan. Mbak Yayuk itu Kakaknya Intan. Nyatanya? Mbak Yayuk sudah pulang dan berdiam di rumah suaminya. Baik aku, Kanikani, dan Intan tidak tahu keberadaan rumah itu. Jadilah kami berkunjung ke rumah Intan saja. Pun di sana ternyata cukup ramai. Hum..

Sembari ngobrol-ngobrol dan makan jajan lebaran, kami berencana meminta file foto yang berada di kamera Yogi. Ingin mengunjungi Yogi. Namun berhubung Yogi ada keperluan lain beberapa saat setelah ditelepon, kami urungkan berkunjung ke rumahnya. Eh, malah bibiku yang nelpon. Rencana spontan muncul. 

Berhubung Kanikani belum pernah bertemu dengan Khaylila, sekalian ajja kita mampir ke rumah Bibi.

Lalalalalalalalala

Rencana seawal-awalnya, kami akan berjalan-jalan ke Pantai Labuhan Haji. Untuk apa? Untuk mencari ‘tulisan’. Tulisan apa? Itu lho, yang pernah menjadi Photo Profilnya Intan. Pokoknya, tulisan yang tulisannya ‘Labuhan Haji’, gitu. Tulisan itu kayak di jalanan. Itu deh, pengen fotoan di sana. Terus, pengen ke Narmada juga. Untuk apa? Di sana kan ada kolamnya gitu, ada patung-patung, dan pemandangan yang bagus, cocok untuk nambah-nambah koleksi foto selama liburan. Ehehe. Lagian, di sana juga banyak ngejual souvenir yang khas buat oleh-oleh dari Lombok. Mantep kan? Kabar buruknya, Kanikani ini ngga punya SIM. Dan aku ngga ada helm. Ckckckck. Semisal kita dapet pinjaman helm niy yee, masa dia bilang ntar aku yang jadi depan gitu, gegara aku yang punya SIM. Huuuue.

Yodah, kita cus ke Ijobalit. Di sambut Bibi, Embah, dan tentunya Khaylila yang (tiba-tiba) sok imut banget. Makan nasi bungkus UD. Rizky, ngobrol, sholat, dan minjem helm. Haha.

Bibi malah nitipin laptopnya plus handycam ke aku. Yodah, balik ke Selong buat naro itu barang-barang ke rumah dulu. Sekalian ke rumah Nikubiku juga. Ada semacam acara silaturahmi dan (rencananya) mau makan beberok ala kita-kita gitu. Hal yang tidak disangka, Nikubiku ada acara mendadak. Dia ngga kita temuin di rumah. Lumayan lama nunggu, kami putuskan pamit sama Mbahnya. Hari sudah semakin terik, dan kita belum melancarkan rencana-rencana.

Baru deh cus ke LBH (LaBuanHaji)—walau kita sempat galau mau ke Narmada atau LBH. Sempat rada aneh, karena tumben-tumbennya kalo masuk kawasan LBH musti bayar karcis gitu. Parkir juga bayar. Huue, sepengalamanku selama 20 tahun kurang sehari, hal-hal semacam itu tidak pernah terjadi. Ah, mencurigerakan.

Sesampai di pantai, si Kanikani bilang, ngga pernah ngeliat laut selama di Surabaya, jadi, begitu ngeliat air laut, dia malah mandi. Huue, jadilah aku penjaga tas. Oh iya, kunci motornya sempat kelupaan dicabut juga lho waktu itu. Hahahaha.

Sempat beberapa kali nelpon Intan, menanyai letak ‘tulisan’ itu. Tapi, baik aku ataupun Kanikani, tidak ada yang sampai pada ‘tulisan’ itu atas petunjuk Intan. Bener deh, memang seharusnya kita hanya meminta petunjuk kepada Allah SWT. *eh

Lanjut jalan mengitari pantai. Aih, kotor. Pasir pantai LBH kok jadi lebih putih ya? Siapa yang naburin bedak? Asli deh, aku baru sadar kalau angin LBH di siang hari itu horror. Kuencengnya~ aku nyaris terbang. *dusta

Eh, ada adegan “penganiayaan” terhadap sarung tangan kesayanganku juga atas celana Kanikani lho. *Ups

Lanjut..

Kami masih bertualang mencari ‘tulisan’ itu. Seingatku, Intan bilang sekitaran berugak. Masuk-masuk gitu. Huee. Firasatku bilang kalo tulisan itu ada di sekitar dermaga. Okray, belakangan aku tahu firasatku salah. Tapi, tetap ajja aku dan Kanikani masuk ke daerah dermaga. Setelah minta izin sama bapak-bapak yang jaga di gerbang dermaga, kita masuk bergulat dengan angin.

Seharusnya aku sadar, semakin jauh berjalan menjorok ke arah laut. Angin akan semakin ganas. Yaa, itu benar. Jilbabku sudah hilang bentuk. Haha.

Kita berdua jalan beriringan. Sarung tangan yang Kanikani gunakan membersihkan celana yang berlumur pasir *itu yang kusebut “menganiaya”, tetap ia gunakan. Jadi, kita memakai sepasang sarung tangan. Masing-masing tangan kanan kami bersarung tangan. Tulisan ‘princess’ di sarung tangan itu bener-bener bikin geli :p

Fotoan juga :3

sarung tangan sama setoek :p


our shadow

Owh, actually.. there were manything happen. Saat itu, aku berharap apa-apa yang aku dengar dapat terbawa cepat dengan hembusan angin pantai. Sialnya ia menyangkut.

Hello, my ears.. still remember his word?
Hello, my eyes.. still remember his expresion?
Hello, my feet, head, and hand.. still remember his touch?
Hum, I think that will be an unforgetable memories.. haha

Walau pulangnya macet-macetan dan cukup melatih kesabaran, kami berhasil tiba di Ijobalit (lagi) untuk mengembalikan helm dan sholat Ashar. Huhu.

Oh yaa, thank you for the gift yaa, Kanikani. Haha. So pretty.

*uyeee, akhirnya ketulis juga :p*

Dan mengenai 12 Agustus 2013 yang lalu?

Aku sukses genap 20 tahun. Alhamdulillah. Orang-orang di sekitarku keren deh, pada inget gitu. Keliatan banget jadinya, siapa yang benar-benar sadar aku pernah lahir di tanggal yang sama 20 tahun lalu. Karena aku sengaja menutup 2 buah akun facebookku yang menerakan tanggal kelahiranku di sana. Special thank's for everyone: kalian yang sejati. wkwk

Special thank's juga buat Mama, Bapak, Adek Nini dan Omen. atas kejutan di malam hari. blackforest yang mantab!

Buat bibi juga atas traktiran soto sate kambingnya.




Dan, lanjut ke  #LiburanFospast, itu telah berlangsung pada !4 Agustus 2013. Adalah hari di mana usiaku 20 tahun 2 hari.

Adalah malam sebelum liburan itu, bapakku mengabarkan telah membeli tiket untuk balik ke Jogja. So shock. But, yaa.. aku harus tiba sebelum tanggal 20. Tiket tanggal 17-19 sudah kosong, kata bapakku. Huft.

Untuk liburan Fospast itu sendiri, kita ada rapat H-1. Rapatnya di rumahku, itupun setelah dua kali mengalami revisi perpindahan lokasi. Di rumah Niar dan Rei ga jadi.

Rapat itu cukup berkepanjangan, hingga malam. Ada orang-orang di balik layar yang tetap berusaha agar acara tersebut terselenggara dengan sebaik-baiknya. Yang cowo pada berusaha mencari engkel, dan gagal. Rencana mau pake mobil Yogi, Chigo, dan Yuda pun ngga terealisasi. Sampai datang gitu ke rumahku malem-malem bawa jagung bakar buat diskusiin yang namanya ‘transportasi’. Walaahh.. telepon berkonferens di mana-mana. Sampai niat minjem mobil teman kelas lain. Juga sampai menghadap ke Embah Niar buat ngomongin minjam mobilnya segala. Bibikupun kutelepon, siapa tahu bisa pinjam mobil kantor. Dan kesemua itu berakhir dengan usaha kami meminjam mobil pemda, itu minjemnya pake surat ala Fospast banget deh. Keren. Haha.

Cukup terkoordinir, rencana awal yang ingin berkumpul di halte sekolah batal karena anak-anak smansasel pasti pada ke sekolah (baca: rame). So, kumpul di rumah Mbak Rina deh. Walau yaa seperti biasa, agak ngaret. Eh, aku bareng Kanikani. Dan itu cukup menyita perhatian publik. Halah.

Bruakakakakak xD

Emang salah ya?

Jalan sama mantan?

Iyuuh, kita kan sahabatan (lagi).

Liburannya seru. Aku dan Intan kembaran pake jilbab oranye.

Kita ke pantai Batu Payung dan Mawun. Itu keren abis! Terbayar deh, rasa penasarannya. Lombok emang keren. Saat aku melihat lahan-lahan yang kosong di sekitaran pantai, aku terpikir untuk membangun sebuah hotel di sana. Hotel yang menyungsung tema ‘lombok banget’ plus restorannya yang ‘lombok banget’ juga. Aku sampai buat-buat konsep gitu. Ntar pekerjaku musti pake baju lambung (baju khas sasak) semua. Diiringi lagu cilokak. Keren deh. Haha.

Hum..

Pokoknya asyik deh itu liburan, dari pagi sampe magrib. Ada beberapa kejadian yang….okray-okray aku ceritain deh :/

Jadi, si Kanikani ini protes selama di jalan pulang. Katanya aku sombong. Okray, hari itu emang moodku sisa setengah ajja. Termakan kabar tanggal tiket balikku ke Jogja yang ternyata cepat banget. Dan akhirnya, pertemuan kita ditutup dengan makan nasi goreng bersama. *njiiie

Itu nasi goreng yang enak—menurutku. Cuman, ngga ngedukung sama kondisi perutku. Aku ingat, hari itu rasa nasi gorengnya tidak seenak biasanya. Entah. Tapi aku ngga akan lupa kok. Haha.

Ada adegan macam di tipi-tipi yang terjadi di tempat itu. Seperti ketika aku tak habis nasi gorengnya lalu merasa sangat mubadzir jika dibuang, ga enak sama ibu yang jual. Ntar dia berpikir aneh, “Apa nasi goreng buatan gue ngga enak?”

Ada percakapan-percakapan yang yaaa gitu deh :p

Yang intinya, aku dan Arka balikan.

This is his last chance.

Dan lagi, dia berhasil (lagi-lagi) meyakinkan aku atas yaaa sebut saja keseriusannya. Mungkin tak banyak orang yang tahu, kalau Arka itu (sok) romantis abis! Haha. I knew him, he knew me. Aku bisa pegang janji kok (pegang janjinya Arka maksudnya), dia juga pasti bisa dipegang kok *lho.

Dan, menyenangkan adalah ketika tidak ada sesuatu yang memberatkan keputusan, lalu kita secara sukacita menjalaninya.





Selamat malam, Yogyakarta.
11/09/13-07:17

Komentar