Jalan Berbatu


Jalan itu masih saja berbatu. Semakin jauh, tidak semakin memudahkan langkah kakiku. Terkadang dalam sela batu, tanah bercampur embun jadikan jalanku licin. Di sela yang lain, air banyak menggenang. Siap didekati untuk menodai.

Sejauh melangkah lagi, jalan ini masih saja berbatu. Pinggir jalannya masih dibatasi bambu saja. Ada yang tegak, ada yang rusak. Aku tak selalu nyaman berpegangan. Kadang aku berpikir lebih baik tak berpegangan—walau masih ada bambu.

Tetap saja, jalan ini selalu bebatu. Kadang sehat untuk kakiku ketika masih bersemangat melangkah. Kadang menjadi musabab terjatuhku, karena letih. Tergelincir.

Aku sadar, walau jalan ini masih saja berbatu. Jika aku berbalik, aku akan pulang. Dan jalan di belakang masih berbatu. Maka aku belum mau pulang.

Melalui jalan yang berbatu, aku terbangun berulang kali ketika terjatuh. Berlari cepat walau kaki sakit. Tertawa lebar, lalu sadar, toh jalanan hanya berbatu. Itu hanya batu.



Yogyakarta
120913-09:34

Komentar