Mungkin Kita Bertemu Terlalu Cepat




“Itu artinya, tidak akan ada kata cinta di antara kita lagi ya?”
.
Kata-kata itu memutar di otakku. Membentur tiap sum-sum di sana, membuat rasa perih jika semakin kuingat, karena semakin kuat ia memutar dan membentur.

Aku ingin seolah tak pernah mendengar kalimat itu, darimu. Karena sungguh tak manusiawi—kupikir setelah semua hal yang telah kita lalui, semacam ungkapan tak mengerti, dan lagi, perdebatan yang itu-itu saja. Rasanya selalu kembali ke titik nol. Ah, atau memang terlontar sebagai boomerang? Untuk senjata kemenangan, untuk alasan meninggalkan.

Kemudian aku tersadar. Milikku yang mana, yang selama ini aku pertahankan?

Ya, milik, dalam tanda kutip. Ah, mungkin terlampau cepat aku katakan “milik”, tapi maksudku, yaaa ‘seseorang yang  singgah, sementara, bisa jadi dia di kemudian hari-bisa jadi tidak’. Nah. Itu.

Sebelumnya, aku tidak pernah sebertahan ini. Ya, aku bertahan. Lalu mencoba lebih lama menahan keegoan. Aku bersabar. Kemudian menjadi lebih mudah melunaskan apa-apa yang bahkan belum terbayar penuh pada hati dan otakku. Aku memperjuangkan. Selalu lebih memilih terbawa dayung yang ia kayuh, tidak melompat karena kesal sesaat, tidak menerima tawaran perahu lain yang bahkan lebih segalanya daripada perahu kami, aku memilih memperindah perahu kita, mengayuh bersama, berbagi kompas kepada dia, menambal retak pada dinding perahu kita, berdamai pada mereka: penumpang perahu sebelumnya.

Aku ingin berlayar denganmu. Menjumpai tiap dermaga kita masing-masing, mengajakmu menemui dan bahagia dalam canda dengan orang-orang di dermagaku. Pun berkunjung ke dermagamu, menemui orang-orang di sana, lalu berbincang ringan seperti percakapan dalam wayang. Untuk setelahnya kita menjadi semakin mengenal. Ya, sesederhana itu, walau tak pernah sesederhana itu.

Kau tahu? Aku tak mau tenggelam. Jangan, kumohon jangan kau buat retakan-retakan baru lagi. Bukan persediaan penambal kita yang menipis, tapi tenagaku yang mulai habis. Cukup kaugunakan dayung itu mendayung saja dulu. Antarkan aku pada dermaga kita dengan selamat. Setidaknya, jika perahu ini kaurasa mulai sempit karena hadirku, antarkan aku pada dermaga terdekat. Turunkan aku di sana. Sungguh, aku tidak bisa berenang.

Ini retak yang sama, di tempat yang berbeda. Mungkin akan menyebar pada semua sisi jika terus seperti ini. Sedangkan aku butuh perahu yang kokoh untuk perjalanan jauh yang telah kurancang. tapi sadarkah?  Kauciptakan bersama pelayaran kita, rasa takut padaku yang menjalar menjadi rasa tak nyaman.
.
Lambat laun kaumulai malas mendayung. Kita diam. Sedang kebutuhan kita berbeda. Kautak masalah jika tenggelam, kaupandai berenang. Walau itu artinya, dalam keadaan seperti ini, tak masalah juga bagimu melihatku mati tenggelam.

Tuan..

Kautahu apa yang selalu aku genggam selama ini, kan? Saat kita bertemu, dan di perahu berbeda. Aku masih menggenggam. Saat aku mulai sering kaupersilakan naik perahumu untuk sekadar kauceritakan penghuni lama. Aku masih menggenggam. Hingga akhirnya perahuku rusak, perahumu rapuh, lalu kita mencoba membuat perahu baru. Dan, aku masih menggenggam. Lalu kita berlayar, mampir ke dermaga-dermaga, berlanjut berlayar ke seberang laut yang luas, menerjang ombak, bercakap tentang ikan-gurita-udang-kepiting di dasar sana. Dan aku masih-selalu-mencoba erat, menggenggam.

Kau tahu, Tuan? Seberapa letih sebenarnya tanganku menggenggam, harta terbesarku itu? Janjiku itu? Pikirkan, tangan yang kugunakan untuknya, kugunakan pula untuk menambal retak perahu kita. Tangan yang kugunakan untuk menggenggam itu, kugunakan pula untuk segala hal yang mungkin bisa menopangku dalam berpegangan atasmu.

Secara tak langsung, kaupinta aku melepaskan genggaman itu, Tuan. Pintamu yang selalui hantui pikiranku, melawan hatiku yang ingin tetap berlayar seperti dulu. Tapi, Tuan, ia merupakan sesuatu yang selama ini kujaga. Mungkin kau bisa mendapatkannya secara percuma di tempat lain, Tuan. Tapi di tempatku, tidak semudah itu. Di sini, ia benar-benar tidak segampang itu. Sesuatu yang selalu membuatku dulu berpindah dari perahu-perahu. Maka aku coba menemukan perahu, yang inginku-seharusnya-harapku, membantu mempertahankan yang kugenggam. Kaumembuatku berpikir, aku berada di perahu yang salah. Lagi.

Memang. Pada awalnya, semua nahkoda menerima aku beserta apa yang aku genggam untuk naik bersama ke perahu mereka. Kemudian kita melukis kisah bersama. Namun mengapa selalu begitu? Mereka kemudian memintaku melepasnya, dan aku pasti menolak. Ya, itu alur yang selalu sama dalam seonggok susunan kayu tersebut perahu mana saja. Ku pikir perahu kita berbeda, Tuan. Bisakah kau tak sama seperti mereka ketika aku sudah terjerembab sejauh ini padamu? Ketahuilah, aku tahu alur ini. Kau (mungkin) tidak akan lama bertahan. Akan muncul banyak macam retakan baru karena genggaman yang takkan kulepas ini. Bahkan jika kita masih berusaha bertahan, kita akan mengikis habis rasa yang ada. Kita akan menjadi tak sama.

Mungkin kita bertemu terlalu cepat.





Yogyakarta


Komentar