Pemuja Rahasia 1



Sudah sejak lama aku ingin
Berada dan merasakan tahap seperti kakakku
Ketika ia dapat mencintai seseorang
Tanpa harus bersama
Tetap menyayangi
walau tak terlihat
.
Pernah, logikaku berkata itu mustahil
Ketika kaumerasa bahagia
melihat yang kaucinta bahagia dengan yang lain
.
Kupikir, hatiku juga pasti tak mampu
Memendam sekian lama waktu, dalam diam
Cinta yang benar-benar cinta
Tulus
.
Kakakku mengaku padaku suatu waktu
Ketika hanya ada kita di serambi samping
Bahwa ia bahkan, terlampau takut untuk bermimpi
Bermimpi untuk ada bayangnya di sana
Dalam pandangan sang pujaan
Dia takut ketika ada sedikit saja kemungkinan
Untuk sekadar bersama cinta yang ia puja itu
.
Dia mengaku, merasa baik-baik saja
Ketika melihat pujaannya bersama cinta yang baru
Di tiap pergantian windu
.
Kakakku tidak pernah mengirimkan signal
Tak pernah ingin ada namanya dalam pikir si pujaan
Dia bahkan tak pernah menjenguk ketika ia sakit
Tak pernah mengucapkan ketika dia berulang tahun
Tak pernah menghibur walau tahu, pujaannya tengah patah hati
Yang dilakukan kakakku hanya mengawasi, melindungi pujaannya  dalam doa
Ah, bukannya kakakku tidak mencintai dengan sangat, bukan
Aku sangat tahu  betapa ia sunggung mencinta
Sangat tulus dalam diam malah
Bahkan ia pernah menangis dalam doa di suatu malam sebelum kami terlelap
Mengingat pagi tadi ia disapa sang pujaan hati
Ia berdoa pada Tuhan, agar ia tak jatuh cinta
Ia memohon, agar ia hanya jadi pemuja rahasia saja
Tidak lebih
Sungguh, ia menangis dalam doa hari itu
Ia mewaspadai hatinya sendiri
.
Pernah pula, ketika sahabat kakakku
Menjadi dekat dengan pujaan hati kakakku itu
.
Ia sungguh sahabat kakakku
Suka duka tawa tangis mereka bersama
Hanya saja, dia tak pernah tahu pendaman rasa kakakku
Hingga kemudian, mereka bersama
.
Kakakku menangis lagi, ketika berdoa
Dia takut
Dia memohon pada Tuhan, agar pujaannya tidak menyakiti hati sahabatnya
Dia takut, jika ada di dunia ini
Seseorang yang membenci pujaannya
Dia mungkin tak akan sanggup
Mendengar luka, dari sahabatnya sendiri
Hari itu, kakakku benar-benar mengajakku menangis
Mengapa ia tak membenci sahabatnya saja?
Sahabat yang tidak peka itu
Mengapa ia dapat begitu tenang melihat seseorang
yang menurutku tidak lebih baik darinya untuk
bersama dengan seseorang yang ia puja??
Mengapa ia begitu bisa mencintai seperti itu??
Kemudian doanya,
Yaa Tuhan!
.
Aku berpikir, apa mungkin di suatu waktu nanti
Akan ada tahapan dalam hidupku
Untuk bersikap sama seperti kakakku itu
Ketika aku menjadi begitu dewasa
Mampu menahan diri dan lebih tenang
Mendoakan seseorang yang kita cintai setiap malam
Cinta yang tak harus memiliki
Cinta yang indah ketika melihat dia tersenyum pada hal yang bukan kita
Ketika melihat ia memimpin yang bukan kita
Saat mendengar orang-orang memuja dirinya di dekat kita
Aku sungguh tengah menunggu-nunggu
Untuk kedatangan seseorang yang dapat mengajariku tulus semacam itu
Seseorang yang akan aku amati hanya dari jauh saja
Bahkan takut memilikinya karena aku pandai melukai seorang insan
Seseorang yang bahkan tak tahu aku simpan fotonya
Tepat di bingkai sebelah wajah tersenyum orangtuaku
Ia akan kuletakkan di sana, sebagai daftar
Orang-orang yang harus tetap hidup dan bahagia
Hingga aku dapat masuk dalam lingkar hidupnya
Dengan wajar
.




------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku menyebutnya puisi essay. Ah, terlalu pendek untuk sebutan itu sebenarnya. Nyaris aku ikutin lomba, Padahal udah ditulis sebelum dateline, eh, malah kelupaan. Dateline kelewatan. 

Bruakakakak xD

Yasutradehh :p

Pajang di mari saja yak, mubadzir, fiksi lho :p 
Dan aku suka tema ini, selanjutnya, puisi-puisi essayku akan bertema begini nampaknya: dengan kemasan  berbeda-beda tapinya.

Moga bisa dapat feelnya deh.. :3

Komentar