Hari Ini Aku Melihat Matamu Sembab (Fiksi)



Hari ini aku melihat matamu sembab. Namun aku tidak menggubrisnya ketika matamu menatap. Kau tanyakan, “Kita mau makan di mana?”

Kujawab, “Terserah.” Dan siapa yang tahu? Jika kata itu membuka percakapan kita yang sunyi di sepanjang jalan malam. Tak seperti biasanya.

Aku memikirkan. Apakah tidurmu cukup? Namun, ah, aku lebih curiga tersebab serak suaramu, apa kau telah menangis seharian? Aku khawatir.

Aku sempat sebal atas sikapmu terakhir padaku. Kusebut itu tidak peka. Ketika aku sengaja tak memakai bedak, memilih menemuimu dengan wajah sembab. Aku menangis semalaman hari itu. Kau datang di pagi hari dan tak menanggapi apapun terkait penampilanku. Aku marah dalam diam. Kutuduh kau tidak peka.


Dan ya, sama persis seperti apa yang kulakukan padamu malam ini.


Namun di sini aku ingin membela diri. Atas sikap yang kupilih untuk tidak membahas sembab matamu tadi. Sejujurnya, aku takut. Aku menangkap signal, seolah bahasa tubuhmu pasti menolak pertanyaanku. Aku memilih diam. Karena kupikir lebih baik diam. Membahas hal yang lain mungkin bisa lebih menyejukkan.

Kuingat, saat kau mencoba membuka percakapan denganku setelah memesan makanan. Kau coba tersenyum. Menanyakan kabarku setelah kita tak bertemu seharian ini. Aku hanya menjawab dengan senyuman. Agak hambar memang. Namun aku sungguh tak tahu harus menjawab apa dan bagaimana.

Anak itu, dia masih coba tersenyum, ia pasti tengah menahan sangat hebat.

Malam kita terlewat begitu saja.

Di kamar malam ini, aku sadar. Kau bukannya tak peka hari itu. Maaf aku telah marah. Mungkin apa yang kita pikirkan mengenai hal ini sama. Ya, kita sering seperti itu. Aku bisa bayangkan, kau mungkin lebih bingung. Hingga mengirimiku pesan singkat sebelum tidur. “Apa pun akan kulakukan demi bahagiamu.”

Malam itu aku masih marah. Aku tak menanggapi pesanmu. Aku pikir kau sungguh tak mengerti apa-apa.
Sebelum tidur malam ini, kuputuskan ingin sampaikan padamu juga sebuah pesan. Semoga kau mengerti, aku mengerti.

“Kamu adalah bahagiaku, tetaplah bersamaku.”




Yogyakarta
 210314

Komentar