Ia

Kau belum benar-benar hidup, jika belum menitikkan air mata dengan seribu alasan yang berbeda.

Okray, aku tidak bilang ini kali pertama aku ingin mendokumentasikan suatu memori. Aku pernah bahkan sering melakukannya, dulu. Ya, aku ulangi, ‘dulu’. Entah, aku suka cemburu pada waktu jika waktu tidurku terusik oleh kebiasaan yang pernah kuharuskan ini. Padahal, aku harus kontinu menulis, kan? Ingat plan awal? Ya, Fifin harus mendokumentasikan hidupnya.

Banyak sekali yang telah terjadi. Sungguh, BANYAK! Atau ada definisi yang lebih bermakna banyak atas nominal sesuatu? Jika iya, mungkin boleh aku gunakan istilah itu sekarang. Yang jelas, memang benar banyak yang telah terjadi. Banyak dalam arti sesungguhnya lho yaa. Okray, kurasa sudah cukup usaha meyakinkan bahwa memang sungguh banyak. Halah.

Ketika aku menulis ini, waktu menunjukkan pukul 06:59 PM, aku baru saja pulang rapat. Ya, akhir-akhir ini aku selalu pulang malam. Kali ini tergolong lebih cepat sebenarnya, jadi, aku ingin menggunakan energi untuk menulis, 2 jam saja. Ya, setelahnya aku harus tidur. Harus. Siklus ini benar-benar mengganggu.

Ada hal ajaib yang telah terjadi. Hal yang dapat mendorong jatuh rasa malasku untuk mulai menulis catatan seperti ini. Seperti statement di atas. Ini tentang air mata.

Hei, apa kau pernah merasakannya?
Berapa kali?
Alasannya?
Bagaimana rasanya?

Oke, sekali lagi, kita sedang membahas air mata.

Bukan, ini berbeda dengan menangis. Mengapa? Karena yaaa telingaku lebih nyaman mendengar istilah yang tak hanya satu kata itu, kata ‘menangis’ membuatku terdengar rapuh di hadapanku sendiri. Jadi, coba terbiasalah dengan ungkapan ‘air mata’ saja untuk seterusnya jika membaca catatan ini. Sebut air mata sebagai ‘ia’.

Apakah kamu ingat, kali pertama ia menghampiri hidupmu?
Apa saja yang ia bawa?
Apa saja yang ia ubah?
Apa saja yang ia lalui?
..apa saja yang ia..

Maka sungguh aku ingin benar-benar membagi pemikiranku  mengenai ‘kau belum benar-benar hidup, jika belum menitikkan air mata dengan seribu alasan yang berbeda,” saat ini. Ia yang dulu sering mampir, kini semakin tak sudi. Aku menyadarinya tak lama sebelum ini malah. Ternyata memang akan ada satu momen yang membuat ia akan melupa arah jalan keluar untuk waktu yang lama yaa? Dan, ia tengah tersesat sekarang, di dalam sini.

Apakah kamu ingat, kali pertama ia menghampiri hidupmu?

Oh iya, ingat. Ia datang bahkan ketika aku belum paham seutuhnya arti dirinya. Ia keluar begitu saja, lepas-deras. Aku  masih sekolah Taman Kanak-kanak kala itu, ia datang di hari aku tengah terbangun dari tidur siang, ketakutan. Kurasa, sebelum momen itu ia memang sering mampir kok. Namun tiap kucoba ingat kali pertama kehadirannya, yaaa masih di hari aku terbangun dari tidur siang dan mendapati rumah kosong, itu saja.

Hari itu aku terbangun sendirian di kamar tengah, biasanya ada bapak. Aku memanggil nama-nama. Bapak, Mama, Bibi, Adik-adikku. Sore itu ternyata aku benar-benar sendirian. Aku takut sendirian dan hari mulai gelap. Beberapa lampu seharusnya dinyalakan pukul segitu. Aku masih mencoba memanggil nama-nama sampai ketakutan sendiri dan meneteskan ia. Panggilanku disahuti gemanya sendiri. Aku berlari keluar rumah, tak ada sosok yang kuinginkan yang kutemui. Rasanya ngantuk bercampur sembab. Pandanganku diburamkan ia. Hingga aku menemukan sosok tinggi di ujung jalan dekat tiang. Terlihat seperti bapak, lalu kukejar dan dekap.  Faktanya, dia bukan bapakku. Dia Pak Roni, tetangga. Dia bilang bapakku pergi bermain Tennis. Haha.

Ia datang bersama ketakutan.

Pernah juga, ketika aku masih duduk di sekolah dasar. Aku tidak akan lupa hari itu. 12 Agustus 2003. Aku kelas 3 SD. Seorang sahabat Bibi Ratna, bernama Bibi Na’ah, menyentuhku. Aku selalu tidak mengacuhkan dia sebelumnya. Biasa saja. Tapi hari itu, dia yang paling perhatian. Orangtuaku bisa disebut tengah  ‘naik daun’. Tidak ada kejutan di malam hari. Tidak ada ucapan spesial. Anak seusia aku harus paham, orangtua pekerjakeras butuh banyak waktu istirahat. Bibiku juga tengah ‘naik daun’, adik-adikku juga mulai akrab dan punya banyak janji dengan teman-teman sepermainannya. Aku anggap semua itu hadiah, sebelumnya. Setiap orang berubah menjadi lebih baik demi kehidupan yang lebih baik. Aku anggap mungkin tidak harus setiap tahun. Yaaa, walau keluargaku sendiri dulunya,  sangat mengapresiasi segala tindakan dan merayakan pencapaian-pencapaian. Sekali lagi, aku harus mengerti. Ah, tapi dasar anak esde yang ingin diperhatikan, aku selalu menyimpan harap ada yang mau meluangkan waktu sejenak. Dan dia ternyata adalah Bibi Na’ah. Esemes dengan nomor pengirim yang tidak tersimpan di ponselku. Ya, aku sudah memiliki handphone sejak SD kelas 3. Begitu  cara keluarga kami berkoordinasi.  Nomor asing itu ucapkan selamat hari jadi beserta doa-doa indah, ia katakan pulang sekolah langsung ke Rumah Makan Taliwang. Itu ada di dekat rumah Ida, sahabatku. Aku tak tahu dia siapa. Hingga ia mengaku sebagai Bibi Na’ah, aku mulai terharu. Waktu itu, aku malu. Malah berpikir untuk tidak datang saja.  Banyak alasan yang kulontarkan, tapi ia bahkan katakan datanglah bersama teman-temanku.

Hari itu, ia menetes. Aku merasa diperhatikan. Dia menggeret Bibi dan adik-adikku hari itu. Semakin kupikir kini, semakin aku tak habis pikir mengapa ia menetes hari itu. Haha. Tahukah? Hari itu ia jatuh berkali-kali dan tak bersela. Aneh, aku sesegukan. Bukan karena apa yang Bibi Na’ah beri, tapi tentang apa yang ia coba lakukan ketika yang lain mengerti bahwa aku pasti paham atas keadaan.

Ia datang bersama ketulusan.

Pernah juga, ketika aku kehilangan yang kucintai. Ketika aku rindu momen bersama orang-orang. Ketika aku bahagia menjadi juara. Ketika aku terbahak, tertawa hingga mulas. Ketika aku terbangun dari mimpi seram. Ketika aku sekadar berhayal mengenai perpisahan. Ketika aku kesal. Ketika aku dibohongi dengan mudahnya. Ketika aku harus berpura-pura tegar jauh dari rumah. Ketika aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi kakak yang baik pun anak yang berbakti pada Mama, Bapak, Bibi, Embah. Ketika aku menyadari betapa lemahnya aku. Ketika aku merasa tertekan dengan tanggung jawab yang tak bisa kuselesaikan dengan profesional. Dan paling sering ketika aku harus berulang kali takbirratul ihram karena terisak di Al-Fatihah. Wa iyyaa ka nasta’iin..

Ia datang bersama banyak perjuangan.

Apa saja yang ia bawa?
.

Ia seakan membawa lonceng seiring perjalanan kita. Mengingatkanku banyak hal atas apa yang ada di depan sekarang. Lonceng itu berdenting ’remember how you got this far, Fin..’. ia membawaku pada level yang lebih tinggi. Ia menarik langkahku di saat yang lain tertunduk meneteskan dirinya. Satu langkah lebih maju di saat mereka berjeda. Ia seolah berkata,”jangan siakan tiap tetesku, kau harus belajar sesuatu..”

Apa saja yang ia ubah?

Satu hal yang pasti telah ia ubah adalah aku. Benar. Itu aku. Bahkan, kini ia tak perlu mampir secara nyata. Kadang aku merasa tengah meneteskan ia, walau nyatanya tidak. Aku merasa seharusnya ia berkunjung di beberapa momen terbaikku kemarin. Waktunya begitu tepat. Sesaknya juga dapat.

Aku mulai curiga, ia tak mau berkunjung lagi. Aku tidak mau begitu. Aku masih ingin memilikinya. Aku mulai menonton film-film yang touching. Benar ia datang lagi, namun yaa hanya sebatas itu. Hanya sebatas efek fiktif. Aku merasa kehilangan ia.

Padahal, di tempat lain. Aku bisa merasakan ia menetes. Bersama orang-orang yang tengah memikirkanku, bersama orang-orang yang tengah kupikirkan. Ini membuatku merasa tidak baik-baik saja.

Apa saja yang ia lalui?

Sekali lagi, kau belum benar-benar hidup, jika belum menitikkan air mata dengan seribu alasan yang berbeda. Mungkin alasanku belum genap seribu. Parahnya sekarang ia lupa jalan pulang. Aku (merasa) belum hidup. Setelah banyak yang aku lalui, aku masih merasa belum melakukan banyak hal yang seharusnya. Aku masih belum paham bagaimana cara memiliki hidup yang berkualitas. Aku masih melakukan banyak hal yang percuma. Aku menyusahkan hidup orang lain, bahkan tanpa sepengetahuanku. Aku mudah merasa berdosa, aku mudah merasa bersalah. Namun lambat laun ketika aku sadar pemikiran orang-orang tidak sekompleks pikiranku terhadap diriku, aku putuskan untuk cuek saja. Hanya saja, aku tidak pernah menyangka bisa secuek ini. Ada hati yang aku abaikan, padahal aku sadar. Mungkin jika aku tidak lunglai-tumbang-terbaring atas muntah-muntah kemarin, aku tidak akan sadar secuek itu pada diriku sendiri. Aku berpura mencair dalam beku, berpura terlihat haru disaat yang lain meneteskan ia di malam rapat evaluasi. Apa aku tengah salah arah untuk bertumbuh? Apa titik muak itu seharusnya tidak berpuncak? Aku menjadi tak peduli atas keluhan dan pinta perhatian yang berlebihan. Aku sering berpikir bisa melakukan segala hal sendiri, walau harus retak-remuk-redam di garis akhir.

Hari ini, aku sadar. Aku ingin menemukan lebih banyak alasan  lagi. Untuk bagaimana cara hidup yang sebenarnya, karena benar kau belum benar-benar hidup, jika belum menitikkan air mata dengan seribu alasan yang berbeda, kan? Aku ingin menitikkan ia lebih banyak lagi. Dengan alasan-alasan baru yang bahkan belum pernah sempat aku pikirkan.




Zulfin Hariani


Yogyakarta
11052014


Komentar