Dear Kamu




Dear Kamu.

Iya, Kamu.

Masih merasa betah terus-terusan di zona nyaman, kah? Mau sampai kapan di sana terus?

Mungkin kamu tidak sadar. Bahwa aku sebenarnya sangat menyayangi kamu. Aku sangat ingin melindungi kamu. Ingin rasanya menghantam siapa saja yang berani menyakiti kamu.

Hai, Kamu.

Mengapa belum bergerak juga? Sebenarnya, kamu merasa teramat nyaman atau malas sih?

Aku tahu. Aku bisa melihat. Ada jiwa optimis di sana, di batin terdalammu. Tapi, apakah menurutmu itu adalah wajar? Merasa optimis pada suatu hal yang tidak kamu optimalkan. Kamu selalu merasa semuanya akan baik-baik saja, semuanya tidak akan pernah seburuk yang orang-orang katakan, bukan begitu? Tapi tidak pernah kah kamu merasa khawatir? Bahwa tidak ada yang bisa kamu andalkan untuk memperjuangkan hidupmu seterusnya. Optimismu tidak tepat penempatannya, sebab-akibatnya tidak cocok. Berlebihan kah jika kukatakan hanya orang-orang yang sungguh-sungguh dalam mengusahakan sesuatulah yang pantas merasa optimis dalam menunggu hasil perjuangannya? Nah, jika pemalas yang optimis? Aku baru dengar dari kamu saja. Itu tak pantas. Huh.

Hai, Kamu.

Iya, ini untukmu.

Aku ingin tahu, bagaimana rasanya? Tetap merasa tenang seperti itu. Tertawa dan bergaul dengan orang-orang yang telah menyusun rencana kehidupan mereka di depan sana dengan rapi. Apa yang kamu pikirkan? Ketika mereka menceritakan perjuangan hidupnya, ketika mereka memberimu saran, ketika mereka berujar hidup ini keras dan kamu jauh lebih beruntung dari mereka. Ya, apa otak dan hatimu memang benar-benar telah sebebal itu? Berhati batu dan tak memiliki rasa yaa minimal balas budilah. Apa kamu memang selalu begitu? Sadar sekejap, kemudian meraung dalam penyesalan, kemudian lupa lagi, kemudian lupa terus, kemudian selalu lupa. Kemudian sadar kembali telah di titik nol.

Hai, Kamu.

Benar, aku sedang berbicara padamu.

Sudah sadar kah? Ah, pasti belum. Selamanya akan belum. Sampai mati juga pasti terus begitu.

WOI! KAMU!

IYA! KAMU!

KAPAN SADARNYA?! MAU MATI KONYOL SEBAGAI MANUSIA GAGAL?! MAU MENYEMAI PERIH SEPARAH APA LAGI DI HATI MULIA YANG PERCAYA DAN PENUH HARAP PADAMU ITU, HAH?!

AKU BENCI KAMU, PECUNDANG!





Yogyakarta,

060614/11:12 PM



Komentar