Surat untuk Alul (Balasan surat untuk pemenang #BBF)



Yogyakarta, 01 Juni 2014
                 Kepada,
Rijalul Umam


Assalaamualaikum warrahmatullaahi wabarrakaatuh

Hai, Alul.

Haish, ingat sejarah nama ‘Alul’? itu hari di mana kau mulai memanggilku dengan nama ‘Zoo’. Gurbak. Lalu kau membuat akun facebook bernama Alul Fospast. Haha. Skip.

Firsly, sorry for the late reply.

Haish, tiap postingan kok jadi ngomong sorry-sorry gini yak? Kayak lagu boy band korea aje. Ah, namanya juga manusia, suka banyak salahnya, yaa gapapa nyanyiin lagu boy band korea jadinya. *eh
Ehem. Balasan suratku nampaknya tidak terlalu dinantikan pun. Tapi atas nama janji, emang musti dibalas kan yaa.

Nah, sebelumnya, selamat atas predikat ke-3 dari #BBF Perdana! Coba terka apa yang terjadi jikalau kau urung mengirim surat hari itu? Padahal deadline sudah lewat. Haha, karena beberapa Fospasterz juga berujar telah terlanjur menulis surat  walau belum rampung, yaa kuputuskan untuk memperpanjang waktu pengumpulan karyanya.

Ini adalah surat balasan.

Sesuai kesepakatan, aku digariskan semacam harus menulis surat juga untukmu. Ya. Itu benar. Garisnya pun aku yang buat. Haha.

Jadi, kita mulai dari mana?

Yaaa dari awal.

Kelas 2 SMA. Eh, nampaknya kita tak di SMP yang sama ya? Benar? Kau dari SMP mana ya? Hihi. Pun masa putih abu-abuku di tahun pertama, kita tak sekelas. Aku tidak pernah—seingatku—menangkap bayangmu di barisan manapun kala itu. Mungkin aku yang kurang mengamati.

Awal mengenal, ketika kita sekelas di Fospast. Kau dengan postur tinggi, kulit cokelat, tahi lalat di wajah, dan dengan sebutan ‘kucing lewat’. Cukup membekas di ingatanku. Kau si absen 23 yang merupakan kebalikan absenku si 32. Sepengamatanku, kau condong berwatak serius daripada santai. Namun kau cukup lihai menyelimuti keseriusan itu dengan candaan yang kerap membuat orang-orang berpikir kau susah diajak berpikir serius. Kau orangnya pemendam. Terbukti dari caramu mengagumi si Dia yang pernah kau ceritakan. Walau akhirnya dia tahu dan waktu itu—seharusnya —menjadi one step closer, tindak menghindar yang tak terantisipasi antar kalian, membuat kesan semalah one step farer. Hum..

Aku sering bertemu dengan orang-orang sepertimu. Kebanyakan mereka sangat merindukan kenyamanan dalam berekspresi, sering ingin menunjukkan kebenaran yang dianggap benar walau kerap pula terbentur dengan sikon yang tak sesuai. Keraguan? Mereka yang bentuk sendiri, pun ketakutan. Seharusnya keberanian juga kan? Hehe.

Terkadang, kau cenderung tak mau ambil pusing. Mengambil segala tindakan sendiri. Memutuskan dengan pemikiran sendiri. Melangkah sendiri. Namun juga sering, kau terlalu memikirkan banyak hal, sebagiannya tidak terlalu perlu sebenarnya, namun tetap kau pikirkan. Kau takut menolak ataupun memaksa. Selagi bisa kau jalani, maka kau lakukan. Rasa malas mungkin ada, tapi ingatan mengenai beberapa hal masih bisa menepisnya. Rasa pasrah juga sering hinggap, namun ketika kau disuntikkan oleh “kompor-kompor” itu, sering juga kau menjadi berubah pikiran.

Selebihnya, kau teman yang baik. Sahabat yang setia. Kau mudah iba. Lebih mementingkan perasaan orang lain selain dirimu. Namun kau juga pendendam, tepatnya, dendam yang terselubung. Kau bisa sangat marah dan mengeluarkan kata-kata pedas dengan cengiran itu. Aku ingat kata-katamu dulu, “air susu dibalas dengan air susu plus madu, air tuba dibalas air tuba plus kopi (atau racun yaa? Lufa. Wkwk)”. Itu kalau tidak salah ingat yaa. Haha.

Kau dekat dengan Pras. Obrolan kalian rada berat. Kalau aku nimbrung, rasanya yang kita obrolkan tidak seperti obrolan anak SMA. Oke, ini berlebihan. Tapi yaaa gitu deh. Pembahasan beberapa tahun di depan sana seperti obrolan yang wajar.

Setelah apa-apa yang terjadi di masa SMA, yang kiranya telah mengubah beberapa persepsi kita, aku harap biarkan semuanya berjalan seperti apa adanya. Halah. Tumbuh dan berkembanglah di tempatmu dengan caramu. Dengan alasan-alasan dan pihak yang menyosongmu di sana hingga sampai di tahap sekarang. Hidup itu harus berguna. Minimal untuk diri sendiri, maksimal untuk orang banyak. Ramai tidak selalu berasa riuh, sepi tidak selalu berasa sendiri. Kau mungkin kan temukan tempat baru yang katamu sekarang tak mungkin meninggalkan tempat yang lama. Siapa yang bisa menjawab pasti atas pertanyaan-pertanyaan yang mustahil? Tidak siapapun, kecuali Dia.

Hei, Sobat. Aku mungkin tak cukup mengenalimu. Waktu 2 tahun nampaknya  tidak cukup menjelaskan pribadimu yang nampaknya kian waktu kian tertata lagi. Tapi aku tahu kau orang yang baik sejak hari itu, hari di mana kau berkata, “percaya deh sama Inshaa Allah saya.”. Hari di mana kau menepatinya membuatku sadar, janji adalah usaha.

Hei, bagaimana kabar Pramuka yang kau banggakan itu? Masih mendarahdaging kah? Haha. Mengabdi pada hal yang menyenangkan memang membanggakan. Bagaimana juga kabar Rinjani? Sudah kau temukan sosok Edelweis kah? Haha. Bunga simbol cinta abadi yaa kabarnya? Bunga yang tak melayu, terlihat sama walau telah mati. So simple. Aku juga ingin naik gunung, terutama Rinjani. Namun entah kapan, rencanaku selalu berakhir sebagai —hanya—rencana. Haha. Yaaa aku tahu akan ada waktu yang tepat kok. Secepatnya.

Sampai lupa menanyakannya, bagaimana kabar keluargamu? Semoga sehat semuanya, bahagia juga. Mereka daftar orang-orang yang harus bahagia, kan? Semenjak berpulangnya Ayahandamu, segalanya tentu menjadi tak mudah nampaknya. Kudoakan Beliau diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin. Tapi aku tahu kau sosok yang bisa diandalkan kok. Memang seharusnya begitu, kan?. Hayoo, si tulang punggung. 

Kau harus ekstra berjuang lho—ah, kau pasti telah lebih dulu menyadari itu. Eh, bagaimana studimu? 

Lancarkah? Diseimbangkan lho yaa antar urusan organisasi dan kampus, jangan berat sebelah. Itung-itung belajar adil buat kehidupan di depan sana  :p

Apapun yang terjadi di sana, semoga sukses yaa, Mas Bro. jangan lupakan Fospast! Aih, ga akan bisa kau lupakan juga  deh nampaknya. Wakakakak. Kalau sudah sukses kelak, jangan sombong. Ingat, pernah ada remah-remah Fospast di jejakmu. Pernah  ada orang keren seperti aku juga. :p

Terakhir, terimakasih telah berbelanja. Selamat berkunjung kembali.

Becanda.

Tetap semangat dan ceria yaa. Jangan mudah layu. Tetap rawat iman dan Islam, ingat, sampaikan walau satu ayat. Hihi. Hidup masih sangat panjang, entah kapan perjalanan semulus ini akan berganti terjal ga ketulungan. Masih banyak mimpi dan janji yang belum dilunasi. Yuk ah, mau sampai kapan hidup untuk mengagumi kehebatan orang lain saja kemudian merasa sulit untuk menyamainya? Bersinar di jalan yang kita pilih sendiri kan keren juga tuh. Sudah sampai tahap ini aja luar biasa alhamdulillaahnya. Ayo bergegas bergegas bergegas bergegas.

Sampai bertemu lagi di tangga kehidupan yang lain. Semoga di tahap itu, kita menjadi pribadi yang telah mencapai banyak keberhasilan hidup. 

Keep smile ;)


Wassalaamualaikum warrahmatullaahi wabarrakaatuh



Cewek keren,


Zulfin Hariani

Komentar