Surat untuk Saride (Balasan surat untuk pemenang #BBF)



Yogyakarta, 01 Juni 2014
                                                                Kepada,
Ahmad Sarid Ezra Fathin


Assalaamualaikum warrahmatullaahi wabarrakaatuh

Hai, Saride.

How’s life?

Sudah memikirkan liburan? Haha. Entah deh, aku pun merasa jadwal liburan itu masih berbulan-bulan jauh di sana. Merasa agak aneh ketika teman-teman yang lain terus menanyakan kapan pulang, atau apalah yang menjurus untuk segera menginjak tanah kelahiran. Banyak yang belum dirapikan di sini. Bukannya sok sibuk, tapi yaa karena emang ngerasa belum pas moment aja. Halah.

Firstly, selamat yah. Sudah menjadi juara di #BBF perdana ini. Njiiiee, aku juga ga nyangka kalau elo bakal menjadi pemenangnya. Jadi, monggo ucapkan terimakasih kepada tujuan surat elo. Serius. Mungkin jika bukan dia yang menjadi tujuan surat itu, elo ga akan semenggebu-gebu itu dalam menyusun tiap kata yang kok aku juga ngerasa JLEB gitu ngebacanya, hingga akhirnya elo bisa menempati peringkat pertama. Sekali lagi, selamat!

Mengenai surat yang elo tulis, sudah coba dibaca berulang kali?

Cobain deh.

Lalu pikirkan, apa memang benar itu yang sebenar-benarnya ingin elo sampaikan padanya?

Eh, kok jadi ngomong elo-eloan gini sih? 

Bodo amatlah.

Mengapa aku memilih karya elo menjadi juaranya?

Eits, jangan kepedean dulu, uda ngerasa pantas jadi novelis lu? Wkwk

Ehem, karena aku merasa ada semacam ‘kemurnian’—yang  entah berwujud apa—yang mengalir begitu saja di surat itu. Rasanya, kau memang benar-benar mengungkapkan apa yang memang ingin kau ungkapkan—bahkan terkesan sebodo amat yang penting ini uneg-uneg gue! —gitu. Alasan lainnya mungkin karena surat itu berkesan tidak ingin dilombakan, namun memang ingin dituliskan. Wkwk. Selebihnya, yaa karena aku merasa kau pantas. As simple as just it.

Hum..

Banyak hal yang mungkin telah aku lewatkan. Yaa, ngga musti aku ikutin tiap inchinya juga sih. Wkwk. Itu mengenai apa yang terjadi padamu pun dengan si Diamu. *eh

Setidaknya, aku dapat membayangkan apa yang kamu rasakan. Walau tak dapat merasakan sepersis yang kamu rasakan. Halah. Tapi percaya deh, manything in this world happen for a reason. Entah reasonnya menyangkut kehidupan dia, atau bisa juga menyangkut kehidupan kamu. Bahkan bisa juga menyangkut kehidupan orang lain. Bagaimanapun itu diatur, itu sudah yang terbaik.

Eh, kok jadi kau-kamu gini ya?

Bodo amatlah.

:p

Aku bukan seorang penasihat yang ulung, bukan seorang psikologpsikologan, bukan seorang kakak yang baik, bukan juga seorang yang perlu dipertimbangkan. Tapi, setidaknya aku dapat melihat celah atas apa yang terjadi berdasarkan berita yang kulihat-dengar- rasakan. Bukan ingin ikut campur lho yaa, biarkan es saja yang dicampur sehingga rasanya jadi wuenak gitu. Aku hanya ingin kalian baik-baik saja. Semakin baik-baik saja.

Emosi sesaat?

Aku juga sering kok. Kamu juga nampaknya, dia dan Arka juga. Kita semua pasti pernah. Jadi, untuk apa termakan dan tenggelam dengan sesuatu yang wajar dan semua orang pernah mengalaminya? 

Masih banyak hal yang lebih menguntungkan untuk dikedepankan di luar sana. Terlihat, kau sering mencoba dan mengalihkannya. Itu bagus. 

Segala hal tidak pernah seburuk yang kita pikirkan. Percaya deh. Tapi kalau ternyata seburuk yang tidak pernah kita pikirkan, yaudah, mending ga usah mikir yang aneh-aneh, kan? Wkwk. 

Ada takdir yang mengagumkan di depan sana. Persiapkan dirimu, Tuan.

Betewe, gimana kuliahmu?

STOP!

Kok berasa aneh ngomong pake ‘mu’?

ULANGI!

Betewe, gimana kuliah lu?
-_-

Lancar kah? Jangan andalkan sistem kebut mepet deadline terus lah. Pikirkan perasaan si Deadline kau pepetpepetin gitu terus. Hak asasi kedeadlineannya seolah terancam. Mau jadi apa manusia kalo mepetin deadline terus? Ntar kalo deadline ga ada, ga kelar-kelar dong. Kapan jadinya terus, hah?! —aku berbicara seperti ini seolah aku sendiri ga kayak gitu, padahal gitu banget juga. *Oops

Mengenai berbicara serius.

Ehem.

Apa kita pernah saling berbicara serius sebelumnya, Saride?

Hum.. entahlah. Serius bukan melulu berarti tak diselingin tawa juga kan yaa. Serius itu mengenai materi yang dibicarakan. Juga keberlanjutannya. 

Kau cenderung susah diajak ngomong serius. Sadar atau tidak, pasti selalu ada aja celah untukmu menjadikan suatu pembicaraan tak mengarah pada jalur yang sengaja diarahkan. Padahal kau sadar itu.

Aku sadar setiap orang punya cara dan timingnya sendiri untuk berubah menjadi seseorang yang serius. Pun kadar keseriusan tiap orang itu kan berbeda-beda juga sih. Boleh jadi yang telah menyampaikan suatu hal merasa telah cukup serius, namun ternyata yang dituju merasa belum cukup, sehingga terjadi kesalahan dalam berkomunikasi yang berefek pada ketidaknyaman eksekusinya. Aku pernah mengalaminya. Kau juga demikian nampaknya. Benar?

Penempatan waktu. Nah, itu dia.

Kita harus pandai-pandai mengatur itu. Kapan waktu yang tepat dan seharusnya, pun kapan waktu untuk memecah suasana semacamnya. Dibutuhkan kepekaan. Dibutuhkan pula niatan yang kontinu agar tetap teringat: untuk benar-benar paham mengenai penempatan-penempatan itu.

Aku juga masih belajar mengenai hal itu kok, tapi yaaa hasilnya sama kayak si Nobita. Pada komik Doraemon, Nobita kerap kali berikrar untuk berubah menjadi anak yang rajin. Tapi, ujung-ujungnya, dia tetap malas-malasan juga, kan? Eh, episode terakhirnya bakal tayang di bioskop beberapa waktu mendatang, bukan? Nonton yuk! 

Mengenai seperti Nobita, aku tidak mau seperti dia. Haha. Tidak perlu Doraemonku rusak lalu mati, kemudian aku menjadi benar-benar serius memperjuangkan yang seharusnya. 

Eh, mengenai Sheila On 7 yang manggung di Sportorium UMY tanggal 23 besok, elo beneran mau mesan tiketnya ga?? Yang festival cepat habis lho. Ntar kalo beli yang OTS, suka dimahalin 5k-10k gitu harganya. Yuk ah buruan!

Mengenai Sheila on 7, setahuku, kau dahulu tidak sebegitu tertariknya dengan band ini. Yayaya, semuanya berubah setelah Negara Kampung Jawa menyerang. *Oops 

Tapi pilihan yang tepat jika siapapun menyukai Sheila On 7 sekarang. SO7 memang mudah membuat pendengarnya jatuh hati, persis seperti bagaimana membuat pengagum-pengagumnya—tersebut Sheila Gank—untuk dijatuhi hati pula. Haha. Terdengar membingungkan? Baca ulang gih. Malas? Yaudah.

Eh, Taylor Swift juga semakin banyak yang suka lho. Teman-teman organisasiku misalnya. Tapi selera mereka nampaknya mirip denganmu, mereka suka yang 22. Tepatnya di lirik: “tonight’s the night when we forget about the deadlines, it’s time, uh oh!”  dan “Tonight’s the night when we forget about the heartbreaks, it’s time, uh oh!”  #IYKWIM

Who’s Taylor Swift anyway, ew?

:p

Terakhir, apapun yang terjadi padamu sekarang, kuharap kau masih bisa mengatasinya. Karena sejatinya, bagaimanapun suasana hati yang menyelimuti seseorang itu terbentuk dari persepsi dan sudut pandang pribadi mereka sendiri. Alasan itu cukup jelas terlihat dari orang-orang yang merespon sebegituberagamnya persoalan yang sama. Tetaplah menjadi seorang Saride yang konyolnya bermanfaat *eh. Pertahankan juga pribadi seorang Saride yang kocak dan berani ambil langkah baru tak peduli waktu—okray, ini maksud gue apa ya? Bodo ah, yang penting rimanya cocok. Wkwk.

Good luck!
:)

Wassalaamualaikum warrahmatullaahi wabarakaatuh




Cewek keren,


Zulfin Hariani


Komentar