Kisah Rantau Anak Lombok Timur

Kali ini,  Masih Nyata ingin memperkenalkan tanah kelahiran Adminnya. Ehem, karena tulisan ini bersifat opini, jadi menyoal apapun yang disampaikan tergolong sah-sah saja, kan?
*
Lombok Timur (Lotim), adalah sebuah kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Yang selalu aku jadikan jawaban atas pertanyaan “dari mana?” oleh mereka di tanah rantau sana. Banyak di antara mereka mengangguk tanda mengetahui, walau ada juga beberapa yang nampaknya masih abu-abu, lantas bertanya lagi, “Lombok itu yang di sebelah Bali bukan?”.
source: http://loketpeta.pu.go.id/peta/peta-infrastruktur-kabupaten-lombok-timur-2012/
Anak Lotim banyak yang memiliki jiwa perantau. Itu benar, karena anak rantau Lombok yang aku temui di perkumpulan ‘Kanak Sasak’ di sana kebanyakan dari Lombok Timur. Dilihat dari siswa/i SMAku saja sudah luar biasa. Kami bisa berkelana keliling Indonesia, bahkan tak sedikit yang menimba ilmu ke macanegara. Pulau kami memang tidak besar, tapi semangat berkembang kami tidak terukur. Coba tanyakan pada sahabat-sahabat di tanah rantau sana, “Wadayya think about Lombok’s people?”. Mengapa menggunakan Bahasa Inggris? Aih, selain mencintai budaya sendiri, kami juga tak awam dengan budaya luar, sebentar lagi akan aku jabarkan.

Kebanyakan teman-teman di rantau sana menilai kami adalah orang-orang yang religius dan open mind. Maka aku ceritakan mengenai julukan ‘Pulau Seribu Masjid’ kami, pun aku ceritakan pula mengenai bagaimana kebebasan berpikir kami terlatih dimulai dari hal-hal  kecil—menjamurnya media penyiaran seperti radio komersil, TV lokal, surat kabar, bahkan kumunitas blogger—hingga pesta demokrasi dalam memilih Bupati.
source: dokumen pribadi
Bahkan mereka katakan lebih suka bergaul dengan orang-orang Lombok ketimbang yang lain, “kalian lebih setia kawan dan berterusterang, walau suka berbicara dengan nada tinggi.”. Ini pengalaman pribadi, dan yang lebih spesifik lagi di lingkungan kampusku, anak-anak Lombok tidak bisa diremehkan. Kami memegang beberapa bagian penting. Bersaing dan bekerjasama, kami suka mencoba hal baru. Aku ingat kesan pertama ketika memperkenalkan diri dengan seorang dosen, “oh dari Lombok Timur yaa, biasanya anak-anak Lombok Timur itu aktif di kelas dan suka diskusi.”. Nah citra orang Lombok Timur sudah rapi di sini.

Pada beberapa tugas presentasi di kampus, aku sempatkan untuk mempromosikan Lombok, khususnya Lombok Timur. Menyenangkan karena mereka mengapresiasi, tertarik, lalu kemudian berkunjung ke Lombok di akhir semester. Pantai di Lombok masih alami, warna pasirnya juga beragam—putih, hitam, pink. Mereka bangga dan merasa gaul bisa berbahasa sasak. Sering kami ajarkan bahasa yang positif, tapi yang negatif juga tidak sedikit. Hehe. Misalnya:

Ket:
KL: Kanak Lombok, NNKL: Ndek Nie Kanak Lombok

NNKL : Ajarin bahasa Lombok dong!
KL       : Fifin Inges.
NNKL : Apaan tuh artinya?
KL       : Yaa kamu belajar pronoundnya dulu, ntar aku kasitau artinya.
NNKL : Fifin Inges. Fifin Inges. Fifin Inges. Fifin Inges.
KL       : Artinya, Fifin cantik.
NNKL: *lalu gondok sewindu*

Nah, ajaranku tidak sesat kan? Mereka juga sering nanya lagi,

NNKL : Fin, ajarin lagi. Kalau ‘jangan banyak omong’, apaan?
KL       : Dendek lueq raos!
NNKL : Hoho, Fin dendek lueq raos!
KL       : *gondok sambil makan beberok*

Ada juga aksi balas dendam (walau kebanyakan kena getahnya sendiri),

NNKL : Bahasa Lomboknya ganteng apaan yah?
KL       : Basong (Anj*ng).. kamu Basong deh..
NNKL : Makasih, aku emang Basong. Tapi kamu lebih Basong kok. *wajah polos*
KL       : *Speachless & kapok*

Banyak hal yang tidak kami temukan di tanah rantau. Walau harga barang-barang besar tegolong lebih murah, namun tak ada budaya ‘nanje’an’ (menawarkan.red) mencari cabai 5 biji saja kadang susah sekali, kalau di Lombok biasanya ditawari langsung sama Amaq Tani (Bapak Tani). Masih fresh langsung dipetik dari pohonnya. Begitu pula dengan sayur-mayur. Di Lombok, mau antap (kacang panjang), kangkung, kelor, sager, tinggal petik. Gratis. Kebanyakan di tempat rantau sayur-mayurnya tidak segar, kangkung aja kojor (kaku/keras), mahal juga. Memang ada beberapa warung makan yang bertuliskan khas makanan Lombok, namun rasanya tidak orisinil, sambalnya mengikuti selera orang pribumi sana: manis. Porsinya? Astaga. Dengan harga setara beberok Bik Yem, kami hanya memperoleh sepiring lepekan kecil.

Walau mereka bilang kami suka kebolak-balik dalam penyusunan kata jika berbicara, mereka tetap lebih suka berdiskusi mengenai banyak hal dengan kami. Tentang perpolitikkan Indonesia (kalau yang ini karena lingkunganku yang Fakultas Ilmu Sosial dan Politik kayaknya), tentang agama (Jogja cukup kental dengan Muhammadiyahnya), tentang tempat wisata (kalau yang ini aku yang suka mendominasi, terlebih tentang pantai di Lombok Timur—mereka penasaran dengan pantai Pink yang aku presentasikan di kelas), tentang mitos-mitos/ghaib (karena di setiap daerah juga ternyata masih menerapkannya, tapi tentu orang Lombok lebih banyak ceritanya), tentang makanan pedas (mereka suka menanyakan resep beberok dan abon), dan tentang percintaan (oke, kalau ini sudah masuk rana pribadi, skip).

Suara adzan masih selalu lebih merdu di tanah kelahiran. Kekayaan laut mah jangan ditanyakan, sudah pasti Lombok juaranya—aku beli lauk cumi, sebijinya Rp 2.000, tidak ada telurnya, kecil seukuran setengah panjang kelingking. Hal-hal kecil seperti inilah yang sering kami rindukan. Ayam memang murah, harga seribu sudah dapat yang rica-rica, tapi yaa sambalnya manis. Banyak di antara kami yang curiga bahwa biji cabai mereka terbuat dari gula aren.

Hanya di Lombok Timur.

Aku terbiasa menekan ‘0376’ di awal menelepon. Melihat cimodok (banyak yang menyebutnya cidomo juga) mangkal di pasar-pasar, melihat tembok-tembok hijau bertuliskan Nahdlatul Wathan, dan selalu merasa terjebak nostalgia ketika melewati bangunan SMAN 1 Selong.


Aku pernah ada di sana. Bertemu orang-orang hebat yang tak mudah melupakan tanah kelahirannya, yang ingin mengangkat martabat daerahnya karena menyaksikan banyak kekayaan alam beriringan dengan otak-otak brilliant pelahap ikan teri. Banyak kekayaan kami yang belum tersentuh, yang boleh jadi jika dioptimalkan akan mengubah persepsi sahabat-sahabat di tanah rantau sana ketika kami kabarkan mengenai daerah asal kami, “oh, dari Lombok.. tempat yang indah itu ya? Tempatnya orang-orang hebat..”

Komentar

  1. kami sekeluarga ingin mengucapkan
    puji syukur kepada mbah jonoseuh
    atas nomor togel.nya yang mbah
    berikan 4 angkah alhamdulillah
    ternyata itu benar2 tembus
    dan alhamdulillah sekarang saya
    bisa melunasi semua utan2 saya yang
    ada sama tetangga dan bukan hanya
    itu mbah. insya
    allah saya akan coba untuk membuka usaha sendiri demi mencukupi
    kebutuhan keluarga saya sehari-hari itu semua berkat bantuan mbah jonoseu
    sekali lagi makasih banyak ya mbah bagi saudara yang suka main togel
    yang ingin merubah nasib seperti saya silahkan hubungi mbah jonoseu,,di
    0823 4444 5588,dan saya sudah membuktikan sekarang giliran saudara yg di luarsana

    BalasHapus

Posting Komentar