Aku Mengaku, Aku Khawatir

Aku mengaku, aku khawatir.

Aku sangat teramat sungguh, khawatir.

Aku tidak bisa mengontrol pikiran liarku.  Sungguh, rasanya susah sekali. Sulit sekali untuk tenang, rasanya seperti segala kemungkinan yang bisa saja terjadi, memang akan terjadi.

Aku khawatir, aku takut dia tidak pulang.

Membayangkannya saja sudah membuatku lemas, masih banyak janji yang belum aku tepati padanya. aku tidak bisa tanpa dia.

Padahal dia sudah menunggu sangat lama untuk ini. Padahal semua orang mendukung dia untuk pergi. Padahal, seharusnya aku merasa baik-baik saja.

Aku khawatir. Pokoknya aku khawatir.

Dia sudah terlampau tua.

Itu akar kekhawatiranku. Dia sudah mulai kesusahan dalam berjalan panjang. Mulai mudah merasa pegal ketika aku boncengi dengan motor. Mulai susah makan makanan yang keras. Mulai pelupa atas banyak hal.

Aku khawatir.

Aku yang takut jika dia merasa takut. Dia pernah menangis karena sendirian di rumah. Dia pernah memelukku sangat erat ketika lampu padam.

Semalam adalah kali terakhir aku mendengar suaranya. Aku ingin lagi, lagi, lagi, dan selamanya lagi. Sebulan kedepan akan sangat sulit menghubunginya. Ah, ketika memiliki handphone terdahulu  saja dia masih sangat kagok menggunakannya, “Hariani, hape Embah rusak ya? Kok ndak nyala?”. See? Dia tidak tahu bahwa hp bisa kehabisan baterai.

Terlepas dari itu semua, aku sadar Tuhan memiliki kuasa yang tak terhingga.

Tuhan pasti melindungi dia. Menuntun dia. Membawa dia kembali pada kami.

Tapi mungkin terlalu naif jika kukatakan kini aku sudah merasa tak khawatir. Belum. Yaa Allaah.

Padahal dia sendiri telah meyakinkanku, “Tenang, kan ada Allaah.

Entahlah, mungkin aku yang terlampau sayang. Olehnya aku takut merasa kehilangan. Tapi sebagai umat yang beriman, aku percayakan pada Tuhan: agar segalanya dilancarkan.

Semoga mendapat haji yang mabrur, Embah.




Yogyakarta,

Cucu terkeren Embah




Zulfin Hariani
260914-11:23PM


Komentar