Aku Pikir Kita Teman

Aku pikir kita teman
Setelah apa-apa yang pernah kita lewati bersama
Ketika kamu membantuku pun aku sebaliknya
Ketika kamu menceritakan hal yang sangat banyak tanpa henti padaku
Ketika kamu sakit dan kita saling menjaga
Ketika kita makan dan tidur berdua
Ketika beberapa tugas kuliah dan organisasi kita kerjakan bersama

Sungguh, aku pikir kita teman
Ketika aku berusaha memahami  keribetanmu
Ketika kamu membagi makanan padaku
Ketika aku memaklumi egomu yang hanya mau didengar tanpa bersedia mendengar
Ketika kamu mengajakku bepergian
Ketika kamu mengingatkan ketika aku lupa

Dan aku terlanjur berpikir kita teman
Hingga akhirnya aku merasa lelah mengalah
Menerima ocehanmu di belakang, dan pura-pura tak tahu
Ketika kamu tak acuhkan aku dengan sengaja
Ketika kamu menjatuhkan aku di hadapan mereka
Ketika kamu bercerita tentang aku di sana, dan mereka tak henti tertawa

Iya, aku pernah berpikir kita teman
Aku sadar, tak seharusnya berpikir bahwa kita teman
Kini terasa sesal ketika membelamu atas hinaan mereka, kamu tak pernah tahu bagaimana aku melindungimu
Kamu tak pernah tahu, bagaimana aku membangun imejmu di depan mereka yang sejatinya kamu ambrukkan sendiri
Aku tak ingin kamu terlihat tak punya teman
Itu kenapa aku coba berdamai dengan hal-hal bodoh yang kamu lakukan padaku
Setidaknya, sekarang aku tahu mengapa kamu tak punya teman

Jika kamu pikir dengan jatuhkan aku di depan orang adalah cerita yang menarik, sehingga mereka ingin berbicara lebih lama denganmu
Kamu salah
Jika kamu mati-matian menyamai aku dan pencapaianku di non ataupun akademik, lalu kesal karena tak pernah berimbang dan masih saja angkuh
Kamu salah
Jika kamu terus-terusan merasa lebih baik dari siapapun di dunia ini, dan merasa hebat ketika merendahkan orang lain
Kamu benar-benar salah

Sekali lagi, jangan mengaku kita adalah teman
Cukup, aku muak, kali ini kamu benar-benar melampaui batas
Kamu pikir kamu siapa?
Kamu pikir angkuh itu hebat?
Apa kamu tidak pernah menangkap, ekspresi muak pada tiap wajah ketika kamu bercerita?
Apa kamu kurang perhatian?
Apakah hal yang menarik dalam hidupmu hanya itu-itu saja?
Apa yang bisa kamu lakukan tanpa “budakmu” itu?
Kamu mengaku mandiri, tapi sangat manja di mataku.
Kamu tak akan dihormati jika terus merendahkan orang lain.

Aku menyerah, dan lihat apa sisa puing yang kamu punya ketika aku tak lagi peduli.
Terimakasih telah menjadi kesalahan dalam hidupku.
Aku pikir, kita bukan teman.

Komentar