Berharga


Ada beberapa hal yang mungkin orang lain pikir sederhana, namun harus ditebus sangat mahal di kehidupan orang lain

Tuhan memberikan aku kesempatan memiliki hal yang berharga itu beberapa hari yang lalu. Saking berharganya, aku tak berani membuka mulut untuk membicarakannya pada siapapun. Aku menyimpannya sendirian. Hal berharga yang kumaksud adalah kehilangan, sesuatu yang tak kembali. Ia sangat berharga karena tertebus dengan nyawa, sangat mahal. Hal yang satu ini hanya bisa kau dapatkan setelah menangis sesegukan, setelah merasa lemas di seluruh badan, ketika memaksa mengelabui diri: bahwa nyata adalah mimpi.

Ada banyak tempat di dunia ini, dengan beragam rutinitas dan kebiasaan-kebiasaan yang terulang di sekitarnya. Ada yang menyadari, ada yang tidak. 

Seharusnya, malam itu dia menggunakan helm saja.
Seharusnya, malam itu dia pulang kerja tepat waktu.
Seharusnya, malam itu dia beristirahat dengan nyaman di rumah.
Seharusnya, malam itu bukanlah malam terakhir.
Seharusnya, aku masih bisa mendengar suara renyahnya ketika menekan beberapa tombol di handphoneku.

Masih terlalu jelas, segala gerak tubuhnya. Ayunan tangan, kibasan rambut, langkah kaki, senyuman, kedip mata, tawa, genggaman, bisikan, dekapan, nyanyian, pijatan, usapan, bayangan kita berdua di cermin toilet.

Aku tidak pernah menyangka memiliki ingatan tentang dia, sebanyak ini. Aku tidak pernah menyangka akhirnya harus seperti ini. Sungguh, ini terlalu tiba-tiba.

Dia seperti magnet. Aku tertarik dalam medannya. Mungkin terperangkap. Tapi itu nyaman. Hal yang kurasa pasti dirasakan pula oleh jiwa-jiwa yang tertarik dalam medannya. Kak, kau terlalu mudah untuk disukai. Parasmu indah, tuturmu lembut, pemikiranmu matang, otakmu brilliant. Mungkin kau tak pernah tahu bahwa sejak dulu telah bersanding rasa iri di samping kagumku padamu. Itu tentang bagaimana orang-orang membandingkan kita. Tentang kau yang selalu memiliki segala yang aku inginkan ada padaku. Kau mendapatkannya dengan cuma-cuma, sedang tubuhku harus berotot dulu agar dapat menyamaimu. 

Kau tahu? Aku teramat sangat merasa kehilangan.

Kepalaku pusing dan jemariku bergetar malam itu, mungkin karena aku sayang kau. Jika bibi tak meneleponku sambil terisak malam itu, aku pasti tidak percaya. Bibi suka bercanda. Aku menelepon beberapa nomor yang kuharap dengan suara tenang mengatakan padaku bahwa kau tak benar-benar pergi. Namun tak satu pun yang bersuara tenang, rasanya aku ingin pulang saja.

Tentang masa kecil kita yang kini hanya bisa terkenang olehku sendirian, hari pesta ulang tahunku yang pertama, kau menggunakan gaun berwarna putih. Aku masih menyimpan potretnya. Tentang malam-malam menginap di rumah embah. Tentang hari-hari di rumah sakit, ketika hanya ada kau dan aku yang menjaga keluarga kita yang sakit. Tentang memasak nasi goreng kita di dapur, sembari kau ceritakan tentang teman-temanmu yang memiliki aturan aneh harus berpacaran dengan cowok berawalan huruf R saja. Walau akhirnya kau memilih Kak Hasan yang luar biasa itu. Seseorang yang telah lama menunggumu pulang di kampung halaman, setelah kau berjuang di tanah rantauan. Aku tahu itu benar-benar sebuah perjuangan. Kau sanggat menyukai minyak kayu putih. Itu kenapa aku memanggilmu Manusia Kayu Putih. Rasanya baru kemarin aku mendatangi resepsi pernikahanmu. Kita berfoto. Kita makan sate.

Tuhan, mengapa mataku mudah sekali meneteskan air?

Aku tak tahu harus berbuat apa, hingga detik ini pun aku belum melihat tempat peristirahatan terakhirmu. Oh sungguh jarak ini sangat menyebalkan. Terlalu banyak yang mencintaimu dan terlalu sulit untuk melupa. Lebih sulit lagi untuk terlihat baik-baik saja. Jahat sekali rasanya jika aku katakan merasa terjebak dengan rutinitasku di sini sekarang. Maafkan aku, aku tidak setia hingga akhir.

Tuhan harus memanggilmu lebih dulu. Walau rasanya berat dan tercabik-cabik, aku menyadari itu adalah sepenggal kisah yang harus kita lengkapi. 

Aku mendengar Tuhan berbisik. Ia memintaku untuk belajar. 

“Fin, sudah waktunya kamu belajar untuk professional. Lebih professional..”

Ada beberapa hal yang tidak menjadi urusan orang lain walau itu sangat mempengaruhi kehidupan kita. Ada jadwal yang harus berjalan tak peduli apapun, terlebih persiapannya melibatkan kerja tim. Ada beberapa orang yang tak ingin tahu urusan orang lain dan hanya mau tahu kita tidak membuat ulah dalam keberlangsungan suatu acara. Itu semua harus dihadapi dengan kinerja yang setara dengan anggota tim lainnya: dengan anggota tim yang tengah baik-baik saja.

Hidup terus berputar. Banyak hal buruk terjadi di luar sana, dan aku tetap di sini. Aku hanya khawatir banyak hal yang lebih buruk terjadi di luar sana, dan aku masih di sini.

Selamat jalan, Kak Nelly Puspita Sari. Hari di mana aku mengantar Mama ke bandara untuk pulang ke Lombok sedari Jogja, juga adalah hari kepulanganmu ke rahmat-Nya. Aku akan ingat 5 September selamanya. Semoga Allah kita menempatkanmu di singgahsana terbaik, kau pantas. Kewajibanmu di dunia sudah selesai. Jangan khawatirkan Mama Eyak yang walau di hari kepergianmu dia terus menerus pingsan, pun Angga yang selalu berseru tak dapat menerima suratan ini. Kami Inshaa Allaah sudah ikhlas. Terimakasih telah hadir di hari-hari yang tak terlupakan. Kau akan terus hidup dalam rindu kami.


Salam peluk erat,




Zulfin Hariani



Yogyakarta 
150914-16:04

Komentar