How Important A Comfortable For Me

Let’s me explain you how important a comfortable for me.

Seorang dosenku pernah bertanya pada kami di suatu kelas, “apa alasan kalian memutuskan untuk menjalin hubungan dengan seseorang?”.

Hari itu aku menjawab:  kenyamanan.

Mengapa?

Setidaknya, sejauh ini, hal itulah yang membuatku bertahan dalam berbagai kondisi. Walau nyaman yang kumaksudkan tidak mesti mencakup secara menyeluruh pada rana aku berdiam. Selama masih ada hal yang membuatku nyaman, akan kupertimbangkan untuk bertahan.

Aku merasa nyaman dengan diriku, ketika aku memutuskan untuk berhijab dan melakukan apapun yang aku suka. Aku nyaman maka aku bertahan. Aku nyaman dengan kebiasaan-kebiasaanku, itu mengapa aku sangat mencintai diriku.

So simple.

Aku merasa nyaman dengan keluargaku. Kami saling mendukung dan melengkapi. Namun sering pula aku sebal, terlebih pada makhluk bernama adik. Walau rasanya ingin murka, rasa nyaman yang pernah ada dan lebih besar sebelumnya membuatku menetap. Lambat laun rasa nyaman itu membentuk rasa tanggungjawab. Rasa nyaman itu juga menggerakkanku untuk memelihara rasa nyaman itu sendiri. Olehnya, sejak awal aku sudah sadar cintaku pada keluarga akan abadi.

So fascinate.

Namun ada beberapa hal yang membuatku tak nyaman ketika berada di dalam lingkaran suatu lingkungan ataupun keadaan, sering karena ada beberapa pihak yang mendominasi. Mendominasi yang kumaksud adalah dominasi yang tidak sehat. Terlalu berkoloni misalnya, ah, seperti zaman anak esde saja. Terlalu banyak membicarakan hal yang tidak menyangkut banyak orang alias tidak penting untuk forum juga misalnya. Atau jika di lingkungan sehari-hari, aku tidak nyaman dengan orang-orang yang tidak pandai menghargai orang lain. Aku tidak suka melihat orang menjatuhkan orang lain di tempat umum, siapapun dia. Aku tidak suka sehingga merasa risih. Terlebih tidak nyaman lagi jika di lingkungan yang bersenioritas tinggi dan berprilaku kasar. Aku tidak suka di lingkungan orang-orang yang tak pandai membalas budi. Aku tidak nyaman. Sungguh tidak nyaman dengan lingkungan yang auranya dibuat oleh orang-orang seperti  itu. Apa salahnya sih, untuk memberikan kesempatan pada orang lain berkembang bersama-sama? Apa salahnya menerima alasan dan memaklumi? Apa penting menyombongkan diri di depan semua orang atas kerja keras yang padahal sama-sama kita lakukan?

Lingkungan tempat aku tinggal dulu, berbeda sungguh dengan keadaan di sini sekarang. Mungkin ini yang disebut keragaman. All I knew now is keragaman tak selalu membuat nyaman. Ada oang-orang yang hanya ingin diservis tanpa mau menyervis. Terkadang membuat geli, terkadang menyebalkan.

Aku adalah seseorang yang terbuka dan suka berbagi, mudah saja, jika dahulu aku berkesan demikian pada dirimu dan sekarang sudah tidak lagi: it’s mean there were manythings wrong about us, or let's call it 'I am not comfort to you".

Memang tidak ada pribadi, tempat, pun lingkungan yang sempurna. Tuhan ciptakan kenyamanan berdampingan dengan ketidaknyamanan. So that, itu mengapa manusia dicipta sebagai makhluk sosial, kan? Ya, untuk terus belajar pada apa/siapapun.


Be kind, be good. Be appreciate.




Yogyakarta
220914-10:08AM





Zulfin Hariani

Komentar