Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2014

Dimensi yang Berbeda

Gambar
Mengingatmu pernah duduk di kursi kosong depanku ini, dulu.  Buatku merasa kita tengah duduk bersama, selalu. Mengingatmu membuatku tak merasa sepi, sendirian.
Walau di dimensi yang berbeda.






Yogyakarta

Zulfin Hariani 3112141235

Sama Saja

Gambar
Sudah kuingatkan jangan berlebihan. Sudah kuingatkan jangan izinkan dia melakukan sesuatu yang belum pada waktunya. Sudah kuingatkan jangan terlalu percaya dengan janji-janjinya. Sudah kuingatkan, berulang-ulang. Jangan bergantung padanya.


Lihat sekarang. Apa dia seseorang yang pernah kau kenal? Rasakan sekarang. Bagaimana rasanya berpura-pura menang?
Ah, kau hanya menambah list kemuakanku saja pada mereka. Aku benci melihatmu dijadikan wayang seperti itu.
Padahal aku sempat percaya, pasti masih ada, tidak semuanya.



Sama saja. Cih.





Yogyakarta




Zulfin Hariani
2812141538

Aku Bahkan Belum Memikirkan Judulnya

Gambar
Aku menulis ini ketika seluruh badanku  masih terasa pegal yang teramat sangat. Duh, mungkin memang harus sepegal ini agar aku sadar pun ingat, kalau aku punya badan. Sejauh ini, aku melakukan banyak hal semauku dan lupa bahwa ada badan yang menopangku.
Ini kedua lengan ga pernah seselow ini deh perasaan kalau lagi nulis, gapapa deh, slow but sure, sebelum lupa, aku ingin menyampaikan sesuatu yang nampaknya akan aku lupa namun selalu aku butuhkan di kemudian hari. Beberapa waktu belakangan ini, aku sadar satu hal yang tidak bisa aku elakkan lagi—atau berusaha membantahnya, benar,
: aku tidak bisa berdiri sendiri.
Aku selalu membutuhkan orang lain. Aku butuh orang-orang yang peduli dan mengerti aku di dekatku. Aku butuh orang-orang yang mau diajak berusaha dan tak mudah menyerah. Terlebih mimpi-mimpiku yang semakin hari semakin banyak saja, aku benar-benar tidak bisa berdiri sendirian. Singkatnya begini, terus hidup yang aku maksud adalah terus berjuang, berjuang artinya terus hidup. …

Sore Itu

Gambar
Sore itu, aku mendengar langkahmu datang bersama ketukan hujan di jendela. Kau basah, aku tahu kau merasa dingin walau suguhkan senyum hangat. Ada sebuah bingkisan datang bersamamu, kau bungkus ia dengan mantel hujanmu, itu adalah sesuatu yang berharga, untuk diberikan padaku.

Sore itu, kita bicara banyak. Menikmati pergantian warna jingga langit hingga memekat di penghujung senja. Kita telah menyepakati, melewati yang lalu dan memulai yang baru: sendiri-sendiri. Bersama perjalanan kita, beberapa yang berharga kita kembalikan ke pemiliknya. Benar, kita kembalikan kenangan kepada pemiliknya. Untuk mungkin bisa lebih berguna, mungkin untuk orang yang baru. Siapa yang peduli?

Sore itu, dingin hujan menembus hingga rusuk terdalam. Malam membantu kita menyelesaikan hari. Kita sadar, esok adalah hari baru di mana mimpi menjadi lebih terlihat. Hari di mana hitam tidak lagi pekat. Kita dengan jejak kita berubah menjadi aku dan langkahku, kau dengan langkahmu. Kita terobos sekat-sekat yang dulu …

huruf kecil

Gambar
assalaamualaikum warrahmatullahi wabarrakaatuh
:D



hai, blogku tercintah (tapi bohong)
wkwk

uda lama banget rasanya ngga nulis langsung gini di laman entri tulisan gitu, eh, apa sih sebutannya? gurbak. itulah pokoknya. wkwk.

sudah lama? iyah. karena berasa males gitu aja sih, kalo nulis langsung macam ini. why? karena tulisannya pasti ngga sesuai eyede, kecil-kecil semua gitu hurufnyah.

tuh kan. padahal uda pake titik.

well, setelah menyempatkan diri 'menjenguk' blog ini, kok hawanya serius banget gitu yak jadinya? wkwk. padahal, aku ngga gitu banget kok orangnya. yang uda kenal pasti tahulah.. yang belum kenal, mau kenalan? *eh

banyak yang terjadi <- kalimat yang sering aku gunakan. ish. terjebak sama kalimat ini, ga bisa ganti :v

tapi beneran, emang banyak banget yang uda terjadi. sungguw, zulfin hariani tidak berdustah.
aku merasa kadar kealayanku berkurang, nah, ini aku mau menumbuhkembangkan lagi.

gimana? uda cukup alay?
wkwkwkwk

well (meneh), aku mau cerita tentang do…

Bukan

Akan ada kalanya, bukan selamanya, suatu hari nanti, bukan seharusnya  kini, kau, bukan dia, memilih untuk melindungi, bukan menjebak, seseorang yang selalu menemanimu, bukan dia yang tak acuhkanmu. Walau mereka tidak sepenuhnya benar, bukan tak pernah salah, tersebab kau merasa lebih mengenal dia, bukan seperti klaim dunia, kau percaya dia bisa dapatkan kesempatan, bukan kebetulan.
Akan ada kalanya, bukan selamanya, kau merasa kehidupan orang lain lebih seru, bukan dia, segala keberhasilan yang ia capai adalah rencana gagalmu, sekali lagi, bukan dia. Kau merasa tak berguna, bukan pasrah, kau merasa terlambat, bukan tak berusaha, kau bingung harus mulai menenun mimpi dari benang yang mana, kemudian kau mulai tak menjadi dirimu, bukan inginmu, kau terlalu mengeluh, bukan membentak, kau mulai menyalahkan orang lain, bukan menuduh, kau mulai berangan-angan, kau lupa kau dari mana dan seharusnya bagaimana untuk siapa, juga terlalu terpuruk, kau menunggu sesuatu yang tak terlihat, bukan tid…