Aku Bahkan Belum Memikirkan Judulnya



Aku menulis ini ketika seluruh badanku  masih terasa pegal yang teramat sangat. Duh, mungkin memang harus sepegal ini agar aku sadar pun ingat, kalau aku punya badan. Sejauh ini, aku melakukan banyak hal semauku dan lupa bahwa ada badan yang menopangku.

Ini kedua lengan ga pernah seselow ini deh perasaan kalau lagi nulis, gapapa deh, slow but sure, sebelum lupa, aku ingin menyampaikan sesuatu yang nampaknya akan aku lupa namun selalu aku butuhkan di kemudian hari. Beberapa waktu belakangan ini, aku sadar satu hal yang tidak bisa aku elakkan lagi—atau berusaha membantahnya, benar,

: aku tidak bisa berdiri sendiri.

Aku selalu membutuhkan orang lain. Aku butuh orang-orang yang peduli dan mengerti aku di dekatku. Aku butuh orang-orang yang mau diajak berusaha dan tak mudah menyerah. Terlebih mimpi-mimpiku yang semakin hari semakin banyak saja, aku benar-benar tidak bisa berdiri sendirian. Singkatnya begini, terus hidup yang aku maksud adalah terus berjuang, berjuang artinya terus hidup. Jika aku tumbang sendirian, artinya aku tidak hidup. Ketika aku terus bergerak dan masih ingin mencoba menjadi lebih baik, maka aku hidup. Malam keakraban yang entah kali keberapa kuikuti kemarin menyadarkanku, sebisa apapun aku melakukan hal sendiri, aku selalu lebih bisa menghasilkan sesuatu yang lebih baik jika tidak sendiri. Sejauh ini, aku lupa, kalau aku punya kesempatan untuk bisa menjadi lebih baik lagi di luar kemampuanku sendiri. Aku punya banyak orang yang peduli di sekitarku. Aku tidak akan menghardik mengapa baru sekarang aku sadar? Mengapa baru sekarang pikiran itu datang? Karena mungkin alurnya memang harus demikian.

Jadi, tepatnya: aku tidak bisa berdiri sendiri mencapai mimpi-mimpi terbaikku. Aku punya orang-orang yang selalu sigap membantuku, pun aku sigap membantu kapanpun mereka mau. Aku percaya pada mereka, selayaknya mereka mempercayai apa yang aku katakan dan putuskan. Benar, terkadang aku memang harus mengalah dan lebih banyak mendengar, tapi aku sadar, itu bagian dari hal-hal lain yang nantinya akan membawaku pada posisi yang sebaliknya. Aku harus benar-benar memilih dan memilah prioritas dan mengabaikan ranjau-ranjau. Karena selalu masih ada harapan, kesempatan tidak datang sekali pada seseorang. Ia datang setiap waktu dengan banyak pilihan, gerakan cepat yang menentukan.

Tahu kah? Terkadang aku merasa sangat tua dengan usia yang masih 21. Entah itu karena apa. Aku bahkan berpikir mungkin tak hanya aku yang merasa terlalu cepat seperti ini, aku bahkan berpikir kemungkinan aku yang terlalu percaya diri. Aku memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat membuatku merasa normal. Kemudian, terkadang, aku juga merasa sangat muda dengan usia yang telah 21. Aku bertingkah sangat kekanak-kanakan di hadapan orang-orang yang kurasa nyaman. Aku malas berpikir berat di hadapan makanan enak. Dan kini, aku merasa sangat tua pun muda di usiaku yang 21.  Aku mengerti memang sudah waktunya berpikir jauh kedepan dan penuh pertimbangan, pun aku paham, di langkah menuaku,  aku tak boleh kehilangan keceriaan masa kanak-kanakku. Aku pernah membaca ungkapan itu sebelumnya pada twit seorang motivator yang aku kagumi, namun aku benar-benar memahaminya hari ini.

Engkau tak selalu harus belajar banyak hal dari pengalamanmu sendiri, pengalaman orang terdekat juga diberikan Allaah untukmu untuk dapat lebih berpikir dan belajar banyak hal. Buku memberimu banyak kisah dan sudut pandang yang tak pernah kau duga. Alam mengabarkanmu bahwa di tempat lain ada rerumput yang terus tumbuh setiap detik bahkan di hari sibukmu, ada ombak yang berdebur bahkan di waktu tidurmu, ada tetes air embun yang berbeda yang jatuh di tiap pagi, ada hewan-hewan kecil yang mendekati cahaya untuk bertahan hidup lebih lama, walau nyatanya mereka hanya miliki waktu beberapa hari saja. Kau bisa belajar dari mana saja dan siapa saja. Kau bisa menjadi lebih baik tidak hanya dari rasa bahagia, bahkan jatuh remuk mengajarkanmu sesuatu.

Akhir kata, aku butuh untuk menyadarkan diriku suatu hari nanti jika tetiba melupa dengan apa yang pernah aku sadari hari ini. Tentu kau yang telah lama mengenalku paham benar bagaimana aku begitu mudah melupa. Aku menulis untuk mengingat, aku membaca untuk mengingat. Dan kamu, seseorang di luar sana yang membaca ini, bantu aku untuk terus ingat ya! Bahwa aku tidak pernah benar-benar sendiri, kita bisa lakukan banyak hal!





Yogyakarta


Zulfin Hariani

1512141644

Komentar