Sore Itu



Sore itu, aku mendengar langkahmu datang bersama ketukan hujan di jendela. Kau basah, aku tahu kau merasa dingin walau suguhkan senyum hangat. Ada sebuah bingkisan datang bersamamu, kau bungkus ia dengan mantel hujanmu, itu adalah sesuatu yang berharga, untuk diberikan padaku.

Sore itu, kita bicara banyak. Menikmati pergantian warna jingga langit hingga memekat di penghujung senja. Kita telah menyepakati, melewati yang lalu dan memulai yang baru: sendiri-sendiri. Bersama perjalanan kita, beberapa yang berharga kita kembalikan ke pemiliknya. Benar, kita kembalikan kenangan kepada pemiliknya. Untuk mungkin bisa lebih berguna, mungkin untuk orang yang baru. Siapa yang peduli?


Sore itu, dingin hujan menembus hingga rusuk terdalam. Malam membantu kita menyelesaikan hari. Kita sadar, esok adalah hari baru di mana mimpi menjadi lebih terlihat. Hari di mana hitam tidak lagi pekat. Kita dengan jejak kita berubah menjadi aku dan langkahku, kau dengan langkahmu. Kita terobos sekat-sekat yang dulu melekat. Kemudian kita terbiasa dengan prasangka, yang membawa hilang, perlahan, dalam diam.



: hanya saja, aku tidak bisa membenci dengan sangat, juga tepat.







Yogyakarta






Zulfin Hariani

0812140201


Komentar

Posting Komentar