Mual?

Dandelion Flower


Hari itu, aku sudah mewanti-wanti akan adanya hari ini.
Hari dimana kita tidak menginginkan peluang untuk bisa sekadar berteman.
Hari dimana rasa benci lebih masuk akal daripada memaklumi.

Menyesal?

Seandainya menyesal dapat menyelesaikan masalah, aku akan menyesal dengan segenap jiwa ini.
Seandainya menyesal dapat memperbaiki keadaan.
Ya, but everyone had known that seandainya tak pernah berarti bisa.
Hari ini tiba, rasanya baru kemarin aku mengukuhkan diri atas kemustahilannya. Aku percaya hari ini tidak akan pernah datang selama aku selalu waspada. Tidak akan pernah.

Yang terjadi?

Aku alpa. Aku tidak sadarkan diri bahwa tengah tidak waspada. Aku merasa sebagai pihak yang benar dan seharusnya tidak diperlakukan demikian. Aku salah. Tapi dia tidak benar sepenuhnya. Dia bahkan tidak separuh benar dari kebenaranku. Singkatnya, aku lebih benar dan pantas untuk mengambil sikap.

Lalu mengapa aku masih memikirkan?

Lemme call this a step for forgetting. Aku sadar akan melupakan hari ini secepatnya. Itu sering ketika aku merasa seperti ini. Selagi ingat, aku hanya ingin mengungkapkan bahwa, seharusnya rasa malu dan tahu diri itu dimiliki oleh sebagian besar mahluk yang mengaku cerdas. Seharusnya ucapan mereka juga dapat lebih dikontrol demi tidak mempermalukan diri dan menenggelamkan martabatnya pada lumpur. Aku memikirkan karena aku sebal. Aku kesal. Aku mual.

Mual?

Iya, mual. Rasanya mual sekali membayangkan seseorang memakan omongannya sendiri. Memakan apa yang pernah dimuntahkan.

Huek!

Sudah. Gitu doang sih sebenarnya. Haha.





Yogyakarta




Zulfin Hariani

090120150322

Komentar