Tidak Sadarkan Diri?

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarrakaatuh


Lobby Merbabu Hotel, taken by me when waiting for Niar


Hoam. Akhirnya aku tidur. Dan sekarang uda bangun. Wkwk.

Hai, Blogku yang sudah berganti alamat. Luar biasa, signifikan banget penurunan viewers-nya. Pada kesesat yah? Haha. Maaf, entah mengapa menyadarinya justru membuatku lega lho. Beberapa link yang entah aku sadar atau tidak telah bagikan, menjadi tidak aktif lagi yah? Hihi. Alamat yang sebelumnya www.matsukenfin.blogspot.com berubah menjadi www.masihnyata.blogspot.com lalu kini menjadi www.masihnyata.com. Yang mengubah pikiranku untuk mengubahnya? Hum.. apa yaa.. entah deh. Seharusnya, memang sedari dulu kan yaa? Biar sesuai dengan nama blognya gitu. Tapi karena kesesuaian hati dan tindakan baru bisa sejalan kemarin, TADAA jadinya kemarin deh.

Apasih ah.

Ini tempat yang sama. Penulis yang sama. Actually,  I just wanna felt a piece of different things nowdays. Because someone says, “ga ada yang bisa merubah dirimu, selain dirimu sendiri. Lalukan hal yang berbeda, maka kau akan mengerti apa itu permulaan yang menyenangkan..”. and the someone is the otherside of me. Wkwk. sok Inggris banget, belepotan juga padahal.

Aku memikirkan sebuah pernyataan yang akhir-akhir ini sering orang-orang terdekatku keluhkan. Maaf, aku baru sadar. Ah, seperti tidak tahu aku saja. Bukan minta dimaklumin terus lho ini maksudnya, hanya saja susah mengubah diriku yang seperti ini. Yaa, aku masih seperti ini: tidak sadarkan diri. Hahahaha. Alay sumpeee. Tapi beneran. Aku suka tidak sadarkan diri bahwa tengah capai, sibuk, membenci, mencintai, ke luar lingkaran, dan hal-hal yang kiranya dapat menyita banyak pemikiran dan tindakanku. Tetiba aku tersadar setelah jauh berjalan aja, kalau aku ternyata tengah capai, sibuk, membenci, mencintai, ke luar lingkaran, yaa seperti itu.

Untung saja aku diingatkan.

Tadi, seorang sahabat bertanya padaku, “kok kita jarang ketemu sekarang? Kamu ke mana aja?”

Aku yang tengah di depan monitor awalnya tak terlalu mengacuhkan, kemudian dia berujar lagi, “jangan bilang kalau kamu sedang tidak sadarkan diri sekarang..”

-_-
Syalalalalalala~

Beberapa orang memang sering menikamku—setelah tahu kebiasaanku itu—seperti itu.

Secara otomatis, terflashbacklah semuanya. Niku yang pernah bilang bahwa kita sudah jarang ngobrol, Niar yang WAnya selalu telat kubalas dan dengan segala ketidakpekaanku padanya—yang tetiba meminta maaf, itu pasti karena terjadi sesuatu yang aku masih belum sadar sekarang, ckck. Kemudian beberapa orang yang BBMnya hanya aku read hingga bilang ‘jangan Cuma diread!’, atau telepon Mama, Bapak, Bibi yang durasinya hanya menjadi beberapa detik saja setiap aku angkat, “ntar dulu yaa, Fin lagi rapat/Fin lagi makrab/Fin lagi mubes/Fin lagi di luar/Fin lagi bla bla.”. ketika Omen bilang mau ke kos tapi aku selalu tak di tempat. Eh, tetiba aku jadi MC aja gitu di acara pelantikan, terus jadi sering begadang nyusun konsep acara. Terus juga sering bolak-balik rumah Pak RT. Sejak kapan coba? Baru sadar. Atau tetiba anak-anak kos yang super gengsian itu bilang, “kok kamu jarang di kos?” atau seperti yang Rizca bilang di BBM, “kamu ditanyain si Blabla” atau Mba Eka bilang, “boleh keh kita kangen?”. Dan tetiba aku ga tau Mbak Eka uda potong rambut aja, atau Mbasin uda selesai pedadaran aja.  Atau yang parahnya aku sampai lupa mengangkat jemuran selama 3 hari.

Astagfirullaah.

Banyak lagi hal-hal kecil yang baru aku sadari. Duh, susah  banget mengubah diriku yang seperti ini.

Padahal aku merasa sudah menyeimbangkan semuanya. Aku merasa baru kemarin bertemu dengan sahabatku itu, baru kemarin juga ngobrol dengan Niku, baru kemarin bergegas nyamperin Niar di Merbabu Hotel ketika berkunjunga ke jogja, baru kemarin semua-semuanya deh. Nyatanya? Itu uda lewat berapa lama, Fin? Haha.

Aku tidak sadar bahwa aku tengah sibuk. Maaf.

Maaf.

Maaf.

Maaf.

Bukannya disengaja. Tapi karena memang tidak ada pilihan lain. Awal semester aku sudah berkomitmen untuk mengabdi pada beberapa hal yang membuatku tidak sadarkan diri itu. Aku juga sudah mengubah mindset bahwa itu bukan kesibukan, sebenarnya. Aku menyebutnya rutinitas. Jadi, aku sebenarnya hanya sedang berutinitas. Itu saja.

Ah, aku jadi ingat sebuah pertanyaaan dari perwakilan sebuah BSO ketika malam mubes di akhir kepengurusan—means awal kepengurusan angkatanku, ditanyakan oleh Pamungkas kepada calon ketua ketika tengah kami “kuliti”, he asked, “kami telah banyak mendengar dan melihat kemampuan kalian, kerja keras kalian, dan sedari tadi kita hanya membahas mekanisme yang berprosedur. Kami ingin mengenal lebih jauh calon pemimpin kami, jadi sekarang ceritakan secara singkat tentang diri kalian, beserta kekurangan dan kelebihan kalian..”

Aku tersenyum. Dia duduk tepat di samping kiriku, rasanya seperti kata-kata itu masuk melewati telinga kiri ini, nusuk.

Oh iya, Mubes itu Musyawarah Besar. Berlangsung 2 hari 2 malam 20-21 Desember yang lalu. Dari pagi hingga subuh. Yah, remuk dengan sukses ini body.

Aku ingin mencoba untuk menjawab pertanyaan Pamungkas itu, di sini, di hadapan diriku sendiri. Setelah kupikir, aku memang harus memahami diriku sendiri untuk selanjutnya orang lain. Yah, terlebih pada ketidaksadaranku itu. Huh.

Mulai?

Okray.

Aku Zulfin Hariani. Ada yang memanggilku Ken, Fifin, Zulfin, Hariani, dan banyak lagi. Aku lahir di Selong, Lombok Timur, NTB pada 12 Agustus 1993. Aku anak sulung dari 3 bersaudara. Adikku yang pertama tengah menempuh semester satunya di ISI Yogyakarta (Institut Seni Indonesia) di jurusan Seni Teater, namanya Zulfan Rohman atau sering disapa Omen—aku memanggilnya Apuu. Adikku yang kedua kelas 3 di SMAN 1 Selong. Ia berencana untuk kuliah di luar Lombok juga, kemungkinan besar di Jogja, namanya Zulfiana Harintini—aku memanggilnya Nenek Awi. Mamaku adalah seorang ibu rumah tangga yang membuka Salon di rumah, Bapakku bekerja sebagai Redaktur sebuah surat kabar nasional di Mataram, that’s means Mama dan Bapakku LDR *njiie. Mereka bertemu hanya beberapa kali seminggu. Pun itu artinya, sebentar lagi Mamaku akan lebih sendirian lagi di rumah karena adikku akan kuliah lagi. Aku memiliki Embah dan Bibi yang sangat aku sayangi, masa kecilku adalah memori berharga dari mereka. Aku suka musik, buku, dan film. Aku berambisi untuk ke Jepang. Keluarga nomor satu, kemudian persahabatan. Aku suka berorganisasi. Kekuranganku? Aku sulit membagi waktu—hingga sekarang aku coba mempelajari itu. Itu terkadang membuatku mengabaikan hal-hal yang menurutku tidak penting atau merugikanku, galau misalnya. Haha. Aku suka tidak sadar jika terlalu fokus. Aku bahkan bisa tidak mendengar seseorang yang tengah berbicara padaku ketika sedang fokus. Aku sering terkesan cuek, tidak peduli, dan tidak bertanggung jawab. Itu tak salah sepenuhnya, aku mudah mengabaikan hal-hal yang sudah kuputuskan untuk tak kuperjuangkan. Aku tak peduli dengan hal-hal yang telah berkali aku usahakan namun tak dapat membuatku merasa ada. Tapi menurutku, aku bertanggung jawab. Setidaknya, berusaha untuk bertanggung jawab. Jika itu tidak sampai akhir, kemungkinannya aku tengah tidak sadarkan diri lagi. Haha. Aku juga pelupa, sangat pelupa. Aku hanya mengingat hal-hal yang menurutku penting saja. Harga barang? Menurutku tidak terlalu penting, jadi jika seseorang menanyakan harga barang-barangku, tak selalu aku bisa menjawab pertanyaannya dengan benar. Kelebihanku? Aku tidak mudah menyerah dan cepat belajar sesuatu. Aku mudah dapat bertahan bahkan di zona tak nyamanku. Dan aku cukup percaya diri.


Rasanya cukup lega hanya dengan menuliskan hal-hal ini. Setelah kupikir-pikir lagi, seharusnya aku bisa lebih memanaj waktuku ya? Buktinya banyak kok orang yang kegiatannya lebih seabrek tapi tetap bisa nyingkronin hidupnya. Ckck.

Belajar lagi lah, Fin~


Hai arsip hidupku. Selamat beristirahat.




wassalaam





Yogyakarta



Zulfin Hariani


250120151956

Komentar