I love My Holiday (Judul yang Mainstream)

Assalaamualaikum warrahmatullahi wabarakaatuh

Aku ingin mendokumentasikan sebuah jejak perjalanan. Bukan yang pertama sih sebenarnya, tapi kali yang ini benar-benar ngetuk hatiku buat sesegera mungkin untuk didokumentasikan. Kenapa? Yaa karena berasa banyak hal baru yang aku peroleh dalam melewati tiap prosesnya, pun karena aku lagi banyak waktu buat nulis-nulis gini. 

Jadi, aku bersama Titin, Adam, Tyo, dan Fathan mengikuti sebuah perlombaan yang diadakan oleh Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta yang kalo disingkat jadi UNS, aneh ya singkatannya? Pendek banget. Hehe. Itu secamam Creative Communication Festival gitu deh. Cuman ini ngebahas tentang Integrated Marketing Communication atau akrabnya disingkat IMC, itu ilmu tentang bagaimana cara “menjual” suatu produk (barang ataupun jasa), bisa dengan cara membranding dengan beberapa tools promotion mix hingga yang unconventional media. Bingung? Yaudah, niatan awal aku ngga ngebahas IMC kok, tadi aku uda bilang mau mendokumentasikan sebuah jejak perjalanan kan? Nah, anggap itu tadi intro dan yuk mari ke topik yang sebenarnya.

Hum.. tapi kalau dipikir-pikir, penting juga lho, nambah intro dikit lagi lah yak~

Intinya, pada perlombaan itu, kita diminta untuk membranding kota Solo, yes, this is about city branding. Kota Solo adalah produk kami. Eh, ada yang masih bingung tentang penggunaan Solo dan Surakarta ngga nih? Awalnya aku juga bingung sih, bedanya apa gitu kan ya? Karena sudah cukup banyak melahap info tentang Solo/Surakarta nih ceritanya, aku udah cukup ngerti dan tahulah jawaban tentang hal-hal semacam itu (malah mungkin jadi lebih tahu tentang Solo ketimbang Jogja). Jadi, ternyata itu tergantung pada penggunaannya. Sepenangkapanku sih, untuk hal-hal yang bersifat formal seperti pembuatan artikel, laporan, skripsi, berkas-berkas gitu deh, pakainya kata Surakarta. Untuk penulisan alamat juga nulisnya pakai Surakarta. Gitu. Kalau untuk Solo yaa untuk happy-happy-an, buat sesuatu yang ngga formal maksudnya. Gitu.

Untuk lebih jelasnya mengenai kompetisi ini, bisa lihat di sini.

Ehem. Minum sek yo.

Jadi, awalnya begini..

Kami berniat untuk ngga mudik di liburan yang nyaris sebulan ini. Untuk (semakin) mengisi liburan, kami ikutan Creation Festival ini. Untuk dana pendaftaran yang lumayan, kami mensiasati dengan meminta bantuan jurusan. Iyups, dengan keajaiban teknologi bernama proposal, kami terdaftar dengan dana dari kampus. Ini tips untuk teman-teman yang ingin mengikuti perlombaan di luar sana namun budget ngga mendukung, pengajuan proposal bantuan dana ke jurusan bisa banget buat dicoba. Tinggal pintar-pintarnya kamu aja untuk nego sama pihak jurusan, kebetulan di semester sebelumnya kami punya mata kuliah yang namanya IMC juga sih. Aih, sesuai banget kan sama apa yang dikompetisikan oleh teman-teman dari Himakom UNS ini. Nah, bisa jadi peluang tuh untuk nego-nego ke jurusannya. Bilang aja ‘pengaplikasian/tindak lanjut’ dari matkul yang pernah diajarin di semester lalu, itu kan buat pembelajaran kita juga. Jangan lupa bilang dengan memenangkan kompetisi ini tentunya bisa membranding jurusan kita juga, pokoknya bilang kayak gitu deh ke pihak jurusan. Biar mereka ngerasa dapat timbal balik dari kita gitu. Bonusnya, kita juga dapat pembimbing lho buat nyelesaiin ini proposal. Keren abis.

FYI, di anggota tim kami ngga ada yang asli orang jawa. Aku dan Titin dari Lombok, Adam dari Balikpapan, Tyo dari Padang, dan Fathan dari… mana yaa? Kok lufa. Pokoknya bukan dari Jogja pun Solo. Wkwk. Ntar aku tanyain deh. So, kami benar-benar ngga tau Solo itu kayak gimana—untuk selanjutnya aku akan bilang Solo aja yah bukan Surakarta, alasannya sama seperti yang di atas. So that, kami butuh informasi lebih tentang Solo. Sebanyak-banyaknya. Langkah awal tentunya kami cari info mengenai Solo di internet. Kemudian bertanya pada beberapa kenalan yang kuliah di sana, hingga akhirnya kami putuskan untuk berangkat ke Solo demi data yang lebih valid.

Sebelum berangkat ke Solo, kami berdiskusi dahulu dengan Mas Krisna. Jadi, Mas Krisna ini adalah dosen yang mengampu matkul IMC kami dahulu. Beliau orangnya asyik, suka nongki-nongki. Alhasil, tiap diskusi, kita bakal lebih berkesan tengah nongki-nongki aja gitu ketimbang lagi ngediskusiin strategy city branding, yaa mungkin karena tempatnya juga di kafe-kafe. Legend Café menjadi tempat yang paling sering kami kunjungi, kemudian terakhir kemarin di Indiecology Café, rencananya besok mau di Secret Garden, duh pokoknya, cari tempat yang nyaman, full AC, dan wifii kenceng. Gitu deh. Walau menu-menunya bikin mata menyipit kalau dibaca, haha, iya, sesipit kocek. But so far, Mas Krisna terus yang ntraktirin. Ga enak kadang gegara harganya ga murah, jadi untuk selanjutnya kami berniat untuk datang lebih dulu dan membayar makanan langsung. Hehe.

Kebanyakan diskusi kita dimulai menjelang malam hingga malam banget. Jarak tempat nongki dan kosan juga lumayan jauh sebenernya, yaa gapapalah tapinya, itung-itung jalan-jalan. Dan suka keasyikan gitu kalau udah mulai diskusi, idenya jadi banyak dan kitanya rame. Walau ujung-ujungnya malah suka bingung untuk memulai penyusunan proposal dan desainnya dari mana. Untung ada Mas Krisna yang membantu mengarahkan. Sering juga brainstorming malah bikin puyeng dan stuck gitu. Gegara kitanya masih meraba-raba Solo itu sebenarnya seperti apa sih? Bidang apa yang enaknya buat dibranding dan bagaimana caranya? Data di internet kami rasa tidak cukup, setelah mendiskusikan data apa-apa saja yang kami harus dapatkan jika ke Solo, maka kami agendakan pada times schedule untuk berangkat menggunakan kereta pada Rabu, 4 Februari 2015 ke Solo.

bisa-bisanya aku typo bulan dan baru sadar sekarang cobak -_-

To do list sudah ada, surat pengantar sudah ditandatangani, kami bawa surat cadangan 2 malahan—ini tips untuk jaga-jaga. Persiapan berangkat udah beres pokoknya. Rencananya, kami mau ke Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta, Balai Kota Surakarta, dan Kantor Statistik Surakarta (tapi yang ini ngga jadi).

Cuman, pas di hari H malah Fathan sedang berhalangan, Adam kacamatanya patah (tepat semalam sebelum hari keberangkatan), dan Tyo belum kami rekrut. Hehe, jadi ceritanya si  Tyo itu masuk tim di tengah jalan ketika akhirnya Fathan mudik dan kita butuh tangan lain untuk mendesain logo, proposal, dan lain-lain sesuai arahan langsung dari Mas Krisna. Sebelumnya juga, beberapa teman kami di Solo yang sebelumnya bilang bisa membantu ke mana aja gitu pas lagi di Solo tetiba ada ujian gitu, emang lagi musim UAS juga sih mereka, jadinya ga bisa ketemu deh. Mau bolos juga ga bisa katanya. Aih, kita beneran hanya bermodal gugel map, nanya-nanya tentang kendaraan umum yang bisa dipakai pun mereka kurang tahu gegara punya kendaraan pribadi dan mengaku ga pernah pakai angkutan umum. Alasan yang cukup masuk akal. Karena kami juga begitu, di Jogja pun ga pernah pakai angkutan umum lokal. Gurbak.

Nah, gimana coba? Sisa aku berdua sama Titin nih.

Berangkat kah kita?

Yes, we did.

Bermodalkan nekat dan doa, walau sempat ngerasa bad feeling gitu, kami tetap berangkat demi mematuhi times schedule. Bertiga. Iya, aku, Titin, dan Wawan. Wawan itu temanku sejak SD dan kebetulan kekasih Titin, biar ada cowoknya gitu pas kitanya ‘keluyuran’ ke kota sebelah. Bisa fotoin kita berdua juga maksudnya, dan bikin rame juga. Haha. So, special thank’s for Wawan.

Ehem, ada bocoran aib nih. Pas H-1 sebenernya aku dan Titin ke Stasiun Tugu. Jadi, ceritanya si Titin ga pernah naik kereta. Aku pernah sih, bolak-balik Solo di tahun lalu. Jadi kami berencana ingin memesan tiket kereta buat berangkat besok gitu. Ada yang aneh? ADA BANGET! Jadi, di sini kepelupaanku sedang mode on banget. Ckckck. Sewaktu kita nyamperin loket tiket, dengan manisnya mbak-mbak di dalam box bilang, “maaf, untuk pemesanan tiket minimal 3 jam sebelum keberangkatan kereta.”

TEET TOOOT!

Bruakakakakakak~

Kenapa aku tertawa? Karena aku sadar betapa pelupanya aku ini. Duh. Jadi, ketika aku mau ke Solo pake kereta dulu pas berdua aja sama Rizca, kami ketinggalan kereta. Iyups, selain ketinggalan pesawat, aku juga pernah ketinggalan kereta. Kami datang telat karena macet. Iyups, musabab ketinggalan kereta pun sama seperti ketinggalan pesawat dulu. MACET!. Dan pada hari itu, kereta selanjutnya berangkat sekitar 3 jam lebih yang menyebabkan kami harus menunggu dahulu karena belum bisa membeli tiket. Nah, jadi, sebenarnya, aku sudah tahu kalau pemesanan tiket kereta api paling cepat yaa 3 jam sebelum waktu keberangkatannya! Tapi hari dimana aku datang ke stasiun bareng Titin, aku LUPA dan malah datang membeli tiket H-1 keberangkatan. EXCELLENCE! VERY GOOD JOB, FIN!

Syalalalalalala~

Okray, aku memang keren. Banget. Jadi, maafkan.

Lihat hikmahnya, Titin jadi tahu di mana letak jadwal keberangkatan kereta-kereta keluar Jogja (karena kita mampir ke bangunan sebelah), pun aku in shaa Allah ngga akan lupa lagi tentang hal ini. I am swear.

Singkatnya, pagi hari kami sudah tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta. Motor kami titipkan di parkiran. Yes, parkir di sana tarifnya per-jam. Satu jam pertama bayar Rp 2.000, satu jam selanjutnya nambah Rp 1.000 aja, that’s why kami ga mau nginap di Solo. Kebayang ga kami bakal bayar parkir berapa? Ga lucu banget kalo harga bayar parkir justeru lebih mahal daripada harga tiket kereta.  Kami pakai KA Prameks 264 jam 07:23 WIB. Itu harganya Rp 6.000 saja. Ada yang puluhan sampai ratusan ribu sebenarnya. Tapi, atas nama hemat dan anak kos, you know me so well lah. Perjalanan ke Solo hanya membutuhkan waktu kurang lebih  1 jam di dalam kereta. Sempat menyerngitkan alis gegara di tiket kami tertera ‘tanpa tempat duduk’ di nomor TDnya. Yakalik kita berdiri? Setelah ditelisik, yaa itu gegara harga yang paling murah jadi duduknya boleh di mana aja, bebas. Yang telat masuk yaa ngga kebagian tempat duduk. Gitu. Jadi, kita harus cepat! Tapi kalo ngga di weekend selow aja sebenarnya, ngga sampe penuh kok gerbongnya. Jadi, kami beruntung berangkat di hari Rabu.

Kereta apinya bagus, kursinya empuk, full AC (sampe dingin banget malah, aku saranin bawa jaket deh kalo yang mau bepergian pake kereta kayak gini), yaa cuman musti berhenti terus di tiap stasiun. Harus cermat merhatiin keterangan lagi di stasiun mana, jangan sampe kelewatan. Info di internet mengatakan kami harus ke Jalan Slamet Riyadi. Di sanalah letak Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta—selanjutnya kita sebut dinas budpar ya. Cuman kita bingung, mau turun di stasiun Purwosari atau Solobalapan. Orang-orang yang kami tanyai sebelumnya bilang di Solobalapan aja, soalnya itu stasiun di kotanya. Tapi orang-orang di kereta bilang mending di stasiun Purwosari aja. Karena keluar stasiun belok kiri dikit sudah langsung Jalan Slamet Riyadi. Finally, kami putuskan turun di stasiun Purwosari aja. Cuaca sangat cerah, agak mencurigakan bahwa akan turun hujan. Iya, biasanya kalo udah panas banget gitu ntar tiba-tiba suka turun hujan.

Setiba di stasiun Purwosari, sesuai petunjuk dari mas-mas yang duduk di dekat Wawan pun info dari Nitha—teman kami yang kuliah di Solo, kami langsung belok kiri ketika keluar stasiun. Iya, kami jalan kaki. Ini baru namanya jalan-jalan yang sebenar-benarnya. Ketemu stasiun Batik Solo Trans (BST), tapi kami memilih untuk tetap jalan. Ketemu sama Pak Satpam, kemudian bertanya, “Permisi, Pak. Jalan Slamet Riyadi di mana ya? Kami mau ke kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata..”. bapaknya bilang dikit lagi sampai, jalan terus aja lewatin 2 lampu merah ntar kantornya di sebelah kanan jalan. “Kira-kira dari sini berapa menit ya, pak?”. Bapaknya bilang lagi sekitar 15 menitan. Aih, lumayan dekat! Niat kami semakin kukuh untuk berjalan kaki saja. Yes, masih pagi pula, itung-itung olahraga. “Kalau Balai Kota dimana ya, pak? Jauh ngga dari sana?”, bapaknya bilang dekat, dari dinas budpar sekitar 5 menitan sudah sampai. Wow. HIDUP JALAN KAKI!

Itu kata Pak Satpamnya lho yaa..

Yang terjadi?

10 menit berjalan..

Nanya ke bapak-bapak di pinggir jalan, dia bilang, “masih lumayan dari sini, Mbak. Sekitar 10 menit lagi.”

Oh well, si Pak Satpam keliru 5 menit dari perkiraan nampaknya. Maka kami terus berjalan. Iya, masih pake kaki. Aroma makanan di pinggir jalan begitu menggoda, tapi kami pantang makan sebelum urusan kelar. Yes, bekal roti yang kami makan di kereta tadi masih nyangkut di lambung kok.

10 menit kemudian..

Kami belum menemukan bangunan yang bertuliskan Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta. Sudah 2 lampu merah juga yang kelewatan. Nanya lagi deh. Dan dijawab, “masih lumayan, mbak, mbak lurus aja lagi ntar ketemu lampu merah masih lurus lagi, kantornya di sebelah kanan. Sekitar 10 menitan”

Asem.

Yah, selain salah memprediksi waktu 15 menit yang lumayan pegel untuk jalan, Pak Satpam tadi juga salah ngitung jumlah lampu stopan. Makasih lho.

Setelah melewati beberapa hotel, mall, taman, stadion, pos polisi, kafe-kafe, dan sampai di depan museum gitu. Dengan sisa tenaga yang ada, kami menyusuri museum yang ternyata kantor dinas budpar ada di belakangnya. Tertulis Tourism Office. Akhirnya! Buka tas, pakai almamater. Eh, Titin aja sih sebenarnya yang pakai, aku malas gegara kepanasan.

Masuk pintu utama dan ke meja penerimaan tamu, kami menjelaskan maksud kedatangan kami. Kemudian kami berikan suratnya.

Apa yang terjadi?

Masnya bilang, “gini mbak, prosedurnya untuk memperoleh data dari sini adalah harus ada surat pengantar dari Bapeda dan (duh, lupa lagi nama kantornya apa. pokoknya letaknya satu kompleks, pas di sebelah kanan bapeda) di Balai Kota, masih keburu kok jam segini mbak, ntar kalau sudah ada stempelnya, ke sini lagi aja.”

Kami bertiga saling melemparkan pandangan. What a day!

Tak ada pilihan lain, maka kami pun putuskan cepat-cepat ke Balai Kota Surakarta. Ya, masih jalan kaki. Kata pak satpam di awal tadi kan cuman 5 menitan tuh dari dinas budpar. Dekat dong berarti.

Tapi..

5 menit berjalan..

Kami nanya ke satpam bank, dia bilangg, “10 menit lagi mbak, jalan aja terus, ntar di perempatan lampu merah belok kiri, ada di sebelah kiri jalan.”

Seperti biasa, pak satpam di awal salah memprediksi waktu. Ckckckck!

Maka kami terus berjalan.

Sebelum melewati perempatan, kami bertanya pada segerombolan petugas berseragam hijau. Mereka bilang,”masih jauh banget mbak, kalau jalan kaki kejauhan. Mending pakai BST aja. Ntar bilangnya turun di Balai Kota.”

OH MY GOD!

Asem tenan.

Masih jauh banget katanya?? Okebaiklah, tapi kami emang butuh jawaban sejujur ini beserta solusinya sih. Maka kami ikuti saran mereka, kami ke terminal BST terdekat. BST itu angkutan umum sejenis Trans Jogja dan Trans Jakarta. Jadi, kami lebih dulu nyicipin BST ketimbang TransJog. Nunggu selama 10 menitan akhirnya bisnya datang juga. Bayar Rp 4.500 untuk tarif entah mau jauh atau dekat. Tahu gitu dari keluar stasiun Purwosari pas belok kiri aja kita naiknya tadi. Hiks. FYI, Enak lho naik BST, kursinya empuk, dingin, bersih. Enak pokoknya, ketimbang jalan maksudnya. Hufet deh.

Sekitar 5-10 menitan di BST, kami sampai. Thank’s God, we love BST! MUAH!

Itu Balai Kota Luas bener. Kalau dibilang kampus, itu uda kayak UMY deh. Kampus terpadu yang tiap kantor penunjangnya ada di kawasan itu. Jadi, ada banyak kantor di sana. Sebut saja satu kompleks. Gitu. Hehe.

Kami bertiga sempat melototin denah kantornya, tapi ujung-ujungnya malah bingung. Iyah, mumet. Untung aja ada teknologi yang disebut bertanya. Semuanya menjadi lebih mudah. Emang kebukti deh pepatah yang bilang ‘malu bertanya sesat di jalan’ pas hari itu. Hehe.

Kami harus ke lantai 4 di Bapeda, pakai lift. Harus stay cool, pura-puranya uda sering keluar masuk kontor ini, gitu. Biar ga keliatan begonya. Itu pesan Pak Binul sih. Dan kami berpapasan dengan mahasiswa-mahasiswa yang membawa skripsinya, aih, butuh tembusan dari sini juga yaa ternyata kalo buat skripsi. Sampai di ruang tujuan, kami dilayani anak-anak magang, terlihat dari bajunya yang hitam putih. Setelah menjelaskan maksud kami adalah untuk penelitian dan menyerahkan surat pengantarnya, mereka bilang, “proposalnya mana, mbak? Jadi, prosedurnya seperti ini..” dia menyodorkan selembar kertas. Di sana tertera jika untuk penelitian harus ada lampiran berupa proposal penelitian juga beberapa surat dari pemkot daerah asal bagi yang di luar kota.

Asem.

Proses nego pun berlangsung. Yes, kami pernah belajar Teknik Negosiasi dan Lobbying sebanyak 3 SKS di semester sebelumnya. Kami yakinkan bahwa kami butuh datanya hari ini dan kami juga dari jauh, luar kota, gitu. Pun akhirnya mereka ngebawa surat kami kesana-kemari.

Hasilnya?

“Bisa lihat KTMnya? Tolong diphotocopy sebagai arsip kami yaa. Setelah kami diskusikan, ini untuk survey kan, mbak? Jadi tidak perlu proposal.”

Kami lega, Wawan dengan sukarela membawa KTMku ke lantai dasar untuk memfotokopinya. Tuh kan, untung Wawan ikut. Haha. Katanya pun sempat kepusek (tersesat.red) mencari tempat fotokopinya, sampai mendahulukan diri dalam antrian segala pun. Kami sempat ngobrol-ngobrol sama mbak magangnya yang mengaku suka magang di sana tersebab seminggu liburnya sampai dua hari. Gurbak. Kami pun sebenarnya magang tahun ini, namun belum ada rencana mau di kantor pemerintahan. Kemudian kami dikenalkan dengan salah seorang pegawai di sana yang juga untungnya baru saja seminggu yang lalu berhenti bekerja di dinas budpar. Lumayan, ladang informasi. Beliau tahu banyak, sampai jadi kepanitiaan event-event yang diadakan dinas budpar pula.

Etdah, udah 6 halaman aje nih tulisan. eh, ntar lanjut lagi yaa. Mau makan duyu. Lavvaarr. Sek.

Kenyang, nasi goreng emang enak. Lanjut.

Urusan tandatangan dan cap di Balai Kota Solo selesai. Bagus ih kantornya. Rapi. Lanjut ke terminal BST dekat situ. Ga jauh dari Bank Indonesia yang arsitekturnya emang keren abis, kaca-kaca gitu.

Kami katakan mau ke dinas budpar, ternyata BST dari situ ngga lewat sana. Beda jalur soalnya. Alhasil, kami harus jalan lumayan jauh. kalau tidak salah, kami diturunkan di Jalan Radiman, so, kami jalan terus hingga melewati perempatan di Jalan Kebangkitan Nasional. Iya, masih pakai kaki. Sempat ada adegan palang di trotoar jatuh gegara aku senggol. PRANG! GLUDUK! GLUDUK! Suaranya cukup bingar dan menarik perhatian banyak orang. Gurbak. Itu palang dari besi dan cukup guede. Kami angkat bertiga. Kemudian ngakak kayak anak TK sepanjang jalan. Ketemu Studion Sriwedari, belok kanan. Jalan terus sampe ketemu museum tadi dan menyerahkani surat yang diminta. Hufet. Akhirnya.

Kami kemudian bertemu dengan Papak Hendi, beliau bilang untuk memberikan informasi yang kami butuhkan belum bisa hari ini. Karena kebetulan orang-orang yang berkaitan di bidang tersebut sedang tidak di tempat. Lalu kami diminta untuk menuliskan list data yang dibutuhkan untuk kemudian dikirimkan saja via email. Kami hanya bisa mengumpulkan data dengan wawancara langsung pun dari kalender event-event serta brosur yang lumayan menuh-menuhin meja di sana. Setelah bertukar kontak, kami putuskan untuk bergegas makan. Iya, ini tragedi sarapan dan makan siang yang digabung.

Singkatnya gini: hanya untuk memasukkan surat itu demi mendapatkan kiriman email, betis kami jadi taruhannya.

PUEGAL.

Langsung aja kita bertiga makan, sholat, nge-es buah, ngebakso tusuk, dan kaki kami masih saja berjalan, sekali lagi, ini yang asli namanya JALAN-JALAN. Setelah nge-mall (cuman beli kue doang padahal), langkah kami dihentikan oleh hujan. Kita ga mau ketinggalan kereta. Itu udah nyaris jam 4 sore, rencana awal kita musti udah di Stasiun Purwosari sebelum jam tersebut.

Opsinya ada 3, pertama kita nyewa ojek hujan yang berhamburan di luar sana, cuman yakalik jalan sampe Stasiun Purwosari pake gituan? Habis berapa duit? Opsi kedua  pakai becak, tapi yakalik kita bersusun tiga gitu di becak? Mesti kebasahan ntar. Opsi terakhir adalah pakai taxi, ntar kita bagi 3 gitu pas bayarnya, kan jadi lebih murah, dijamin ga basah juga. Cuman yaa itu tadi baru naik udah Rp 15.000 aja ntar. Tarif baru.

Ujung-ujungnya, kita ga pakai ketiga opsi tadi. Kita milih nunggu hujan reda. Titin dan Wawan mulai adu argumen,

Titin      : kalau gini hujannya, bakal lama nih.
Wawan  : belum tentu, cepet kok ini.

Ga lama dari argumen itu hujan pun agak reda, kami langsung berangkat. Iya, masih jalan kaki. Titin dan Wawan saling menguatkan argumen lagi, “apa aku bilang tadi! Haha”. Gerimis mah terobos aja. Eh, di tengah jalan hujan lagi-terus reda lagi-terus hujan lagi-gitu terus sampe meteor cokelat menabrak terminal BST dan jadilah Koko Cruch. Masih, Titin dan Wawan adu argumen tentang.. “tuh kan hujannya awet..” hingga barulah kami sadar fungsi lain dari payung-payung gede punya pedagang kaki lima, pos polisi, dan tentunya jaket almamater. Terimakasih sudah membantu menghalau hujan.

Takut ketinggalan dan ga mau berdiri juga di kereta —karena kami berencama memakai Prameks lagi, kami putuskan naik BST aja, setidaknya lebih murah dari becak dan taxi. Sampe Stasiun Purwosari ternyata kereta Prameksnya berangkat pukul 19:02 WIB. Masih lama banget. Gurbak. Kami putuskan untuk menunggu di Mushola sembari baringan. Letih coy. Sempat ngakak-ngakak juga gegara keinget kata ‘cilok’ Pak Hendi yang maksudnya ‘cinlok’, gurbak. Obrolan ngalur-ngidul sampai nge-flashback masa SD-SMP-SMA gitu. Cerita tentang teman-teman kita yang udah pada nikah juga.. Duh deh. Dan satu kalimat Wawan yang aku inget tentang anak Fospast adalah, “Pokoknya kelas IPA 1 yang paling komplit anak-anaknya kalau tiap ngumpul.”, terus Titin juga bilang, “Lasingan sering mereka ngadain acara-acara gitu, kayak lombalah..”. Aku seneng aja sih ngedengernya. Ternyata gitu yaa cara orang lain (maksudnya teman yang bukan Fospasterz) memandang Fospast. Bangga rasanya. Ehem, untuk Titin, sebenernya kita cuman sering saling berhubungan kok, kalau lomba-lomba gitu kayaknya baru sekali doang yang #BBF. Hehe. Ada rencana lagi sih ini, buat lomba Meme gitu, tapi bahan fotonya musti dari kegiatan-kegiatan anak Fospast. Siapa aja boleh ikut, tapi lagi ngga ada modal buat hadiahnya nih. Hiks. Eh, ada project yang lagi jalan juga sih ini, jadi contributor website yang diambasadorin sama Olide, tunggu deh info selanjutnya. Halah.

Intinya, kami selamat sampe Stasiun Tugu. Alhamdulillah banget. Cuman ada satu hal lagi, pas turun dari kereta terakhir itu, kita bingung musti keluar dari pintu yang mana. Uda pada tutup soalnya. Padahal sebelumnya aku uda bilang sama Titin, “Tau keh, Tin? Dulu pas aku sama Rizca balik dari Solo, kami bingung mau keluar dari pintu yang mana. Secara, Stasiun Tugu kan modelnya memanjang gitu. Pokoknya kalo belok kiri tembus Pasar Kembang, kita musti belok kanan ntar.”

Yang terjadi?

Syalalalalalalala~

Ampun, setelah ini aku ngga bakal pelupaan kayak gitu lagi deh.

Iya, kami bingung dan tak tahu arah jalan keluar. Belok kanan malah buntu. Ga bisa keluar, itu tembusnya pintu masuk malah. Belok kiri juga gitu. Udah bolak-balik berkali-kali. Ckckckck. Nanya-nanya malah tetap buntu. Karena uda kereta terakhir dan beberapa pintu uda ditutup juga soalnya. Intinya, kita musti ketemu sama terowongan yang sama ketika datang tadi. Akhirnya kita lewat pintu masuk juga deh dengan memperlihatkan bukti tiket yang tadi. Kemudian pulang ke kos masing-masing. Setelah membayar parkir sekitar berapaan hayoo, tebak! Kan rumusnya udah aku kasi di atas :p

Gile. Dan tahu kah? Sampai hari ini email belum juga kami terima. Uda aku hubungi beberapa kali dan terakhir ngesemes juga padahal, tapi akhirnya tadi Pak Hendi bilang kalau kita musti ke sana lagi, soalnya data yang kami minta banyak banget. Hum.. masuk akal kah? Dan ada berita duka, tepat tanggal 14 Februari 2015 lalu, Ibundanya Adam berpulang ke rahmatullah. Yaa Allah, Adam kudu tabah dan strong yah! Adam bersama jenazah ibundanya pun langsung terbang ke Balikpapan hari itu.

Hum..

Yang jelas, besok dan lusa belum bisa ke Solo nih. Rencananya besok mau simulasi tracking buat Training Organization mendatang. Yaa, ke Kulon Progo lagi, harus tetap fit nih body. Selasanya si Omen balik ke Jogja, yaa biasalah kewajiban seorang kakak yang baik musti ngejemput, dan bantu beres-beres adiknya gitu.

Nah, ga kerasa malah jadi segini panjang ceritanya. Haha. Apalagi kalau aku ikutin niatan awal, buat nulis ini cerita usai pengumuman lombanya yaa? Ckck. Ah, habisnya diundur tanggal pengumpulan proposalnya sih. Semula di Brief bilangnya tanggal 15 Februari, eh di poster tanggal 22 Februari dengan waktu penggumuman 1 Maretnya. Eh, tadi diesemes batas pengumpulannya jadi 8 Maret dan pengumuman finalisnya pas 15 Maret. Kagak tahanlah ini tangan mau nulis sampe tanggal segitu.

poster terbaru Creation Festival

Well, doain biar lancar-lancar aja yaa selama persiapan dan moga lulus jadi finalis. Hehe. Oh iya, nama tim kami Antariksa, kurang lebih maknanya adalah sesuatu yang terbentuk dari titik-titik cahaya dan selalu ada walau hanya tampak pada momen tertentu. Gitu deh.

Akhir kata, mencoba pengalaman baru dapat membuat kita belajar sesuatu yang berharga. Coba dan jalani dengan suka-cita, seperti katanya Aulion, YOLO! You Only Life Once! Lakukan sebanyak mungkin kegiatan yang membuatmu menjadi lebih baik dan menikmati hidup. Berbahagialah, hidup terlalu singkat untuk sekadar menjadi penonton.


NB:
Oh iya, tanggal 14 kemarin 3 ekor Princess Mawar yang kuceritakan di postingan sebelumnya telah diwisuda, akan aku ceritakan di postingan selanjutnya yah. Dan di hari yang sama, ada pengumuman dari lomba bikin puisi dari Penerbit Ellunar yang aku ikutin, aku lolos sebagai kontributor. Alhamdulillah, lumayan nambah buku antologi dan e-cartificate lagi. Udah, gitu aja, NB kok panjang amat :p



wassalaam



BONUS:

coba perhatikan, jalur Jalan-Jalan kami emang ga deket ternyata dari Peta Solo ini -_-


tiket KA Prameks dan BST masih aku simpan. haha


kami di dalam BST

ketika jenuh nyusun proposal, ada baiknya selfie dulu (Tim Antariksa minus Fathan)

masih selfie-Tim Antariksa


Udah deh, bonus ga usah banyak-banyak :p




Yogyakarta



Zulfin Hariani

160220150150

Komentar