Pemuja Rahasia 3



Hai.

Aku sadar, sangat jauh kemungkinan dapat membawamu sampai pada tulisan ini. Karena sudah terlalu sering juga orang sepertimu mendapatkan pesan terbuka macam ini. Aku pasti sangat dalam tertimbun.

Sebenarnya, aku hanya ingin bilang,

: beberapa minggu kedepan aku akan berkunjung ke kotamu.

Iya, hanya mau bilang itu. Aku bahkan dapat melihat kemungkinan kita tidak ada kesempatan bertemu ketika waktu itu tiba. Pesimis? Bukan, aku hanya tak tahu bagaimana caranya. Menyerah? Bukan, aku mencari tahu sebanyak yang kubisa, memungkinkan beberapa peluang, namun nampaknya memang akan tidak mudah.

Setelah kupikirkan lagi, tak mengapa tak bertemu kamu di hari itu. Aku hanya ingin kamu tahu hari itu aku ada di kotamu. Kita berpijak di tanah yang sama. Eh, tepatnya aku bukan ingin ‘kamu tahu’, tapi ingin ‘memberitahu’. Okray, ini mulai membingungakan.

Aku tidak percaya kebetulan, walau nampaknya hanya itu yang kini dapat mematahkan opiniku bahwa kita bisa bertemu. Kebetulan bertemu.

Hari dimana kudengar kabar bahwa aku akan ke kotamu, hal pertama yang muncul di tempurung ini adalah ingin bertemu kamu. Ini aneh, aku merasa ada yang tak beres. Tapi ini tidak bohong.

Kamu mungkin bertanya-tanya mengapa aku begitu ingin bertemu. Sebenarnya, aku hanya ingin melihatmu dari dekat. Itu saja. Aku ingin merekam dalam ingatan bahasa tubuhmu. Itu saja. Aku ingin mendengar suaramu di sekitar udara yang kuhirup. Itu saja. Aku ingin lebih dekat, bahkan kau tidak perlu melihatku. Itu saja.

Hai, aku mengintip rutinitasmu. Bagaimana? Kamu pasti sangat menikmati, atau mungkin mulai jenuh?

Ah, tebakan macam apa itu? Begitu bertolak belakang makna antar keduanya -_-

Ah, bahasa macam apa ini? Begitu kakunya -_-

Haha, cukup itu saja yang ingin kusampaikan. Lemme do something else that more useful than this then.


See you.






NB:
Rasanya ingin sekali menyelipkan namamu setelah kalimat 'see you'.




Komentar