Bapak

Bapak. Aku tahu kau selalu coba untuk menjadi panutan terbaik di keluarga kita. Kau melindungi kami, kau menuntun, kau memudahkan, kau menjadi sangat berharga.

Bapak. Aku sadar benar bahwa keabadian tidak dimiliki makhluk bernama manusia. Aku sadar benar bahwa ada Dzat yang mengatur hidup kita. Aku sadar, benar-benar sadar.

Bapak. Berulang kali kukatakan pada dunia, bahwa kau sosok yang berbeda dari kepala keluarga kebanyakan. Kau sahabat, kekasih, pedoman, sekaligus segala kebaikan di dunia. Aku mempelajari leadership pertamaku bukanlah dari organisasi kebanyakan yang aku ikuti, sekali lagi bukan. Aku mendapatkannya dari cara kau menuntun kami.

Bapak. Hanya saja, aku benar-benar belum paham mengapa selalu merasa takut setiap menyadari memiliki kau. Pak, aku takut sekali kehilangan. Setelah segala hal yang pernah kita lalui dan kita pelajari bersama, aku khawatir ketika melihat perutmu membuncit pun tegapmu membungkuk. Aku khawatir melihat uban-uban dan kerut di wajahmu semakin bertambah jumlahnya di tiap waktu. Aku hanya belum paham, Pak. Bahwa bangga memilikimu juga memiliki efek begitu menakutkan. Sungguh, aku sangat takut dengan segala kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi padamu di waktu yang kita sama-sama tidak ketahui.

Bapak. Aku si sulung, aku merasa belum cukup kuat untuk menguatkan orang-orang berharga di sekitar kita—yang biasa kau kuatkan. Selama ini, kami begitu nyaman berteduh di bawah payungmu. Kau yang selalu ajarkan untuk tertawa bahkan di keadaan tersulit sekalipun. Kau yang tunjukkan bagaimana caranya saling mengapresiasi bahkan di kesalahan fatal yang menyakitkan. Kau sosok ajaib yang selalu lebih dulu menangis di moment-moment bahagia kami. Iya, kau mengajak tertawa ketika kita meremuk, namun dengan alasan yang belum pernah kumengerti menjadi sosok pertama yang terharubiru ketika kami tersenyum atas pencapaian di atas podium.

Bapak. Tetaplah menjadi bapak kami.



Yogyakarta




Zulfin Hariani
100320151224

Komentar