huruf kecil 2

pada sela waktu di hariku, aku berpikir kembali mengenai mendokumentasikan hidup dalam tulisan seperti yang kulakukan ini, pernah terlintas pertanyaan semacam..

...did I do something useless?

untuk apa?

dulu sih tekad awalnya untuk menjadi tetap hidup. ya, aku ingat dan kini masih sependapat bahwa sebenarnya ada ketakutan dalam diriku ini,  jika-jika suatu hari ketika aku sudah tak ada lagi, aku benar-benar dilupakan. hilang raga bahkan dalam ingatan. itu mengerikan. aku tidak bisa bayangkan.

tulisan menghidupkanku. setidaknya jika seseorang bisa membaca, walau kami tak pernah bertemu, ia tahu aku pernah ada. aku penasaran dengan kehidupan yang dijalani oleh orang-orang di tiap harinya. apa menyenangkan? membosankan? penuh perjuangan? atau apalah itu. aku selalu mencoba menjawab segala pertanyaan dalam diriku. setidaknya ketika aku memikirkan apa yang dilalui orang-orang dalam hidupnya, aku menjawab diriku dengan menuliskan apa-apa yang aku lalui. tidak semuanya menyenangkan untuk dibaca, ah, hidup memang tak melulu menyenangkan. ada hari dimana kau tak menghasilkan apapun, padahal di hari yang lain kau bisa menjadi begitu produktif. ada hari di mana kau berkumpul dengan orang banyak dan melakukan hal-hal menyenangkan, namun ada juga hari yang kau habiskan hanya dengan merenung dengan dirimu sendiri.

ketika kuputuskan untuk mendokumentasikan hidup ini—yaa ini sebuah misi yang besar, aku mulai berpikir untuk melakukan hal-hal yang kiranya menarik untuk dijadikan ulasan dalam tulisan. aku sadar, aku yang menentukan apa yang akan aku lalui. aku yang memilih bagaimana caraku memandang hidup ini.

kadang rasa malas datang dengan hebatnya. padahal banyak sekali hal yang ingin aku tuliskan. rasanya benar-benar payah, tidak bisa melawan rasa malas sendiri. kadang pula rasanya begitu menggebu-gebu untuk menyusun tiap kata. hal terkecil apapun yang terjadi, pasti aku tuliskan. yaa, namun kembali lagi ke permasalahan awal, aku tidak konsisten.

ingin rasanya konsisten yang benar-benar konsisten. menulis setiap hari. walau letih tetap menyempatkan menulis. toh aku sudah terbiasa menulis semenjak sd, ah, mungkin tk. membaca tulisanku di nara-nara pun rasanya sampai ingin aku tulisi ulang.

hari ini, aku letih. hampir selalu begadang dan harus mulai beraktifitas di pagi hari. seandainya tubuhku bisa protes, mungkin aku sudah diskors untuk beraktifitas sekarang. namun aku percaya semua ini akan biasa saja jika aku telah terbiasa. ya, terbiasa untuk tidak berhenti. walau tetap akan ada rasa bersalah lagi di sini, tentang konsisten menulisku yang benar-benar ingin aku stabilkan.

I’ll find a way to recover this. I’ll try.



Yogyakarta



Zulfin Hariani
070320152326

Komentar