Ia Adalah Hati

Ada beberapa hal yang seolah melatihku untuk tidak lagi melakukan sesuatu dengan sepenuh hati. Padahal, bukan aku bangetlah jika tidak melakukan sesuatu dengan 100%. Bagus yaa bagus sekalian, jelek yaa jangan.

Satu hal di dunia ini yang belum pernah ada teori pastinya. Kesepakatan mutlaknya dimiliki masing-masing orang tergantung idealismenya. Aku bahkan bingung harus menjelaskannya bagaimana. Ia begitu majemuk, sulit diterka dan sering tidak singkron dengan otak.

Ia adalah hati.

Menurutku, melakukan segala hal harus mendapat persetujuan hati. Itu mengenai kesiapan, kekonsistenan, dan totalitas. Menulislah dengan hati, maka kosa kata untuk membahasakan maksudmu akan muncul dengan sendirinya. Bekerjalah dengan hati, maka lelah tidak lagi terasa. Beribadahlah dengan hati, maka kekhusyu’an akan lebih terjaga.

Juga, mencintailah dengan hati.

Ada banyak hal yang bisa dicintai. Namun tak semua hal bisa mencintai kembali. Terkadang mencintai artinya menerima tidak untuk dicintai. Sering mencintai juga maknanya hanya memberi.

Seperti yang telah kusampaikan di awal, beberapa hal belakangan ini seolah melatihku untuk tidak lagi melakukannya dengan hati, dengan cinta. Aku terjebak di zona tersebut ‘bertahan’, yang memaksaku menjalani hal-hal yang bukan aku.

Rasanya?

Begitu melelahkan.

Entah yang membuat lelah adalah mindsetku atau aku memang mulai tergoyahkan. Namun, satu hal yang pasti adalah aku mulai terbiasa.

Masih melelahkan?

Kadang-kadang.

Aku curiga aku mulai terbiasa, entah ini berkah atau kutukan. Walau aku mampu memberikan semampuku dalam keadaan terjebak, rasanya tetap saja senyap.



NB:
Percaya atau tidak, fragment ini aku record terlebih dahulu kemudian diketik seperti ini. So, ini sebenarnya bukan note, tapi salinan dari recording. Tentu dengan penyesuaian seperlunya.
:p

Here the voice. Click.





Yogyakarta



Zulfin Hariani
130320150141


Komentar