DAY 1 Creation Festival

 Assalaamualaikum warrahmatullahi wabarrakaatuh 

Kali ini aku mau cerita tentang hari pertama dari rangkaian acara Creation Festival.

Sebelumnya, kita flashback dulu ke beberapa jam sebelum keberangkatan yah. Hehe. Jadi ceritanya, surat peminjaman mobil kampus yang rencananya akan kami gunakan untuk berangkat ke Solo sudah di-ACC oleh pihak jurusan, hanya saja belum terkonfirmasi dengan Pak Supirnya. Kami ke Dekanat, namun Pak Dekan dan wakilnya sedang padat acara, mereka tidak di tempat. So, Sekretaris Jurusan kami mengusahakan untuk mengkonfirmasi langsung ke supirnya, but still not responding hingga beberapa jam dari waktu yang telah kami tentukan untuk berangkat tiba. Sedang aku, saat itu masih ada kelas. Yes, di jam-jam menuju keberangkatan aku malah ada kelas Metode Penelitian Komunikasi 2 dan Semiotika Pesan, kita singkat MPK 2 aja ya. Sudah aku pertimbangkan sih, jadinya emang udah packing dari semalam, cuman, kalau kemungkinannya kita tidak jadi pakai mobii kampus, kan harus nyari tiket kereta sejak jam 15:00 tadi tuh. Sedang aku masih kelas hingga 16:30. Nah lho.

Rencana awal, kita berangkat pukul 17:00 pakai mobil kampus. Untung saja di menit-menit terakhir, Adam membawa kabar baik bahwa mobil kampus udah ready to use for Antariksa. YEAH! Pak Supirnya on time banget, aku masih ngeprint surat izin, beliau sudah di parkiran Fisipol. Kabar buruknya, printer tempat aku ngeprint waktu itu error parah. Ada 5 komputer dan 3 printer, sudah aku cobain semua. Tapi pas banget giliran aku yang ngeprint malah error. Teman-teman sudah pada ngumpul, mereka ngesemes, nelpon, dan nge-PING! Biar aku buruan datang. Weslah aku ga jadi ngeprint dan buru-buru balik kos ngambil tas. Alhasil, jaket almamater ketinggalan. Akibat buru-buru itu pun, setibanya aku langsung diputuskan berangkat saja. Diah yang sedang on the way bawain Titin almamater juga jadi balik lagi ke kosannya. Sorry to Diah. Rencananya, aku dan Titin mau pinjem almamater UMS ajalah kalau gitu, kan sama. Hanya saja, kami tak merealisasikan rencana apalah-apalah itu. Yosh!

So, special thank’s for Ketua Prodi Ilmu Komunikasi UMY, Pak Haryadi Arief Nuur Rasyid, S.IP, M.Sc dan wakilnya Pak Zuhdan Aziz, S.IP., S.Sn., M.Sn atas kepercayaan kepada kami dan memfasilitasi penuh kebutuhan A hingga Z kami selama 3 hari di Solo. Tanggal 24-27 Maret termasuk tanggal-tanggal tipisnya kocek anak kos. Akhir bulan. Hehe. Thank’s to Mas Krisna Mulawarman, S.Sos., M.Sn sebagai Pembina kami, yang rela menyempatkan ‘mengurus’ kami di sela kesibukannya yang luar biasa. Tanpa Mas Kris, kami apalah atuh. Thank’s to Antariksa yang saling mendukung satu sama lain. Thank’s to Rizca yang nganterin aku ke kampus. Hehe.
Eh, bukannya ucapan terimakasih biasanya ada di ending yah?

Terserah aku dong ya :p

Lanjut.

Kami ambil kaos dulu sebelum berangkat. Aih, jadi untuk usaha mendapatkan kaos pun ada kisahnya lho. Ceritanya, kami ingin buat kaos sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Namun karena kesibukan yang selalu menyisakan waktu luang di jam-jam tokonya tutup, kami tidak dapat langsung memesan kaos. Padahal, kabarnya si Tyo punya voucher discount gitu juga deh di Kedai Digital. Demi mematuhi konsep, H-1 keberangkatan aku dan Titin mengitari Jogja kota suka-suka untuk mencari tempat pembuatan kaos yang bisa jadi hanya dalam waktu sehari dan bisa buat 7 kaos aja. Iklim jogja bulan Maret membuat kita pakai-lepas mantel terus-terusan, seperti biasa. Terhitung 6 tempat pembuatan kaos yang kami temui rata-rata mengaku kalau pesanan mereka udah full untuk pembuatan kilat, ada juga yang bilang ga bisa gegara pemesanan minimal haruslah 20 buah, hingga ada pula alasan alat cetaknya rusak. kesemuanya nyaris memutuskan asa kami. Rekomendasi tempat dari teman-teman lainnya sama saja, nihil. Hingga akhirnya di jalan pulang dekat Alkid, kami menemukan sebuah toko yang nyaris tutup. Iseng-iseng masuk, eh ternyata disanggupkan walau dengan harga yang lebih mahal karena mendadak dan waktu kerja mereka yang seharusnya sudah selesai menjadi lembur. Finally, kita sepakat ambil jam 5 sore di hari keberangkatan itu.

Singkat cerita, perjalanan ke Solo cukup bikin bokong pegal. Menepi sejenak untuk istirahat sholat dan beli camilan, kemudian lanjut  terus sampai Hotel Bintang. Itu hotel rekomendari dari LO kami, Mbak Citra, yang katanya letak hotel tersebut tepat depan kampus. Sampai di Hotel, auranya beda. Di lihat dari namanya aja, rada familiar gitu deh sama nama minuman. Itu lho, minuman semacam itu lho. Nah, itu.

Namun atas nama letih selama perjalanan, kami putuskan langsung pesan 2 kamar dan bergegas untuk naik lift menuju lantai 3. Aku ingat, kamar 205 dan 207. Aku teringat surat izin yang belum terurus. Untung ada Siska, teman sekelasku semenjak semester awal. Cewek Padang ini aku mintai bantuan untuk ngeprint dan menyampaikan langsung ke dosen pengampu mata kuliah Produksi dan Media Public Relations. Dia menyanggupi. So, special thank’s juga buat Siska. Bisa tenang deh.

Kamar kami yang cewek lebih luas daripada yang cowok. Padahal harganya sama. Kamar seharga Rp 150.000 per malam cuman sisa dua ini. Jadilah kamar kami sebagai basecamp. Lumayan komplit juga kamarnya, cerminnya gede memenuhi dua sisi tembok, kamar mandinya gede dan bisa buat rebus mie (baca: ada air panasnya.red). Bersih juga, tiap hari seprai, selimut, handuk diganti. Ada TV dan air mineral juga. Cuman, ACnya agak aneh. Gimana gitu deh, udah tua kalik. Setelah laporan sama LO kami dan ngerekues setrikaan, kegiatan pertama kami waktu itu adalah ‘nyari makan malam’. Depan hotel ada burjo, firasatku bilang untuk beberapa hari kedepan kita bakal sering mampir di burjo ini. Dan itu ngga meleset. Haha. Entah di Jogja, entah di Solo, makannya tetap burjo. Kurang keren apa lagi cobak? Hal kocak pertama yang terjadi malam itu adalah, sebelum turun ke lantai 1, liftnya baik-baik saja untuk menampung 5 jiwa anak Antariksa. Nah, sepulang ngeburjo? Tit tit tit tit tit tit, over capacity! Bruakakakakak. Asli itu moment absurd banget. Liftnya tahu aja kalau uda nambah nasi telor di masing-masing perut kita.

Hari itu kita sadar. Adam lupa bawa baju batik (dresscode untuk tour), aku lupa bawa jarik, dan blazer Fathan menyerupai jaket. Padahal ketika ngumpul terakhir di kontrakan Adam yang ditemani lampu yang hidup-mati-hidup-mati hingga lewat tengah malam waktu itu, udah kita list semua untuk keberangkatannya. Duh. Untungnya kami percaya kalau setiap ada kesusahan, selalu ada kemudahan. Yes, konsep kami ubah, dan batik bisa diakalin dengan minjem di Mbak Iis. Hehe. Mbak Iis ini panitia Creation yang ramah banget. Duh, karakteristik orang bergolongan darah O banget dah pokoknya. Rame banget dia orangnya.

Setelah dinner di burjo—biar kedengeran keren, kami diskusi kecil untuk persiapan besok pagi. Rerata kondisi perut kami kembung masuk angin semua malam itu, kami putuskan untuk istirahat saja untuk kemudian bersiap untuk seminar pertama di esok hari.

Bagaimana keseruan di hari seminar dan tour ala Creation Festival?

Tunggu postingan selanjutnya yah :D



Wassalaam


Info BONUS:

logo antariksa, disign by Fathan | via masihnyata.com


Sebelum berangkat ke Solo, ada beberapa hal—selain ujian, yang harus diurus. Seperti:


persiapan Ngobrol Bareng ANTV | via masihnyata.com
RAKER KOMAKOM  | via masihnyata.com
nikahan Bang Tomo dan Mbak Inggit | via masihnyata.com
keluarga besar Ikom Radio di Nikahan Bang Tomo dan Mbak Inggit | via masihnyata.com

dan masih begadang nugas di Omah Lodhong sampe dianya tutup demi internet gratis | via masihnyata.com


Dan baru baru ini aku ada cerita tentang ‘Donor Darah’, tunggu artikelnya di OLARV yah :D

wawancara sebelum donor darah | via masihnyata.com


Yogyakarta




Zulfin Hariani
050420151251


Komentar