Flashback

Assalaamualaikum, Ramadhan 1436 Hijriah.

Alhamdulillah diberikan kesempatan untuk dapat menjalani ibadah di Ramadhan tahun ini.

Alhamdulillah banget, mengingat ada beberapa saudara terdekatku yang diberikan kesempatan beribadah hanya sampai Ramadhan tahun lalu. Semoga damai di sisi Allah SWT, untuk almarhumah Kak Nely dan Mama Eyak. Wanita-wanita hebat terdekatku, yang beberapa waktu belakangan sempat membuatku nyaris roboh dan merengek ingin pulang. Kak Nely di hari Jumat, kemudian 4 hari setelahnya Mama Eyak pasca ia datang menjenguk Kak Nely. Benar-benar cobaan yang hebat.

Sometimes, life feels like coming worse. But all I know is I am still alive.

Pernah merasakan kehilangan orang-orang yang menyimpan kenangan masa kecil hingga dewasamu dalam waktu yang berdekatan? Aku pernah, dan itu rasanya.. subhanallah banget aku masih bisa tersenyum sampai hari ini.

Ramadhan tahun ini agak berbeda. Entah bagaimana, rasanya seperti aku sangat takut kehilangan sesuatu yang padahal bukan milikku. Banyak yang mulai berubah. Embah mulai lupa suaraku di telepon, lalu suara mama, bapak, dan bibi juga terdengar lebih berat di telepon, aku curiga mereka semakin menua. Terakhir kudengar juga berita bahwa pamanku divonis suatu penyakit oleh dokter yang memperkirakan bahwa ini adalah Ramadhan terakhirnya. Berita itu sungguh meretakkan arangku yang pernah membara, bagaimana tidak? kami sangat mengandalkan beliau. Suasana yang berbeda lainnya yaitu aku bersama kedua adikku—Nini dan Omen, menjalani hari pertama Ramadhan di tanah rantauan. Mama sendirian di rumah, sehingga bapak mulai lebih sering menelepon mengenai kepulangan kami yang seharusnya lebih cepat, beliau khawatir jika terlalu sering meninggalkan mama di rumah, ia mulai letih bolak-balik Selong-Mataram hampir setiap hari di tengah malam dan harus berangkat lagi di pagi hari.

Aku memikirkan.

Aku sungguh memikirkan.

Hidup berjalan dan berubah setiap hari. Sekarang aku sudah semester 6 dan akan memasuki semester bebas teori. Terkadang, aku lupa mengenai apa saja yang telah aku lalui, pikiranku kosong. Jika tidak ada teknologi tersebut foto, mungkin jariku tidak bisa dipaksa otak untuk mengetik saat ini. Foto mengingatkanku pada banyak hal, ia mampu merekam apa yang pernah aku lihat secara nyata, itu mengapa aku begitu menyukai fotografi dokumenter. Setelah membuka album foto beberapa menit lalu, rasanya ingin sekali menuliskan sesuatu.

Ramadhan kali ini, aku ingin menjadi lebih baik dari aku di masa lalu. Mengapa? Karena rasanya malu sekali. Sungguh malu pada diri sendiri yang hanya sadar bahwa itu yang seharusnya dan itu yang tidak seharusnya. Aku ingin berdamai dengan diriku sendiri, aku ingin melakukan hal-hal yang kupikirkan seharusnya itu untuk dilakukan sekarang.

Seorang yang kuajak diskusi belakangan hari mengatakan untuk memulai dengan melembutkan hati. Ia katakan bahwa ikhlas adalah sebuah kunci, maka dengannya bahasa akan turut melembut. Berangsur akan memupuk kepekaan terhadap sesama. Jangan pernah menyalahkan siapapun atas kelalaian kita, introspeksi diri lebih menyehatkan rohani. Ia juga bilang bahwa bulan Ramadhan selayaknya Madrasah umat muslim selama 1 bulan. Ia menuntun kita untuk memakmurkan masjid dengan sholat berjamaah dan membiasakan untuk beribadah terus-menerus. Aku sependapat, dan mulai berpikir mengenai mereka yang merasa ‘biasa saja’ dengan hadirnya bulan Ramadhan ini. Golongan pertama yang mungkin merasa ‘biasa saja’ itu kuperkirakan mereka yang tak terlalu peduli dengan kewajiban. Ia tak takut dosa karena memang tak pernah melihat dosa. Merasakan Ramadhan sama seperti hari-hari sebelumnya, maka ia tak melakukan hal yang istimewa. Kemudian golongan selanjutnya adalah mereka yang terbiasa taat kepada Allah SWT. Mengapa? Karena setelah kupikir, ketika kita ‘terbiasa’ untuk taat, kita berkemungkinan lupa mengapa kita taat. Astagfirullah. Sama halnya dengan ‘terlahir islam’ karena orangtua kita adalah muslim, aku khawatir karena bisa jadi mereka tidak memahami apa yang sedang mereka kerjakan, sama halnya dengan anak-anak TPA di masjid depan kosku, mereka mengaji namun tidak memahami apa yang mereka baca.

Ada sesuatu yang hakiki, yang untuk mendapatkannya dibutuhkan kesadaran penuh, bukannya suatu tindak yang sia-sia ataupun kurang maksimal. Di usia sekarang, sudah seharusnya menyadari dan mengejar hal yang hakiki itu.

Lulus di madrasah Ramadhan kali ini harus beda. Keberlanjutan tiap ajarannya semoga menimbulkan efek nagih sampai hari-hari selanjutnya. Let’s move up! Be better!

Selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, Fifin.





Yogyakarta


Zulfin Hariani
200620150204




Komentar