Memory Block

Istilah itu belakangan ini menghantuiku.

Pernah dengar?

Memory block maksudnya kesengajaan yang dilakukan oleh seseorang untuk memblock ingatan, dalam pengertian sederhana, menghapus ingatan dengan sengaja.

Bisa?

Bisa banget.

Akhirnya, aku menemukan istilah yang digunakan orang-orang dalam hal yang sering aku lakukan.
hidup itu unik, dengan ‘hanya hidup’ saja adalah hal yang sangat unik, menurutku. Menjalani hidup seperti bianglala yang berputar namun tetap di tempat, hidup seperti roda yang berputar sembari berpindah, atau hidup seperti lampion yang indah dalam gelap-meninggi-lalu hilang dalam pekat.

Hidup benar-benar unik.

Hari ini, aku ingin berterimakasih pada segala memori yang telah aku block. Jujur, aku benar-benar lupa. Bagaimana persis awal-proses-hingga akhirnya. Beberapa teringat, namun tak berasa lagi. Aku menemukan ‘harta karun’ (lagi-lagi) dalam hardisku malam ini, tulisan-tulisan, video, dan foto-foto menimbulkan kesan ‘ini yang buat aku?’.

Memory block benar-benar berhasil di otakku. It’s surely works.

Walau lupa, aku tetap ingin berterimakasih. Kepada segala warna yang pernah ada di jejak yang kutinggalkan di belakang—mungkin sudah tersapu ombak, angin, hujan, entah. Terlihat jelas di harta karunku ini bahwa dulu aku orang yang (berpikir) berbeda, aku lupa entah apa yang memutar kemudinya hingga aku tak tahu alasannya sampai pada tahap ini.

Terimakasih juga kepada Bibiku, yang semalam menelepon dan memberikan petuah sederhananya—yang mampu mengguncang memori bawah sadarku. Ah, wanita pembaca pikiran itu, ia adalah hardisk eksternal terbesar yang menyimpan segala memori dalam perjalanan hidupku.

Sekarang, aku merasa telah melupakan banyak hal (lagi). Pertanyaan yang ingin kujawab pada diriku sendiri adalah, “apakah semua hal—sebut saja—menyebalkan harus diblock?”.

Menyebalkan yang kumaksud adalah sesuatu yang lebih menyebalkan dari hal termenyebalkan yang kalian pikirkan dalam kategori menyebalkan.

Entah, rasanya tak baik untuk otak dan segala komponen dalam diriku jika tidak memblocknya. Mungkin otakku bisa pecah, jantungku bisa meledak. Semenyeramkan itu, rasanya, mungkin.

Jadi, sengaja?

Iya, sengaja.

Memang.

Thank you for being there, thank you for just being alive. All of you guys are so big in front of my eyes although it just as memory blocked.





Yogyakarta


Zulfin Hariani
280620150255


Komentar

Posting Komentar