huruf kecil 6

masih tentang aku, kamu, dan diam-diam
masih tentang hari-hari perjumpaan kita
yang terlihat biasa dan wajar
sama seperti bagaimana orang lain menjalani harinya

merasakan kamu datang di balik pintu
lalu mengetuk berulang-ulang
artinya, aku harus belajar membuka pintu terkunci
yang engselnya patah entah sejak kapan

ada pintu baru yang satu-satu kuncinya
kau berikan padaku
kau katakan boleh kusimpan ataupun buang
: semauku

lalu kau mulai selipkan percakapan-percakapan yang menjelma
bahwa nyatanya kita tak saling berhak melarang pergi
sukar memungkiri rasa terlampau bahagia, bila di sisi
semacam ingin memperjuangkan sesuatu bersama
sadar, seperti selamanya merasa tak pantas memulai
kemudian gelisah sebelum tidur mencari kabar
kita, saling menunggu dalam diam

ada ingatan yang berputar-putar
tentang sepanjang jalan yang pernah kita lewati
ia adalah saksi, di pagi kita, siang kita, sore kita, malam kita
ada bisikan debar dinding-dinding bisu
sentuhan leleh embun beku di penghujung hari
tentang kayuhan sepeda tua yang kuat
semilir angin pemantang sawah, bulan, gemintang
decit engsel ayunan hijau di setiap jingga senja
gadget yang menyita perhatian tiap kita
barisan rak buku di toko
lirik lagu-lagu di tempat karaoke
wangi khas kursi empuk bioskop
pipi yang pegal, perut yang tegang, tawa tertahan

lalu, pada kilometer berapa
hati ini harus berhenti, tuan?

aku tidak pernah tahu
dan sangsi pada jawabannya—jika pun ada
aku berdoa agar curigaku tak benar saja
bahwa rasa ini akan lama
lebih lama dari selamanya

dengan mantra apa kau dapat menyulap
kupu-kupu bersayap baja, tuan?

pernah terlintas, mungkin aku tak sendirian
tentang tersadar berdiri di perbatasan, ragu dan yakin
walau segalanya terlihat buram, bahkan mudah memudar
tak peduli serela apa kita melepaskan
tetap ada satu hal yang masih terasa di genggaman




..suatu hari kau akan mengerti
…mengapa aku lebih memilih diam




yogyakarta



zulfin hariani
0259190915

Komentar