Kita Tak Pernah


Pada akhirnya, siapapun dia Si Terkuat itu: akan lumpuh bersama rindu.

Aku mendengarnya. Ketika pantai kudatangi lalu ombak menderukan suaramu. Bersama angin, gulungannya membisikkan namamu. Seharusnya aku paham dengan segenap ilmu yang kupunya, bahwa tidak hanya ada satu pantai di dunia.

Tapi, aku merasakannya. Ketika pasir menyentuh epidermisku. Ada hangatmu bercampur dengan sunset di sana. Otakku mengingat, kulitku mengingat. Seolah pernah ada jejakmu yang terhapus ombak di bawah telapak kakiku.

Sekali lagi, aku melihatnya. Ketika sepasang muda-mudi berlarian memecah ombak. Ada bayang kita di sana. Ada pekikkan yang bersahutan, tawa yang lepas, percikan air asin yang nakal—menyentuh ujung bibir tiap kita.

Padahal detik, jam, hari, tahun, telah banyak berlalu. Tapi apa yang kurasa tiap melihat pantai, adalah kamu. Itu selalu berulang, hingga membawaku ke batas ambang terbiasa.  

Karena hari ini, aku melihat hamparan kebebasan bersama karang-karang menjulang: membawaku terbang.


Apa kau pernah melawan gravitasi di atas deru ombak?

Aku pernah, dan kurasa kita tak pernah. Itu mengapa aku rasa cukup sampai di sini saja, kisah pantai kita.





..dan pada akhirnya, siapapun dia Si Terkuat itu: akan lumpuh bersama rindu, dan bangkit kembali karena percaya pada kesempatan terakhir.



location: Timang Beach | via masihnyata.com




Yogyakarta



Zulfin Hariani
031020150135

Komentar